ANALISIS KESIAPSIAGAAN BENCANA BIDANG KESEHATAN DI KECAMATAN TURI, PAKEM, DAN CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA
DWI SYAMSIATI, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D.
2013 | Skripsi | S2 MAGISTER MANAJEMEN BENCANAErupsi Merapi tahun 2010 menyebabkan dampak bagi kehidupan masyarakat. Banyak jatuh korban jiwa dan juga banyak pengungsi. Sebagian besar dari korban jiwa disebabkan karena luka bakar, mengingat bahwa rumah sakit yang memiliki instalasi khusus untuk luka bakar terletak jauh dari daerah rawan bencana, sekitar 30 menit perjalanan. Sehingga banyak pasien datang dengan keadaan meninggal. Selain karena parahnya luka bakar, namun juga kurang stabilnya kondisi korban. Stabilisasi korban dapat dilakuakan di rumah sakit terdekat. Hal tersebut juga disebabkan oleh banyaknya relawan yang ikut dalam proses evakuasi, dan mereka kurang tahu dengan pertolongan pertama atau stabilisasi korban. Turi, Pakem, Cangkringan termasuk daerah rawan bencana, di sana ada beberapa rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, perlunya sebuah kerjasama di antara institusi kesehatan yang ada, sebagai kesiapsiagaan bersama/terpadu di kawasan rawan bencana. Merapi meletus dua kali, dimana letusan yang kedua lebih banyak memakan korban dan menyebabkan luasnya area bahaya. Kebijakan ini mengakibatkan evakuasi pengungsi besar-besaran. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan wawancara terhadap tokoh kunci, dimana yang mengetahui dan bertanggung jawab terhadap konsep kebencanaan di tiap institusi dan mengumpulkan dokumen pendukung. Hasilnya dapat diketahui bahwa di sektor kesehatan belum ada hubungan kerjasama satu sama lain. Meskipun Dinas Kesehatan Sleman memiliki alur rujukan korban Merapi, dan hal tersebut sebenarnya juga sudah diketahui oleh semua institusi kesehatan di KRB Merapi. Namun, di tingkat lokal atau kecamatan belum ada koordinasi horizontal yang kuat antarinstitusi. HDP penting dimiliki oleh setiap institusi kesehatan, namun kerjasama antarinstitusi kesehatan merupakan hal yang lebih penting.
The Merapi eruption 2010 has caused some impact for living, much of victims and displaced person. Majority of victims caused by burn, whereas hospital who have burn instalasion located farway from disaster prone area, about 30 minuts. So, to much victims arrives with dead. Besides of burn severity, but also lack of stabilisation for them, when it can do in nearest hospital. That is also caused by to much of volunteer who evacuation, and they don’t know to primary survey in order that can stable before referenced to hospital. Turi, Pakem, and Cangkringan included in disaster prone area, there are some hospital and health center. So, its need integration among them as a collective preparedness in disaster prone area. Merapi erupted twice, the second erupstion caused many victim and expanded of prone area. This policy has resulted to evacuation this area included health center and hospital. Replacement of inpatient has been problem. Study design using qualitative methods with interview to key person who responsibility in disaster concept in each institusions and document review. The results obtained that preparedness in health sector yet coordinated. Although, in Regency Health Office has a prosedure to refer, and that is knowed by all health institusion in disaster prone area. But, in local level there are not horizontal coordination. Hospital disaster plan is important, but linkages among the health institusion in disaster prone area more important.
Kata Kunci : Kesiapsiagaan kesehatan, tanggap darurat, rumah sakit,kerjasama