HUBUNGAN ANTARA ANGER EXPRESSION DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI ESENSIAL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WATES KABUPATEN KULON PROGO
Henry Surendra, Dra. Yayi Suryo Prabandari, M..Si., Ph.D
2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Hipertensi esensial merupakan penyakit tidak menular nomor 1 di Kabupaten Kulon Progo, dengan kasus terbanyak (46%) di Puskesmas Wates. Penelitian-penelitian sebelumnya menghasilkan temuan yang bertentangan terkait dengan hubungan antara anger expression dengan kejadian hipertensi esensial. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi hubungan antara anger expression (anger-in, anger-out dan anger-control) dengan kejadian hipertensi esensial pada pasien berumur 18-60 tahun. Metode penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Kasus adalah pasien yang didiagnosis menderita hipertensi esensial oleh dokter, pada bulan Januari sampai Juni 2013. Kontrol adalah pasien yang didiagnosis tidak menderita hipertensi oleh dokter, pada periode yang sama. Pengukuran anger expression dilakukan dengan menggunakan Spielberger Anger Expression Scale yang mengukur anger-in, anger-out dan anger-control. Semakin tinggi skor menunjukkan semakin tinggi tendensi dari masing-masing kategori anger expression. Analisis statistic dilakukan menggunakan uji chi square dan logistic regression dengan software STATA 12.1. Hasil: Subjek dalam penelitian ini adalah 140 kasus dan 140 kontrol. Berdasarkan analisis logistic regression, setelah mengendalikan variabel umur, jenis kelamin, stres, aktivitas fisik, obesitas dan riwayat keluarga, diperoleh hasil bahwa kelompok kasus memliki skor anger-out yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok kontrol (OR=3,94, 95% CI: 1,54-10,09). Anger-control merupakan faktor protektif terhadap kejadian hipertensi esensial (OR=0,08, 95% CI: 0,02- 0,24). Sementara itu, tidak ada hubungan yang bermakna antara skor anger-in dengan kejadian hipertensi esensial (OR=0,99; 95% CI: 0,57-1,75). Kesimpulan: Anger expression berhubungan dengan kejadian hipertensi esensial. Mengekspresikan dan mengontrol marah memiliki dampak positif bagi pasien hipertensi. Oleh karena itu, pasien hipertensi sangat perlu mendapatkan pendidikan dan konseling tentang anger management.
Background: Essential hypertension is the major non communicable disease in Kulon Progo District, with most (46%) cases seen at the Wates Health Center. Previous studies have yielded conflicting findings regarding the relationship between anger and development of essential hypertension. This study explored the relationship between anger expression styles, i.e. tendency to suppress, express or control anger, among 18-60 year old patients with essential hypertension. Methods: We did unmatched case-control study. Cases were patients diagnosed with essential hypertension from January to June 2013. Controls were patients from the same health center with other diagnoses, for the same period. Anger expression was assessed using the Spielberger Anger Expression Scale which measures three tendencies, i.e. anger-in, anger-out and anger-control. Higher scores in each scale denote greater tendency for that particular manner of anger expression. Chi-square tests and logistic regression were done using STATA 12.1 software. Results: There were 140 cases and 140 controls. Cases were more likely than controls to have lower anger-out scores (OR=3.94, 95% CI: 1.54-10.09). High anger-control scores were protective factor for essential hypertension (OR=0.08, 95% CI: 0.02-0.24). These results were significant even after adjusting for age, gender, stress, physical activity, obesity and family history of hypertension. Moreover, no significant relationship was found between anger-in scores and essential hypertension (OR=0.99, 95% CI: 0.57-1.75). Conclusions: There was a relationship between anger expression and essential hypertension. Being able to express and control one’s anger is beneficial. Hence, it would be helpful for hypertensive patients to receive counseling on anger management (control emotion). We advised the Wates Health Center to provide physician or health promotion officer who could give counseling after diagnosing hypertension.
Kata Kunci : hipertensi, anger, studi kasus-kontrol, Kulon Progo