Laporkan Masalah

kajian penolakan relokasi oleh warga terdampak erupsi merapi tahun 2010 (studi kasus di dusun kalitengah lor, DIYdan dusun Sambungrejo JawaTengah)

Yorsi Nuzulia, Prof. Dr. H.A. Sudibyakto, M.S

2014 | Tesis | S2 MAGISTER MANAJEMEN BENCANA

Sebanyak 165 Kepala Keluarga (KK) Dusun Kalitengah Lor dan 35 KK Dusun Sambungrejo pasca erupsi Merapi tahun 2010 memilih untuk tetap bermukim di dusun asal. Meskipun dusun yang mereka tempati merupakan Kawasan Rawan Bencana III (KRB III), Areal terdampak Langsung 1 (ATL 1) yang tidak diperbolehkan sebagai kawasan permukiman dan diberlakukan kebijakan relokasi. Upaya pendekatan telah dilakukan oleh pemerintah seperti sosialisasi dan pendekatan langsung ke masyarakat, akan tetapi hingga tahun terakhir masa rehabilitasi dan rekonstruksi Merapi (2011-2013), warga tetap menolak relokasi. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengkaji faktor-faktor penyebab penolakan relokasi yang dilakukan oleh warga Dusun Kalitengah Lor dan Dusun Sambungrejo, 2) mengetahui aspirasi warga kepada pemerintah, dan 3) mengetahui tindak lanjut warga, pemerintah, dan Lembaga Non Pemerintah pasca penolakan relokasi. Lokasi penelitian di Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY dan Dusun Sambungrejo, Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Provinsi Jawa Tengah. Metode penelitian menggunakan metode peneltian kuantitatif dan kualitatif dan merupakan penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pengambilan kuesioner, wawancara, diskusi kelompk terarah, kajian pustaka, dan dokumentasi. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara acak dengan tingkat kesalahan sampel 5%. Data hasil penelitian kemudian diolah dengan metode deskriptif frekwensi, tabulasi silang (crosstab) dan analisis korelasi bivariate untuk menunjukkan keterkaitan beberapa variabel terikat dan variabel bebas. Hasil penelitian kemudian ditulis dengan pendekatan eksplanatif. Hasil penelitian menunjukkan, faktor internal (Faktor Ekonomi, Faktor Sosial, Kesiapsiagaan, dan Kepemilikan tanah) merupakan faktor dominan yang menyebakan warga tidak bersedia direlokasi (81.2%). Dari 8 jenis aspirasi, dominasi aspirasi warga Dusun Kalitengah Lor yakni bantuan disamakan dan tetap diperhatikan oleh pemerintah (37.3%) sedangkan warga Dusun Sambungrejo menyampaikan mereka tetap tidak bersedia direlokasi (33.3%). Adapun tindak lanjut yang akan dilakukan oleh warga pasca penolakan relokasi adalah warga siap menerapkan konsep Living in Harmony with Merapi dengan terus meningkatkan kesipasiagaan dan bersedia dievakuasi apabila terjadi keadaan darurat. Pemerintah dalam hal ini tetap berusaha untuk melakukan sosialisasi kepada warga agar bersedia untuk pindah dan berkomitmen untuk menyediakan fasiltas pengurangan risiko bencana kepada warga. Sedangkan lembaga non pemerintah seperti WALHI Yogyakarta dan ARKOM berkomitmen untuk mendampingi warga dalam rangka peningkatan kapasitas mitigasi bencana

A total of 165 families in Hamlet of Kalitengah Lor and 35 families in Hamlet of Dusun Sambungrejo after the eruption of Merapi in 2010 chose to remain living in the village of origin. Although they lived in a hamlet of Disaster Prone Region III (KRB III) and directly affected area 1 (ATL 1) which is not allowed as residential areas and relocation policy applies. Approach which has been taken by the government such as socialization and direct approach to the public, but until last year the rehabilitation and reconstruction of Merapi (2011-2013), the people still refuse relocation. This study aims to: 1) examine the factors that cause rejection of relocation by the people in Dusun Sambungrejo and Dusun Kalitengah Lor, 2) know the aspirations of the people to the government, and 3) determine the follow-up of citizens, governments, and Non-Governmental Institutions after rejection of relocation. Research sites in the hamlet of Kalitengah Lor, Glagaharjo village, Cangkringan, Sleman regency, Yogyakarta and Sambungrejo Hamlet, Balerante Village, Kemalang, Central Java Province. Methods of research are case study and mixed research methods. Data was collected by taking questionnaires, interviews, focus group discussions, literature review, and documentation. Technique of sampling is random with an error rate sampling of 5%. The data processed with descriptive frequencies, cross tabulation (crosstab) and bivariate correlation analysis showed linkage to several independent variables and the dependent variable. The result is written to the explanatory approach. The results showed that the internal factors are the dominant factors that cause people not willing to be relocated (81.2%). Of 8 kinds of aspirations, aspirations dominance of Hamlet of Kalitengah Lor likened the assistance and remain unnoticed by the government (37.3%), while Hamlet of Sambungrejo still not willing to submit their relocation (33.3%). The follow-up will be done by the citizens after the rejection of relocation are citizens ready to apply the concept of Living in Harmony with Merapi with continue to improve the preparedness and are willing to be evacuated in the event of an emergency. Government in this regard still trying to do outreach to the citizens to be willing to move and is committed to providing facility to the residents of disaster risk reduction. While non-governmental organizations such as WALHI Yogyakarta and ARKOM are committed to assist the citizens in order to increase the capacity of disaster mitigation.

Kata Kunci : Relokasi, Merapi, Kalitengah Lor, Sambungrejo


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.