Laporkan Masalah

Budaya Sepeda Motor di Kalangan Pemuda Desa; Studi Kasus di Dusun Blado, Gunungkidul

ELVINA HANDAYANI, Dr. Bambang Hudayana, M.A.

2013 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Pemuda adalah salah satu sosok yang berada pada masa ketidakpastian. Pada masa transisi terjadi suatu krisis identitas yang ditunjukkan dalam berbagai macam bentuk. Salah satunya yaitu pencitraan diri melalui gaya bersepeda motor. Hal tersebut tidak hanya terjadi pada pemuda kota. Namun, terjadi pula pada pemuda yang berada di desa terpencil. Pada penelitian ini, penulis mencoba membahas mengenai budaya baru yang terjadi pada Pemuda Dusun Blado, Kecamatan Giritirta, Kabupaten Gunungkidul. Yaitu budaya pemuda desa dalam menyerap gaya bersepeda motor kota. Sepeda motor adalah suatu barang baru bagi Pemuda Blado. Tahun 2006, pemuda Blado bekerja sebagai buruh di Kota Yogyakarta, Sleman dan Bantul. Semenjak itu, Sebagian besar pemuda memiliki sepeda motor karena tuntutan pekerjaan yang jauh. Dalam keseharian menuju tempat kerja, pemuda berkesempatan bertatap muka secara langsung dengan tradisi kota (budaya pop), yaitu gaya bersepeda motor. Tradisi kota itu lebih menarik dibandingkan dengan tradisi yang ada di Blado. Sehingga menarik ulur pemikiran pemuda dalam bersikap. Sebagai pemuda yang berasal dari desa, akhirnya terbawa oleh tradisi kota. Fungsi awal sepeda motor sebagai alat angkut manusia dan barang, dari satu tempat ke tempat lain, berubah menjadi sebuah alat pencitraan diri Pemuda Blado. Pemuda Blado melakukan berbagai usaha untuk dapat memiliki sepeda motor, salah satunya adalah meminta kepada orang tua dengan cara menjual sapi dan kayu. Pemuda melakukan hal itu karena ingin menunjukkan kepada khalayak umum bahwa mereka adalah pemuda desa yang dapat bertransformasi layaknya orang kota. Gaya pencitraan diri, mereka tuangkan dalam memilih merk sepeda motor atau memodifikasi bagian-bagian sepeda motor agar terlihat lebih mencolok dari yang lain. Misalnya merubah suara knalpot lebih menggelegar, mengganti velg racing motor dan merubah warna cat motor sesuai keinginan. Selain itu, pemuda berharap, dengan memiliki sepeda motor dapat memikat hati perempuan desa. Membeli sepada motor dari upah glidik menunjukkan, bahwa secara ekonomi Pemuda Blado tidak bergantung lagi dari orang tua. Dalam hal ini, sepeda motor mengalami perubahan fungsi, yaitu dari kebutuhan pokok untuk menunjang pekerjaan, berubah menjadi sebuah konsumsi sehari-hari. Konsumsi yang menjadi simbol dari identitas dirinya untuk ditonton oleh masyarakat umum.

Youth is a person who belongs in transition period. During the transition there is a crisis of identity, which is shown by various forms. One of them is imagery of theirself through motorcycle style. It is not only occured to the urban youth, but also occured to the rural youth. In this research, the writer try to understand deepthly on corcern of new culture among the youths in Desa Blado, Kecamatan Giritirta, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. It tells about youths culture in the way of using a motorcycle. Motorcycle is a new thing for Blado Village. In the last 2006, Blado’s youth work as the labour (glidik) in Yogyakarta City, Sleman and Bantul. Consequently, most of them have motorcycles because of the distance. In their daily activities, Blado’s Youths get an oppurtunity to face urban tradition (pop culture) directly. Pop culture which is adopted by them is manifested in motorcycle style. That culture is more interesting than riding style in their village. As a result, it influences their attitude. Finally, as the rural youths, they are influenced by the pop culture smoothly. Motorcycle initial function as tool to transport people and goods from one place to another, it is turned into a self-imaging tool Blado’s Youth. Blado’s Youth perform a variety of ways to have a motorcycle, it is asked the parents to sell the land, cows and wood. The Blado’s Youth do so, because they want to show to the public that they can transformed like urban people. Blado’s Youth pour in choosing a motorcycle brand and modify motorcycle parts to make it look more sriking than others in their self-imaging style. Their style like changed the exhaust sound more jarring, changed the racing wheels and paint colors replace the motor. In addition, by having motorcycle the girls of the village may interested of Blado’s Youth. Bought the motorcycle by using glidik’s wage, it’s show to the public if they have an independence economic. In these case, motorcycle was changing, it is from basic need the way to work into daily consumption. The consumption wich is symbolic to watched by public to look at of Blado’s Youth identity.

Kata Kunci : Pemuda Desa, Gaya Hidup, Sepeda Motor dan Citra Diri.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.