MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN INDUSTRI BATIK (Studi Mengenai Industri Batik Dusun Sukorejo, Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi)
QHOLB GINANJAR H.S, Dr. Hempri Suyatna, MSi
2014 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Sejarah perekonomian Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sektor industri kecil. Hal ini lebih dikarenakan sektor ini menjadi katup penyelamat bagi perekonomian Indonesia, terutama dalam membuka lapangan kerja dan menanggulangi kemiskinan. Tidak mengherankan apabila pemerintah akhir-akhir ini mendorong sektor industri kecil secara masif demi kemandirian pembangunan ekonomi. Pertimbangan mendasar hal ini ialah seluruh elemen, mulai dari pengusaha, tenaga kerja, hingga bahan untuk produk didominasi oleh cita rasa lokal. Adapun salah satu jenis industri kecil yang begitu kokoh menopang perekonomian Indonesia selama ini ialah industri kerajinan batik. Hal ini terlihat ketika banyak industri yang mulai terguncang akibat krisis pada Tahun 1998, industri batik masih dapat bertahan dari gilasan krisis hingga ganasnya globalisasi. Kondisi ini dapat dilihat secara nyata di Dusun Sukorejo. Daya tahan yang terbentuk harus diakui lebih dikarenakan tidak bergantungnya pada modal asing, selain itu keberfungsian modal sosial (social capital) juga menjadi faktor pendukung yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Modal sosial sendiri mencakup beberapa unsur yang saling mempengaruhi antara satu dengan lainnya. Unsur-unsur modal sosial tersebut di antaranya: kepercayaan (trust), adanya perilaku jujur dan terpercaya dalam sebuah kelompok; jaringan (network), terbentuknya kerjasama atau tindakan yang saling membantu dalam kelompok; norma-norma (norms), ditinjau dari aturan yang dipatuhi sebuah kelompok; nilai agama, diaplikasikannya nilai-nilai agama dalam kehidupan kelompok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Penelitian di lapangan untuk memperoleh data primer melalui kegiatan wawancara dan observasi. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini ada empat belas orang dengan rincian, 5 orang pengusaha batik Sukorejo, 6 orang pekerja yang bekerja dalam industri batik Sukorejo dan 3 orang dari pihak pemerintah. Dinamika modal sosial di industri batik Sukorejo terdapat 3 fase perkembangan, yakni pada masa awal dirintis Tahun 1980-an, masa krisis Tahun 1998 dan pasca krisis yaitu pada Tahun 2007 sampai saat ini Tahun 2013. Trust dan jaringan usaha batik baru mulai terbangun secara baik pada Tahun 1980-an, sedangkan norma yang berlaku dalam usaha batik sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat. Pada tahun 1998, kepercayaan cenderung melemah karena adanya krisis ekonomi yang membuat pengusaha batik cenderung hanya memikirkan faktor ekonomi usaha mereka saja demi kelangsungan hidup. Tahun 2007 sampai tahun 2013, kepercayaan dan jaringan usaha semain kuat karena adanya interaksi yang terjalin semakin kuat dan mitra usaha yang terus berkembang. Hal ini dibuktikan dengan omset usaha yang meningkat paska krisis.
Indonesian economic history can not be separated from the small industrial sector. This is because the sector is becoming more safety valve for the Indonesian economy, especially in open employment and reduce poverty. Not surprisingly, when the government recently pushed the small industrial sector for the sake of independence massive economic development. This is a fundamental consideration all elements, ranging from employers labor, materials for the product to be dominated by local tastes. As one kind of small industries which are so sturdy prop up the economy during the Indonesian batik industry is. This is seen when many industries are starting shaken by the crisis in 1998, the batik industry can still survive the crisis until ferociously grinding globalization. This condition can be viewed in real Sukorejo Hamlet . Endurance is more formed to be recognized because there is no dependence on foreign capital, in addition to the functioning of social capital ( social capital ) is also a contributing factor that should not be underestimated. Social capital itself includes several elements that mutually influence each other. The elements of social capital include: confidence (trust ), the presence of an honest and reliable behavior in a group ; networks ( network), the formation of mutual cooperation or action that helps in the group ; norms ( norms ), in terms of the rules are adhered to a group ; religious values, applied his religious values in the life of the group. The method used in this study is a qualitative method . The data used is primary data and secondary data . Research in the field to obtain primary data through interviews and observation. Secondary data was obtained through library and documentation . Informants in this study were fourteen people with details , batik entrepreneurs Sukorejo 5, 6 workers working in the batik industry Sukorejo and 3 people from the government . The dynamics of social capital in the batik industry Sukorejo there are 3 phases of development, which was pioneered in the early 1980s, a period of crisis and post- crisis 1998 is the year 2007 to date in 2013. Trust and new batik business networking start well waking in the 1980, while the norm in the batik business in accordance with the existing norms in society. In 1998, confidence tends to weaken because of the economic crisis making batik entrepreneurs tend to only think about their business just economic factors for survival. In 2007 until 2013, the trust and strong business network semain due to the stronger interaction that exists and continues to grow its business partners. This is evidenced by the increased business turnover post-crisis.
Kata Kunci : Industri Kecil, Perkembangan Industri Batik, Modal Sosial