Dampak kebijakan nasional impor susu dan keunggulan komparatif usaha ternak sapi perah di Jawa Barat
SUNANDAR, Nandang, Prof.Dr.Ir. Sri Widodo, MSc
2001 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianPenelitian Analisis Keunggulan Komparatif Usaha Temak Sapi Perah di Jawa Barat dilakukan untuk mengetahui dampak kebijakan impor susu bagi peternak domestik dan keunggulan komparatif usaha ternak sapi perah di Jawa Barat. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung dan Garut dari 8 Maret sampai 5 Mei 2001 dengan menggunakan metode survey. Petemak dikelompokan berdasarkan pemeliharaan induk produktif Pola rakyat adalah peternak yang memelihara betina produktif kurang dari 7 ekor (unit ternak), pola rekomendasi kredit adalah kelompok peternak yang memelihara induk produktif antara 7-9 ekor (unit ternak), dan pola perusahaan adalah petemak yang memelihara induk produktif minimal 10 ekor (unit ternak). Survey dilakukan terhadap 203 responden yang terdiri dari 122 orang peternak pada pola rakyat, 51 orang peternak pada pola rekomendasi kredit dan 30 orang peternak pada pola perusahaan. Analisis tingkat proteksi efektif (TPE) digunakan untuk mengetahui dampak kebijakan, dan analisis biaya sumber daya domestik (DRC) untuk mengetahui keunggulan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara fmansial usaha ternak sapi perah di Jawa Barat telah menguntungkan. Secara ekonomi usaha ternak sapi perah yang memberikan keuntungan adalah pola rekomendasi kredit dan pola perusahaan, sementara pola rakyat tidak memberikan keuntungan. Usaha ternak sapi perah di Jawa Barat tidak memperoleh insentif ekonomi dari kebijakan impor susu nasional karena kondisi makro ekonomi untuk Tahun 2000 yang menjadi tahun dasar penelitian (Aktual : US S I = Rp 8.512,28 dan SEI?: US S 1 = Rp 8.526.22) memberikan dava saing yang tinggi sehingga tidak memerlukan proteksi dari pemerintah. Kebijakan yang ada efektif pada saat US S I = Rp 6.820,98. Hasil analisis keunggulan komparatif menuntukkan bahwa usaha ternak sapi perah di Jawa Barat memiliki keunggulan komparatif sehingga layak untuk diusahakan. Keunggulan komparatif usaha ternak sapi perah sangat sensitif terhadap kurs nilai tukar rupiah (US 5), harga susu, dan harga input asinu. Usaha ternak sapi perah kehilangaan keunggulan komparatif pada saat kurs nilai tukar Rp 8.100.00 untuk acting US S 1 Melihat tingkat keuntungan linansial dan keunggulan komparatif yang cukup baik, usaha ternak sapi perah merupakan kegiatan ekonomi yang layak untuk dikentbangkan. Pengembangan usaha ternak sapi perah hares diarahkan kepada pola rekomendasi kredit dan pola perusahaan. Artinva pengembangan usaha ternak sapi perah hares diarahkan kepada upaya-upaya yang bersilat meinperbesar skala pemilikan ternak minimal 7 ekor henna produktif per peternak. Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan tarif impor yang lebih tinggi dari 5% jika nilai tukar rupiah menguat sampai tingkat Rp 8.100.00 untuk settap US S 1. Hal ini masih mungkin dilakukan karena masih relevan dengan ketentuan pengurangan tarif komoditas pertanian yang mengijinkan tarif impor sampai 10% pada saat pelaksanaan kesepakatan GATT, NAFTA, dan APIA.
The objective of this study is to investigate the impact of milk import regulation to the domestic farmer and the comparative advantage of dairy cattle farm in West Java. The study was conducted in Bandung and Garut regencies from March 8th until May 5th 2001, used survey method. The farmers were grouped based on the raise of productive female cattle. Traditional Pattern is pattern of raising productive female cattle less than 7 head (animal unit), Rekomended Pattern is pattern of raising productive female cattle between 7-9 head (animal unit), and Enterprise Pattern is pattern of raising productive female cattle minimal 10 head (animal unit). There were 203 sample respondents consist of 122 Traditional Pattern farmers, 51 Rekomended Pattern farmers and 30 Enterprise Pattern farmers. The Effective Protection Rate Analysis was done to know the impact of the regulation, and Domestic Resource Cost Analysis to know the comparative advantage. The result showed that dairy cattle farm in West Java is financially profitable. Dairy cattle farms of Rekomended Pattern and Enterprise Pattern were economically profitable, while Traditional Pattern was not profitable. Dairy cattle farm in West Java did not obtain economic incentive of national milk import regulation due to macro economic condition at 2000 which year based analysis (Actual Exchange Rate : US $ 1 = Rp 8,512.28 and SER : US S I = Rp 8,526.22 ) at the time study was done gave a high competitive ability so it did not need government protection. The existence regulation was effective when US S I — Rp 6,820.98. The result of comparative advantage analysis showed that dairy cattle farm in West Java has comparative advantage. Comparative advantage of dairy cattle farm was very sensitive to exchange rate (US 5), milk price, and imported input. Dairy cattle farm has lost comparative advantage at the exchange rate of Rp 8, 100.00 for US S 1. Considering the financial profit and the comparative advantage, the dairy cattle farm is feasible to he developed_ Dairy cattle farm development must he directed to Rekomended Pattern and Enterprise Pattern This means that the dairy cattle farm must be enlarged to 7 head minimum of productive female cattle for each farmer. The government must issue an import tariff regulation which higher than 5% if the rate of exchange value increase into level Rp 8,100.00 for US $ I. This might to be done because still relevance with tariff reducing policy of agricultural commodity that still allow import tariff up to 10% according to GATT, NAFTA and AFTA.
Kata Kunci : Kebijkan impor, susu, keunggulan komparatif, sapi perah, import regulation, milk, comparative advantage, dairy cattle