Laporkan Masalah

WACANA RITUAL: STUDI KASUS PADA RITUALSELAMATAN DIPESAREANGUNUNG KAWI,MALANG-JAWA TIMUR

Nuryani, Prof. Dr. Soepomo Poedjosoedarmo

2014 | Disertasi | S3 Linguistik

dengan berbagai tujuan Kegiatan ritual masih banyak dilaksanakan oleh masyarakat di Indonesia, misalnya, kegiatan ritual yang terdapat di Pesarean Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur. Tujuan dari kegiatan tersebut dapat diketahui dari wacana yang dituturkan oleh modin. Penelitian yang berjudul “Wacana Ritual: Studi Kasus pada Ritual Selamatan di Pesarean Gunung Kawi, Malang-Jawa Timur” bertujuan mendeskripsikan struktur wacana ritual selamatan, mendeskripsikan penggunaan bahasa dalam wacana ritual selamatan, dan mengidentifikasi dan menjelaskan keberagaman pola pikir yang terlihat melalui tuturan ritual selamatan. Kajian ini menggunakan interpretasi bahasa yang digunakan dalam kegiatan budaya setempat. Data rekaman yang berupa tuturan lisan dalam pelaksanaan ritual selamatan tersebut ditranskripsikan kemudian dianalisis. hasil Berdasarkan analisis, diperoleh beberapa simpulan. Pertama, struktur wacana tuturan ritual selamatan terdiri atas tiga bagian penyusun, yakni bagian pembuka, bagian inti/isi, dan bagian penutup. Bagian pembuka dibentuk oleh unsur ajakan, unsur pemberitahuan, unsur permohonan, dan unsur tujuan. Bagian inti/isi dibentuk oleh unsur pemberitahuan dan unsur permohonan. Sementara itu, bagian penutup yang berbahasa Jawa dibentuk oleh unsur pemberitahuan, unsur permohonan, dan unsur tujuan, sedangkan bagian penutup berbahasa Arab dibentuk oleh unsur pernyataan dan unsur permohonan. Kedua, dalam tuturan ritual selamatan terdapat tiga bahasa yang digunakan, yakni bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Bahasa Jawa digunakan dengan alasan sebagai bentuk penghormatan kepada lawan tutur dan lokasi pelaksanaan ritual selamatan di pulau Jawa. Bahasa Indonesia digunakan pada bagian inti dengan alasan latar belakang bahasa dan budaya pelaku ritual yang beragam dan untuk menjembatani pelaku ritual yang tidak dapat menggunakan bahasa Jawa maupun pelaku ritual yang ingin menggunakan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia ini juga menjadi bukti adanya bentuk toleransi berbahasa masyarakat Jawa. Bahasa Arab digunakan pada bagian penutup dengan alasan orang yang dimakamkan di tempat tersebut beragama Islam dan karena adanya pengaruh agama Islam. Ketiga adalah pola pikir yang terlihat melalui bahasa-bahasa yang digunakan dalam tuturan ritual selamatan. Pola pikir yang terlihat melalui penggunaan bahasa Jawa meliputi pemberian restu dan permohonan maaf, penghormatan kepada Rosulullah dan Tuhan, dan kepercayaan kepada hal yang ghoib. Pola pikir yang terlihat melalui tuturan berbahasa Indonesia berupa pemikiran tentang kepentingan/kebutuhan duniawi. Pola pikir yang terlihat melalui penggunaan bahasa Arab meliputi meminta perlindungan hanya kepada Allah, adanya kasih sayang terhadap Rosulullah, keluarga, dan pengikutnya, dan kebutuhan akan ketenangan jiwa. Pola pikir pelaku ritual terlihat melalui tuturan yang menyatakan bahwa berbagai uba rampe yang dibawa untuk memberikan makan Kanjeng Eyang Penembahan. Melalui tuturan tersebut tertanam pemikiran bahwa sebelum meminta sesuatu akan lebih baik jika memberikan sesuatu terlebih dahulu. Pola pikir modin terlihat melalui keseriusan dan kesungguhan dalam memimpin kegiatan ritual yang mencerminkan bahwa modin merasa memiliki tanggung jawab besar dalam pelaksanaan ritual tersebut. Pola pikir lain yang terlihat, terkait dengan keberadaan Rosulullah melalui ajakan modin untuk berdoa sebagai bentuk kepercayaan bahwa Rosulullah adalah orang yang dekat dengan Allah. Terdapat juga pandangan mengenai wujud tertinggi, yakni Tuhan sebagai dzat yang Maha Kuasa dan sebagai tempat memohon, Tuhan sebagai tempat berlindung, dan Tuhan yang layak dipuji. Keberadaan Eyang Djoego dan Eyang Soedjo dianggap sebagai perantara yang menghubungkan mereka dengan Tuhan, sebagai orang yang lebih tua (simbah), dan sebagai orang yang dimuliakan atau dihormati.

Ritual activities with different goals are held by many people in Indonesia. One of them is performed in Pesarean Gunung Kawi, Malang, East Java. The purpose of this activity can be understood from the discourse that is spoken by modin in ritual of selamatan (celebrations of thanksgiving and/or to ask the blessings and favours from the God, gods, or souls). The study, titled \\"Ritual Discourse: Case Studies on Ritual of Selamatan in Pesarean Gunung Kawi, Malang, East Java,\\" aims to describe the ritual discourse structure by describing the use of language in ritual discourse, identifying, and explaining the diversity mindset that looks through ritual speech. This study uses the interpretation of the language used in local cultural activities. The recorded data of verbal utterances in the implementation of the ritual were transcribed and analyzed then. were Based on the analysis, some conclusions obtained. First, the discourse structure of ritual consists of three constituent parts, namely the opening, the content, and the closing. Opening section formed by elements of invitation, notification, request, and goal. The content formed by the notification and request elements. Meanwhile, the closing elements formed in Javanese are notification, request, and goal, while the closing elements formed in Arabic are statement and request elements. Second, the ritual’s utterances use three languages, the Javanese, Bahasa Indonesia and Arabic. Javanese is used as a respect for the addressee and the location of ritual is in Java. Bahasa Indonesia is used in the body as the reason for the language background of ritual diversity actors and as bridge for ritual actors who cannot use the Javanese and ritual actors who want to use the Indonesian language. The use of Bahasa Indonesian also proves of the existence of Javanese tolerance. Arabic is used as the closing for that people buried there is Muslim and because of the influence of Islam. The third is the mindset appeared through the languages that are used in utterances of selamatan. The mindset reflected through the use of Javanese consists of blessing and for-giving, regarding to Rosulullah and God, mistical belief. The Mindset appeared through the Indonesian language utterances is the thought about the secular need. The Mindset appeared through the use of the Arabic language includes refuge in God, The affection toward Muhammad, family, and followers, and the need for peace of mind. es The mindset of ritual actors seen through utterances stat that various uba rampe brought is to feed Kanjeng Eyang Penembahan. It is believed that before asking, people would be better if they give something first. Modin mindset is appeared through his seriousness and sincerity in leading the ritual activities reflecting that modin has a great responsibility in these rituals. Another mindset relate with the presence of Muhammad through the modin inviting to prayer as a form of belief that Muhammad was a man close to God. Associated with it, there is a view of the supreme being, namely God as the One Almighty. The existence of Eyang Djoego and Eyang Soedjo is considered as an intermediary that connects them to God, an older person (stained), and the one who glorified or honored.

Kata Kunci : wacana ritual, struktur wacana, penggunaan bahasa, pola pikir


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.