Laporkan Masalah

KEMAMPUAN KEPALA PUSKESMAS SEBAGAI FASILITATOR DALAM PELAKSANAAN PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENSI DASAR (PONED) DI KABUPATEN BANJARNEGARA MELALUI KEGIATAN IN-SERVICE TRAINING

Junita Prasetyaningsih, Prof.dr. Moh. Hakimi, SpOG, MsC, PhD.

2013 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/MMPK

Latar Belakang : dalam strategi Making Pregnancy Saver (MPS), Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED) di Puskesmas menjadi salah satu output strateginya. PONED diawali dengan kegiatan pelatihan dan diikuti dengan memantau efektivitas program melalui in-service training dan pendidikan berkelanjutan. Sebagaimana program pelatihan, agar berjalan optimal diperlukan fasilitator. Kepala Puskesmas diharapkan mampu menjalankan peran sebagai fasilitator ini. Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan PONED di Puskesmas dan karakteristik yang dimiliki oleh Kepala Puskesmas dalam menjalankan perannya sebagai fasilitator in-service training. Metode Penelitian : Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Subjek penelitian ini adalah para 10 orang Kepala Puskesmas, 130 pengelola Poned yang telah atau belum mengikuti pelatihan dan Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara. Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang bersifat primer (kuesioner sikap dan wawancara mendalam) serta data sekunder. Hasil Penelitian : Puskesmas yang mengalami kemajuan dalam pelaksanaan PONED, menunjukkan bahwa ada peran yang sangat besar dari Kepala Puskesmasnya. Para kepala Puskesmas ini menunjukkan sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang fasilitator, yang diantaranya adalah sikap mendukung, memiliki pengetahuan yang memadai, mempercayai, mendampingi, menghargai, memiliki tujuan yang jelas, tegas, penuh semangat dan selalu melakukan evaluasi. Kesimpulan : Puskesmas yang mengalami peningkatan kinerja klinis PONED menunjukkan adanya sebuah proses pembelajaran sebagai organisasi pembelajar dengan menerapkan prinsip in-service training. Kepala Puskesmas memegang peran sentral dalam proses pembelajaran ini sebagai fasilitator.

Background : the Making Pregnancy Saver strategy ( MPS ) , basic emergensi obstetric neonatal care (BEONC) at the health center became one of the outputs strategy. BEONC begins with training activities and was followed by monitoring the effectiveness of the program through in- service training and continuing education . As the training program , facilitators needed to run optimally . Head of the health center is expected to perform the role of facilitator . Objective: To determine the extent to which the implementation of the health centers BEONC characteristics possessed by the Head of Puskesmas in their role as facilitators in- service training . Methods : The study was a qualitative study conducted with a case study design . The subjects were the 10 people Chief Health Center , 130 BEONC managers that have or have not attended the training and the Head of the Department of Maternal and Child Health Banjarnegara district . In collecting the data , researchers used data collection techniques that are primary ( attitude questionnaires and in-depth interviews ) and secondary data . Results: The health center is making progress in the implementation of BEONC, shows that there is a very large role of the head of Public Health Center. The head showed that attitudes must be owned by a facilitator, who is being supportive of them, have adequate knowledge, trust, assist, respect, have a clear objective, assertive, energetic and always do the evaluation. Conclusion: The Community Health Center has increased clinical performance BEONC indicate a learning process as a learning organization by applying the principles of in-service training. Head Public Health Center plays a central role in the learning process as a facilitator.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.