PENGARUH PELATIHAN DENGAN METODE COLLABORATIVE LEARNING TERHADAP PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN KADER POSYANDU MENGENAI KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA BALITA
Arumi Wulansari, Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., PhD.
2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Pada anak-anak, penyakit dan kerusakan pada gigi dapat menimbulkan akibat buruk terhadap tumbuh kembang. Masih tingginya angka karies gigi pada anak membutuhkan perhatian lebih dari semua pihak, baik orangtua maupun tenaga kesehatan. Posyandu sebagai sarana untuk memantau tumbuh kembang anak, dapat menjadi salah satu upaya peningkatan kesehatan gigi dan mulut pada anak. Oleh karena itu, kader posyandu perlu diberi pelatihan mengenai kesehatan gigi dan mulut guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka. Metode collaborative learning merupakan salah satu metode pembelajaran baru yang efektif. Akan tetapi metode tersebut belum pernah digunakan dalam pelatihan untuk kader posyandu. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode collaborative learning dalam pelatihan terhadap pengetahuan dan keterampilan kader posyandu mengenai kesehatan gigi dan mulut pada balita. Metode : Jenis penelitian ini adalah quasi experimental dengan rancangan penelitian non-randomized control group pretest posttest design. Penelitian dilakukan terhadap kader posyandu di Kecamatan Tegalrejo Kota Yogyakarta yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dengan metode collaborative learning (n = 42) dan kelompok kontrol dengan metode konvensional (n = 44). Variabel bebas penelitian adalah pelatihan dengan metode collaborative learning dan variabel terikatnya pengetahuan dan keterampilan kader mengenai kesehatan gigi dan mulut balita. Rerata skor pengetahuan dan keterampilan diukur 3 kali, yaitu pretes sebelum pelatihan, postes 1 segera setelah pelatihan selesai, dan postes 2 pada 1 bulan setelah pelatihan selesai. Uji statistik yang digunakan adalah Mann-Whitney U Test dan Wilcoxon Sign Ranks Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil : Metode collaborative learning dan ceramah tanya-jawab keduanya meningkatkan nilai pengetahuan dan keterampilan kader sesudah pelatihan. Namun, kelompok metode collaborative learning menunjukkan peningkatan yang lebih tinggi (p < 0,05). Pada perbandingan postes 1 ke postes 2 terjadi penurunan nilai pengetahuan dan keterampilan yang menunjukkan adanya pengurangan retensi hasil belajar (p < 0,05). Penurunan yang lebih tajam dialami oleh kelompok ceramah tanya-jawab dibandingkan dengan kelompok collaborative learning. Hal tersebut menunjukkan bahwa metode collaborative learning memberikan retensi hasil belajar yang lebih baik. Kesimpulan : Pelatihan dengan metode collaborative learning memberikan hasil belajar dan retensi, berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan, yang lebih baik dibandingkan dengan metode konvensional ceramah tanyajawab.
Background: Oral health is an important part of overall health. In children, the disease and tooth decay can lead to bad consequences for growth and development. A high rate of dental caries in children require more attention from all parties, both parents and health professionals. Posyandu as a means to monitor the development of children, may be one of the efforts to improve oral health in children. Therefore, posyandu cadres should be given a training on oral health in order to improve their knowledge and skills. Collaborative learning is one of new teaching methods which is more effective to increase the skills of training participants. However, the method has not been used in training for posyandu cadres. Objective: This study was aimed to determine the effect of training with collaborative learning method on posyandu cadre’s knowledge and skills regarding oral health in children. Methods: The study was a quasi experimental study design with a nonrandomized control group pretest posttest design. The study was conducted on posyandu cadres in Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta, divided into treatment group with collaborative learning methods (n = 42) and the control group with conventional methods (n = 44). The independent variable was the training method of collaborative learning and the dependent variable was the knowledge and skills of cadres of children oral health. The mean score of knowledge and skills measured three times, the pre-test before training, posttest 1 immediately after training completed, and posttest 2 at one month after completion of training. The statistical test used was the Mann-Whitney U test and Wilcoxon Sign Ranks Test with a confidence level of 95%. Results: Collaborative learning and lecture methods both increase the value of cadre’s knowledge and skills after the training. However, collaborative learning group method showed a higher increase (p < 0,05). At posttest 1 to posttest 2 comparisons demonstrated a reduction in retention of learning outcomes (p < 0,05). Sharper decline experienced by lecture group compared to collaborative learning group. It showed that collaborative learning method also give a better learning retention. Conclusion: Training with collaborative learning method further enhance the knowledge and skills of posyandu cadre, and also give better retention compared to conventional methods of lecture.
Kata Kunci : pelatihan, collaborative learning, pengetahuan, keterampilan, kader posyandu, kesehatan gigi dan mulut balita