Kajian reseptivitas lingkungan terhadap kajian malaria di Kabupaten Sleman Propinsi DIY
SUMANTRI, Prof.dr. Sugeng Juwono, M,DAP
2001 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatMalaria masih menjadi masalah di Kabupaten Sleman, terjadi peningkatan dan penyebaran kasus dibeberapa wilayah kecamatan, sejak tahun 1996-200, dengan ditemukannya kasus impor pada tahun 1996 dan 1997. Tahun 1998, 1999 dan 2000 mulai ditemukan kasus indegenous sebesar 40%, 28,6% dan 12,94%. Annual parasite incidence (API) malaria di Kabupaten Sleman tahun 1996 0,02%o, tahun 2000 menjadi 0,296o penduduk. Lima kecamatan dengan API tertinggi yaitu wilayah Kecamatan Turi (1,59%0), Moyudan (0,59%o), Minggir (0,38%o) Godean (0,37%0), Tempel (0,24%0). Upaya pemberantasan malaria telah dilakukan, tetapi belum mencapai hasil yang memuaskan. Penelitian irii bertujuan untuk mengetahui tingkat reseptivitas lingkungan terhadap kejadian malaria. Manfaat Penelitian adalah sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan, bagi pelaksana program pengendalian, penanggulangan dan penyebaran penyakit malaria. Penelitian dilakukan di Dusun Bibis Desa Lumbungrejo, Kecamatan Tempel, Dusun Jurugan Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Dusun Gamplong Desa Sumber Rahayu, Kecamatan Moyudan dan Dusun Sembuhan Desa Sendangmulyo, Kecamatan Minggir. Metode penelitian dilakukan dengan cam pengukuran, pengamatan langsung, survei entomologi untuk mengetahui kepadatan vektor, dan identifikasi pembedahan kelenjar untuk melihat sporozoit dalam tubuh nyamuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa,lingkungan di dusun lokasi penelitian, sangat reseptif terhadap kemungkinan terjadinya penularan malaria dari daerah endemik, tingkat reseptivitas di Dusun Jurugan, Bibis, Gamplong dan Sembuhan memiliki reseptivitas tinggi. Tingginya tingkat reseptivitas lingkungan, akan menimbulkan terjadinya densitas vektor, yang dapat menimbulkan frekuensi kontak antara nyamuk dengan manusia semakin tinggi pula, sehingga akan terjadi transmisi lokal, bila tidak waspada terhadap adanya importasi kasus dari berbagai daerah. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan yang ketat dan rutin terhadap importasi kasus, serta penelitian lanjutan apakah di wilayah lain juga memiliki reseptivitas yang tinggi terhadap kejadian malaria.
Malaria has still been a health problem in Sleman, since 1996-2000 and the case increased and spread in several sub-districts, beginning with the finding of an important case in 1996 and 1997. Indegenous cases were found out. In 1998 40%, 1999 28.6% and 12.4 % in 2000. Annual parasite incidence (API) malaria in Sleman from 1996 to 2000 from 0.02960 to 0.2%0 inhibitants. Five subdistricts with high API were Turi subdistrict (1.59%0), Moyudan (0.59%0), Minggir (0.38%0), Godean (0.37960), Tempel (0.24%0). P.vivax (77.1%) and P falciparum (22.9%). An effort to abolish malaria had been done but it was not satisfactory. This study was aimed at learning the level of environmental receptivity (physic, biologic, social economic) toward malaria. This study was be useful for planning and decision making, and for the program of control, and prevention of malaria endemy. This study was done in Sleman regency, in 4 district and 1 subvillage every district. The study methods used were measurement, observation, entomology survey to learn the vector density, and identification of lymph node to analyse sporozoite in mosquito's body. The results showed that the distance between the rice fields area, ponds, vegetations, to housing were less than 500 meters, animal proportion in subvillage were 4.23%. This high environmental receptivity might affect the vector density that would affect mosquito human contact and and therefore would result in local malaria transmission. In conclusion, the physical, biological, social and economic environments in study areas are receptive to possible malaria transmission.
Kata Kunci : reseptivitas lingkungan, densitas vektor, kejadian malaria, P falciparum, environmental receptivity, vector density, malaria case