Laporkan Masalah

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG DARAH AYAM UNTUK MENINGKATKAN KANDUNGAN NUTRIEN SLUDGE BIOGAS SEBAGAI BAHAN SUBSTITUSI DEDAK PADA MEDIA JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus florida)

PALUPI RATNANINGSIH, Ir. Ambar Pertiwiningrum, M.Si, Ph.D.

2014 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

tepung darah ayam pada sludge biogas feses sapi potong sebagai bahan substitusi dedak pada media jamur tiram terhadap kandungan nutrien sludge dan media jamur serta produktivitas jamur tiram yang dihasilkan. Sludge biogas dikeringkan dibawah sinar matahari selama 3 hari sampai berbentuk menyerupai tanah. Selanjutnya dibagi menjadi 3 sehingga didapatkan P0 tanpa penambahan tepung darah, P1 dengan penambahan tepung darah (1%), dan P2 (3%). Selanjutnya P1 dan P2 dicampurkan kedalam bahan penyusun media jamur dengan kontrol media jamur komersial (dedak 15%) dan dilakukan sebanyak 3 ulangan. Masing-masing perlakuan diuji kandungan kimianya meliputi kadar air, bahan organik, serat kasar, C-organik, N-total, P-total, K-total, dan rasio C/N. Parameter yang diamati antara lain mulai umur panen, berat segar, jumlah tudung, panjang tangkai dan diameter tudung. Data diuji menggunakan analisis variansi acak lengkap pola searah dan perbedaan rata-rata diuji menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan paling baik yaitu pada media jamur P2 dengan penambahan sludge dan tepung darah ayam (3%) yang kandungan nutriennya meningkat pada variabel karbon organik, bahan organik, nitrogen, P2O5, dan K2O serta produktivitas jamur tiram yang dihasilkan meningkat pada variabel berat basah sebesar 50,73% dan diameter tudung sebesar 20,80%.

The aim of this research was to determine the addition of the chicken blood meal on the sludge biogas of the beef cattle faeces as bran substitute on the white oyster mushroom media of the sludge biogas nutrient, mushroom media, and the white oyster mushroom productivity. The biogas sludge was dried under the sunlight for 3 days. The sludge was divided into P0 without chicken blood meal, P1 with the addition of the chicken blood meal (1%), and P2 with the addition of the chicken blood meal (3%). P1 and P2 were mixed on media ingridients with commercial oyster media control (15% bran) of 3 replication. Each treatment was tested with chemical analysis (water content, organic matter, crude fiber, C-organic, N-matter, P-matter, K-matter, and C/N ratio). Parameters observed were harvesting period, fresh weight per champignon, number of umbrella per cluster, stalk length, and diameter of umbrella. The data were analyzed using completely randomized design of variance pattern and differences between mean were tested using Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). The result showed that the best treatment was mushroom media on P2 with the addition of the chicken blood meal (3%) with nutrient increased on the organic matter, C-organic, N-matter, P2O5, and K2O. The white oyster mushroom productivity was increased on the fresh weight per champignon of 50,73% and diameter umbrella of 20,80%.

Kata Kunci : sludge sapi potong, tepung darah ayam, jamur tiram putih.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.