Laporkan Masalah

”Ngalap Berkahe Eyang” Arena Politik dan Arena Ekonomi dalam Peziarahan Gunung Kawi

BUDI SURYAWAN, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, MA.

2013 | Tesis | S2 Antropologi

Ritual peziarahan di Gunung Kawi merupakan fenomena religi dan keyakinan sekaligus juga fenomena ekonomi dan politik. Perkembangan peziarahan Gunung Kawi dari awal mula adanya makam keramat hingga berkembang menjadi beragam tempat ritual yang mengelilinginya berbanding lurus dengan pertambahan jumlah kunjungan peziarah, dari etnis Cina, enis Jawa dan lintas agama maupun lintas kawasan. Gunung Kawi telah berkembang menjadi pusat ritual dan selanjutnya menjadi pusat ekonomi. Perkembangan peziarahan Gunung Kawi selanjutnya memunculkan berbagai usaha ekonomi yang bersandar pada kegiatan ritual peziarah, baik berupa bidang jasa seperti pramuwisata, penginapan/hotel, parkir, berupa perdagangan seperti warung, pasar kaget, dsb, maupun kegiatan ritual sendiri juga menghasilkan pendapatan ekonomi tersendiri yang sangat besar. Segala aktivitas tersebut berhubungan dengan kegiatan ritual dan menghasilkan keuntungan material/ekonomi secara langsung maupun tidak langsung merupakan “kegiatan ekonomi-ritual”. Perkembangan Gunung Kawi menjadi pusat ritual dan pusat ekonomi selanjutnya juga menjadi arena persaingan ekonomi dan politik. Kondisi itu telah berlangsung dari proses awal dalam sejarah perkembangan peziarahan disana hingga sekarang, yang mana pihak-pihak bersaing mendapat atau menguasai peran-peran atau posisi strategis secara ekonomi dan politik dalam kegiatan ekonomi ritual. Dalam persaingan itu terdapat “rasionalitas politik ekonomi” yang berhubungan dengan seseorang atau pihak melakukan langkah strategi apa untuk mencapai tujuannya dan mempertahankan yang diperolehnya. Politik ekonomi dalam kegiatan ekonomi ritual merupakan suatu rasionalitas yang tersembunyi dan tidak dibuka untuk umum, berbeda dengan rasionalitas berkah yang berpandangan bahwa segala perolehan pendapatan dari kegiatan ekonomi-ritual adalah “berkahe Eyang” dan bentuk-bentuk kegiatan ekonomi-ritual seperti menjaga tempattempat ritual, sebagai Jurukunci, Cantrik, Modin, penjaga penginapan dan sebagainya adalah bentuk “pengabdian”. Dinamika politik dan ekonomi yang terjadi dalam peziarahan Gunung Kawi itu pada akhirnya membentuk sebuah struktur sosial yang menata kegiatan pezirahan dan kegiatan ekonomi ritual disana. Pesarean sebagai pusat ritual dan pusat ekonomi telah ditata dan dikelola sedemikian rupa menjadi suatu pola yang mirip sebuah “negara Pesarean” yang dikelola oleh “pemerintahan” Yayasan Ngestigondo yang ketuanya adalah “perdana menteri”, Jurukunci merupakan “raja”nya, para karyawan adalah “aparaturnya” dan para pedagang sebagai rakyatnya.

The pilgrimage ritual on Gunung Kawi (Mount. Kawi) is a phenomenon in religion and belief as well as in economics and politics. The pilgrimage on Gunung Kawi has developed from a sacred tomb to diverse rituals surrounding the place which is in line with the increasing number of visitors to the place, from Chinese and Javanese ethnic groups as well as interfaith and cross-region. It has developed into a center of ritual and further into an economic center. The pilgrimage on Gunung Kawi subsequently led to a variety of economic enterprises that rely on pilgrim rituals, either in services such as tour guides, lodging/hotels, parking, trading in form of stalls, spontaneous traditional market, etc., or the ritual itself that produces economic income in a large scale. All the activities are associated with ritual activity and generate material profits / economic directly and indirectly know as “ritual-economic activity”. The development of Gunung Kawi as a ritual center and later as an economic center has resulted to economic competition and political arena. This condition initiated from early in the history of the pilgrimage until now, in which the parties compete for roles to dominate the strategic position economically and politically in the “ritual-economic activities”. In the competition, there is a political economic rationality associated with a person or a party to achieve their objectives and retain what they have earned. Political economy in ritualeconomic activity is a hidden rationality, not open to the public, in contrast to the view that rationality of berkah that all income gained from ritual economic activity is “berkahe Eyang” (blessings from the sacred being) and other forms of economic activity such as keeping the ritual places as Jurukunci, Cantrik, Modin, inn keepers and so on are a form of “devotion”. Political and economic dynamics that occur in the pilgrimage on Gunung Kawi ultimately form a social structure that organizes pilgrimage activities and ritualeconomic activities there. Pesarean (ritual area) as the ritual and economic center has been organized and managed in such a way to be a pattern that is similar to a state or “Pesarean state” managed by Ngestigondo Foundation in which the management consists of the chairperson by a “perdana menteri” or “prime minister”, a “king” by a Jurukunci, the “apparatus” by the employees and the people by the merchants.

Kata Kunci : kegiatan ekonomi-ritual,rasionalitas politik ekonomi, berkah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.