Laporkan Masalah

APADTASI MASYARAKAT TERHADAP KENAIKAN MUKA AIR LAUT DI KAWASAN PENGEMBANGAN WATERFRONT KOTA SURABAYA

MUHAMMAD GIRI HASAN BESARI, Alia Fajarwati, S.Si., M. IDEA

2014 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH

Kenaikan muka air laut merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim global yang mengancam kondisi sosial,ekonomi dan lingkungan di kota pesisir. Fenomena ini menjadi faktor penting dalam pengembangan Kota Surabaya yang berorientasi pada pengembangan waterfront city seperti yang tertuang dalam salah satu produk kebijakan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Kota Surabaya 2011-2030. BAPPENAS memproyeksikan bahwa kenaikan muka air laut di Kota Surabaya sebesar 0,7 cm/tahun dengan level land subsidence sebesar 2,5 cm/tahun, membuat Kota Surabaya rentan terhadap bencana akibat kenaikan muka air laut di masa depan. Di sisi lain, salah satu tantangan pengembangan waterfont Kota Surabaya yang berkelanjutan adalah kapasitas serta strategi adaptasi masyarakat menghadapi dampak kenaikan muka air laut dan potensi kerugian yang ditimbulkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kapasitas, persepsi, respon, dan strategi adaptasi masyarakat dalam menghadapi banjir pasang air laut (rob) di Kawasan Pengembangan Waterfront Kota Surabaya. Sebanyak 95 rumah tangga dipilih sebagai responden berdasarkan proportional random sampling di Kelurahan Greges dan Tambak Osowilangon. Dalam penelitian ini, kapasitas adaptasi masyarakat dapat diketahui melalui household adaptive capacity index (HACI) yang terdiri atas variabel modal alam, fisik, sumberdaya manusia, sosial, dan finansial. Sementara analisis terhadap persepsi, respon, dan strategi adaptasi masyarakat menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitiatif dari hasil wawancara masyarakat, observasi wilayah dan data sekunder dikumpulkan. Nilai indeks kapasitas adaptasi rumah tangga di Kelurahan Tambak Osowilangon (0,53) tidak jauh berbeda dengan indeks kapasitas adaptasi rumah tangga di Kelurahan Greges (0,50). Kapasitas modal fisik di Kelurahan Tambak Osowilangon dan kapasitas modal finansial di Kelurahan Greges merupakan kapasitas modal yang terbaik di masingmasing kelurahan. Sementara kapasitas modal alam merupakan yang terlemah di masingmasing kelurahan. Letak kedua kelurahan yang berdekatan dengan laut dianggap menjadi faktor utama risiko kedua kelurahan terhadap tergenang banjir rob. Faktor alam dan kegiatan manusia dianggap menjadi penyebab utama terjadinya banjir rob di kedua kelurahan. Rumah tangga di kedua kelurahan merasa bahwa fenomena banjir rob saat ini bukan merupakan sebuah ancaman meskipun berdampak pada gangguan kesehatan dan kerusakan fisik bangunan. Waktu bermukim yang telah lama, tempat kelahiran dan kedekatan dengan lokasi pekerjaan menjadi beberapa alasan yang paling banyak dipilih rumah tangga dalam bertahan. Rumah tangga menyebutkan bahwa prioritas strategi adaptasi adalah gotong royong kebersihan saluran drainase dan tanggul permukiman, menabung dan mempersiapkan kebutuhan logistik, serta meninggikan rumah dan atau lantai bangunan. Tindakan adaptasi yang dilakukan pemerintah saat ini masih bersifat penanganan fisik seperti peninggian jalan permukiman, pembangunan tambat labuh nelayan, revitalisasi saluran drainase, serta pembangunan pompa dan pintu air. Bantuan keuangan, infrastruktur, dan fisik dianggap dapat meningkatkan kemampuan adaptasi rumah tangga dalam menghadapi banjir rob di masa depan.

Sea level rise represent the impact of global climate change which threatening states of social, economic and environment in coastal city. This phenomenon become important factor in urban development of Surabaya which orienting on waterfront city development like decanted in one of product policy, Coastal Zone Management of Surabaya 2011-2030. Ministry of National Development Planning (BAPPENAS) projected that sea level rise in Surabaya city is equl to 0,7 cm/year with level of land subsidence is equal to 2,5cm/year, which making Surabaya city vulnerable to some of natural disaster by sea level rise in the future like tidal flood (rob). In the other hand, one of the challenge of sustainable waterfront city development in Surabaya is adaptation stategy and adaptive capacity of community face to the disaster impact by sea level rise and potential losses. This reaserch goals are to identify adaptive capatity, perception, respond, and adaptaion strategy of the community in region of waterfront city development in Surabaya to face of tidal flood (rob). Total of 95 household is selected to be respondent by propotional random sampling method in Greges and Tambak Osowilangon village. In this research, community adaptive capacity is assessed by household adaptive capacity index (HACI) which consisting of some capitals like natural, physical, human, social, and financial. Meanwhile, perception, respond and adaptation strategy of community assessed by descriptive qualitative and quantitave method from the result of interview to communities, field observation, and secondary data. The Value of household adaptive capacity index in Tambak Osowilangon is equal to 0,53, which is not far diffent from household adaptive capacity index in Greges that equal to 0,50. The capacity of physical capital in Tambak Osowilangon and financial capital in Greges are the best capacity of capital variable in each region. Meanwhile, capacity of natural capital is the worst capital in each region. Households perceived that the main causes of both region vulnerable to tidal flood inundation is location of each region which are near of java sea. In addition, They perceived that the main causes of tidal flood inundation origin both from natural and man-made behavior. Households of both research location feel that current tidal flood phenomenon is not as a threat though it caused any diseases and damaged of house material. The main identified reasons to stay in current location are leght of stay, place of birth, and nearest to workplace of respondent. Households explained that clean the channel, other drainage and repair the water gate together with neighbors, saving money and logistic stuff, and elevate floor house to restrain water entering house are adaptation strategies priority face to tidal flood. Current government’s responses to tidal flood in both regions are more physically like street elevation, drainage and other channel revitalitation,and built water gate and water pump in main river. Assistances for financial, physical, and infrastructure were perceived could increasing adaptive capacity of households in each region.

Kata Kunci : kenaikan muka air laut, banjir rob, Kawasan Pengembangan Waterfront Kota Surabaya, kapasitas adaptasi, persepsi masyarakat, strategi adaptasi.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.