Laporkan Masalah

MEKANISME BERTAHAN MASYARAKAT TENGGER DI PROBOLINGGO TERHADAP ERUPSI GUNUNGAPI BROMO TAHUN 2010 - 2011

Puspita Indra Wardhani, Prof. Dr.rer.nat Junun Sartohadi, M.Sc.

2013 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN BENCANA

Gunungapi Bromo adalah salah gunungapi paling aktif di Jawa Timur. Pada tahun 2010-2011, Gunungapi Bromo bererupsi selama kurang lebih sembilan bulan. Masyarakat Tengger yang tinggal di Desa Ngadirejo Kabupaten Probolinggo mengalami dampak paling parah. Lahan pertanian sebagai penghidupan masyarakat tidak dapat diolah hingga kurun waktu satu tahun pascaerupsi karena tebalnya abu dan pasir yang menutupi lahan pertanian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji persepsi masyarakat Tengger dan pemerintah daerah terhadap bahaya Gunungapi Bromo, menganalisis usaha masyarakat Tengger dalam menghadapai bahaya erupsi Gunungapi Bromo, dan memformulasikan mekanisme bertahan masyarakat Tengger dalam menghadapi erupsi Gunungapi Bromo. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif yang tahapan penelitiannya dibagi menjadi tiga, yaitu: (1) pralapangan; (2) kerja lapangan; (3) pengolahan data. Data primer dikumpulan melalui tinjauan langsung lapangan dengan melakukan wawancara dan focused group discussion pada masyarakat Tengger di Desa Ngadireja. Data sekunder diambil dari data-data instansi yang terlibat dalam penanganan erupsi Gunungapi Bromo. Penentuan sampel penelitian untuk wawancara menggunakan metode snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Tengger tentang bahaya Gunungapi Bromo adalah tidak bahaya, hal ini dipengaruhi sektor budaya yang kuat. Saat menghadapi erupsi Gunungapi Bromo tahun 2010-2011, masyarakat menggunakan dua mekanisme bertahan yaitu internal dan eksternal. Mekanisme bertahan yang dilakukan terdiri dari empat bidang meliputi: (1) bidang teknologi; (2) bidang ekonomi; (3) bidang sosial; (4) bidang budaya. Pengetahuan lokal yang merupakan warisan dari nenek moyang masyarakat Tengger menjadi mekanisme bertahan paling ideal untuk menghadapi erupsi Gunungapi Bromo.

Bromo Volcano is one of the most active volcano in Jawa Timur. In 2010- 2011, Bromo Volcano has erupted for nine month. Tengger’s people who live in Ngadirejo village in the Probolinggo, got the worst damage. The farming area as livelyhoods of Tengger’s people couldn’t be planted because the ash and dust covered the land until the next year. The objective from this research are learning the perception of Tengger’s people and government to face the hazard of Bromo Volcano, analizing the effort of Tengger’s people to face the hazard of Bromo Volcano, and formulating the coping mechanism for Tengger’s people to face the hazard of Bromo Volcano. This research is qualitative descriptive and divided in to three steps, which are: (1) pre-fieldwork; (2) field work; (3) data processing. Primery data was collected through interview and focused group disscusion to Tengger’s people in Ngadirejo village. The interview sample used snow ball sampling method. Secondary data was collected from government instance which involve in handling the eruption of Bromo Volcano. The result of this research shows that the people risk perception of Tengger’s people about Bromo Volcano is unhazardous, this is influence by strong culture in there. When facing the hazard of Bromo Volcano in 2010-2011, Tengger’s people use two coping mechanism, covered by internal and external method. The coping mechanism which is done consist of: (1) technology aspect; (2) economy aspect; (3) social aspect; (4) culture aspect. The local wisdom which is pass by Tengger ancestor become the most ideal coping mechanism in Bromo Volcano.

Kata Kunci : masyarakat Tengger, Desa Ngadirejo, Probolinggo, bahaya gunungapi, wawancara, focused group discussion, persepsi bahaya, mekanisme bertahan.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.