Laporkan Masalah

HUBUNGAN ANTARA PENGRAJIN BATIK TULIS DAN PENGEPUL BATIK TULIS (Studi di Dusun Tanuraksan, Desa Gemeksekti, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen)

AKBAR BAHTIAR, Drs. Soetomo. M.Si.

2013 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Batik tulis, tentunya sudah tidak asing didengar orang pada saat ini. Kain batik tulis terkenal dengan kain unik dan mempunyai harga yang mahal. Namun, harga batik tulis yang mahal tersebut tidak serta merta membuat pengrajin batik tulis menjadi sejahtera begitu saja bahkan penghasilan yang didapatkan bisa dianggap kurang dari cukup. Hanya sekitar Rp450.000,00 saja yang didapat oleh pengrajin batik setiap bulannya. Penjualan batik tulis dari pengrajin umumnya melalui pengepul batik, sehingga penjualannya terkadang jauh lebih murah dari harga pasaran. Namun, pengrajin batik tulis terlihat seperti tidak berdaya dengan keadaan dan tetap menjual kepada pengepul batik tulis, dari hal inilah muncul pertanyaan sebenarnya bagaimana pola hubungan pengrajin batik tulis dan pengepul batik tulis? Penelitian ini dilakukan di dusun Tanuraksan, Desa Gemeksekti, Kecamatan Kebumen. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang didasari karena dalam penelitian ini ingin mengetahui bagaimana hubungan yang terjadi antara pengrajin batik dan pengepul batik tulis dan dinamika yang terjadi di dalam hubungan tersebut. Teori yang digunakan adalah teori dari Karl Mark tentang eksploitasi. Hasil penelitian yang didapat diketahui setidaknya ada dua macam bentuk hubungan antara pengrajin batik dan pengepul batik, yang pertama hubungan jual beli dan hubungan buruh dengan majikan. Dalam hubungan tersebut nampak adanya hubungan eksploitasi terutama pada hubungan buruh dan majikan. Dalam hubungan pengrajin batik dibuat terikat dengan pengepul batik dengan cara pemberian bahan baku batik kepada pengrajin secara cuma-cuma, tetapi dari pihak pengrajin batik tersebut harus menjual kembali hasil kain batiknya kepada pengepul batik tersebut. Adanya hal tersebut membuat pengrajin sulit berkembang karena tidak dapat memasarkan produknya langsung ke konsumen yang mempunyai harga lebih tinggi daripada menjual kembali ke pengepul batik.

Batik , certainly familiar to hear people today. Famous batik cloth with a unique fabric and has a high price. However, the price of an expensive batik is not necessarily making batik craftsmen to prosperity for granted even be considered earned income is less than adequate. Only about Rp450.000 , 00 are obtained by batik craftsmen each month. Sales of batik batik artisans generally by collectors , so its sales are sometimes much cheaper than the market price. However, looks like batik craftsmen powerless to circumstances and still sell to collectors batik, than this is actually the question arises how the pattern of relationships batik craftsmen and collectors batik ? This research was conducted in the village Tanuraksan, Gemeksekti Village, District Kebumen. This study used a qualitative research method that is based on this study because the want to know how the relationship between batik and batik collectors and the dynamic in the relationship. The theory used is from Karl Marx 's theory of exploitation . Known research results obtained are at least two kinds of relations between batik and batik collectors, the first relationship selling and labor relations with the employer. In this relationship the relationship of exploitation especially apparent in the relationship between workers and employers. In connection made batik batik bound by collectors by providing raw materials to the artisans batik freely , but of the batik makers must sell back the results to the collectors batik cloth batik. The existence makes it difficult to develop because the craftsmen can not market their products directly to consumers who have a higher price than selling back to collectors batik.

Kata Kunci : Pengrajin Batik Tulis, Pengepul Batik Tulis, Eksploitasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.