Laporkan Masalah

Pengaruh pendidikan gizi tentang garam beryodium terhadap pengetahuan, sikap dan penggunaan garam beryodium di daerah gondok endemik di propinsi Bali

KAYANAYA, Anak Agung Gde Raka, Dra. MG Adiyanti, MSi

2001 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Penyakit gondok sekarang lazim dikenal dengan gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) merupakan penyakit yang dapat menimbulkan beban kesehatan paling besar bagi masyarakat. Mengmgat dampak yang ditimbulkan tidak hanya gondok dan kretin tetapi lebih luas lagi antara lain tingkat kecerdasan (IQ) anak yang menderita gondok 10-13,5 point lebih rendah dbandingkan anak yang normal. Salah satu cara mencegah dan menanggulangi penyakit gondok adalah dengan yodisasi garam atau garam beryodium. Program ini oleh DepKes RI telah dimulai sejak tahun 1975 tetapi hasilnya hingga saat ini belum seperti yang diharapkan. Di Bali rumah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium dengan kandungan yodium yang cukup baru 32,6%. Sedangkan tingkat nasional 65,18%. Bahkan Kabupaten Karangasem merupakan satu-satunya Kabupaten di Bali dengan katagori gondok endemik berat, dimana nunah tangga yang mengkonsumsi garam beryodium dengan kandungan yodium yang cukup hanya 20,6%. Tujuun: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengetahuan, sikap dan penggunaan garam beryodium berkualitas sesudah pemberian pendidikan gzi tentang garam beryodium antara kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Metode: Penelitian ini memilih lokasi penelitian 1 Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Propinsi Ball pada dua Desa yaitu Desa Jungutan (perlakuan) dan Desa Bungaya Kangin (Kontrol). Pada Desa perlakuan diberikan pendidikan gizi tentang garam beryodium dengan metode ceramah tanya jawab, media slide gondok, VCD tentang GAKY, contoh garam beryodium dan spanduk. Disain penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experimental) dengan rancangan pretes dan postes dengan kelompok kontrol (Cook and Campbell, 1979). Populasi penelitian adalah ibu m a h tangga dengan suami pengganti kepala keluarga pokok dalam organisasi Dmun yang tidak menggunakm garam beryodium, dapat membaca dan menulis huruf latin, berumur 5 45 tahun, pendihkan SD, dan pekerjaannya hanya sebagai ibu rumah tangga. Sampel adalah seluruh populasi yang berjumlah 34 orang baik path kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol. Untuk mencari perbedaan dari beberapa variabel sesuai tujuan penelitian &gunah;an uji t-tes pada tingkat kepercayaan 95% (a=0,05). Has& Kelompok yang mendapat pendidikan gizi memiliki pengetahuan tentang garam beryod~um lebih tinggi dibandingkan kelompok yang tidak mendapat pendidikan gizi. Kelompok yang mendapat pendidikan gizi memiliki sikap tentang garam beryodium yang sama dengan kelompok yang tidak mendapat pendidikan gizi. Kelompok yang mendapat pendidikan gizi menggunakan garam beryodium berkualitas lebih banyak dibandingkan kelompok yang tidak mendapat pendidikan gizi. KesimpuZun: Pendidikan g i z ~te ntang garam beryodium dengan metode ceramah tanya jawab, meQa slide gondok, VCD tentang GAKY, contoh garam beryodium dan spanduk dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan penggunaan garam beryodium berkualitas di nunah tangga gondok endemik

BACKGROUND: Goiter that is now called IDD (Iodined Deficiency Disorder) or Indonesian is GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium) is a disease causing big health problem in community. The effects were not only cretine and goiter, but also 1Q of the children that is 10-13.5 points lower than normal children. One of the methods to prevent and cure goiter was by giving iodined salt. This program has been done by the Indonesian health department since 1975 but the results were not the same as expected. In Bali the households consuming iodined salt was only 32.6%, while in the minimum national level was 65.18%. Karangasem one of the regencies categorized as heavy endemic consumed only 20.6%. OBJECTIVE: This study was aimed at learning the differences of knowledge, attitude and use quality of iodined salt before and after nutrition education given to the treatment and control groups. METHOD: This study took place in Bebandem Sub-District, Karangasem regency, Ball and was located in two villages Jungutan (treatment group) and Bungaya kangin (control group). In the village of treatment group nutrition education about iodined salt was given by ways of public lectures, question and answer, slide about IDD show, VCD about IDB show, iodined salt samples and billboards. This was a quasi experimental study pretest and postest with control group design (Cook and Campbell, 1979). The population were housewives of whom the husbands as a substitute generation and they do not ese iodined salt, were able to read and write, age I 45 years, and elementary school education. The samples were 34 housewives. To find out the differences of variables t-test was applied with CI 95% (a=0.05). RESULTS: The results showed that there was significant difference of knowledge about iodined salt before and after the nutrition education between treatment and control groups. There was not significant difference of attitude toword iodined salt between treatment and control groups. ‘There was significant difference of ese and quality of iodined salt before and after nutrition education between treatment and control groups. CONCLUTION: The nutrition education about iodined salt was given by ways of public lectures, question and answer, slide about goiter show, VCD about IDD show, iodined salt samples and billboards can be able on knowledge and use iodined salt quality of housewives at endemic goiter.

Kata Kunci : Gizi,Garam Beryodium,Daerah Gondok Endemik, Nutrition education -1odined Disorder Deficiency -1odined salt -houswives.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.