KONSEP PLACEMAKING DI KAWASAN WATERFRONT PANTAI MALALAYANG II MANADO
Taufik Tinumbia, Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng.
2013 | Tesis | S2 Desain Kawasan BinaanKondisi kawasan pantai Malalayang II menjadi semakin ramai didatangi pengunjung seiring dengan perkembangan Kota Manado yang kian berkembang pesat sebagai pusat perdagangan dan sebagai tempat tujuan wisata, terlebih setelah Kota Manado menjadi tempat diadakannya acara World Ocean Conference (Konferensi Kelautan Dunia) dan Coral Triangle Initiative Summit, sehingga pemerintah setempat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Manado 2006-2016 merencanakan pengembangan pada kawasan pantai Malalayang II tersebut menjadi kawasan wisata rekreasi pantai Kota. Beberapa pengembangan pada kawasan pantai Malalayang II telah dilaksanakan seperti penataan perluasan warung komersial yang sebelumnya belum teratur dengan membangun turap di tepi pantai. Namun pengembangan tersebut belum mengatasi permasalahan pada kawasan secara keseluruhan dan arahan pengembangannya hanya menitikberatkan pada fungsi komersial, bukan terhadap fungsi ruang publik. Sehingga diperlukan arahan dan pengembangan baru terhadap kawasan sesuai dengan rencana pemerintah untuk mengembangkannya menjadi kawasan wisata rekreasi pantai Kota. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengangkat terori Placemaking, dimana Placemaking adalah proses mengubah ruang (space) menjadi tempat (place). Space (ruang) yang belum memiliki fungsi yang sesuai dan belum memiliki karakter yang kuat, diarahkan menjadi place (tempat) yang sudah memiliki fungsi yang sesuai dan karakter yang kuat. Dalam kasus penelitian ini, pantai Malalayang II Manado dianggap sebagai “space†yang akan dikembangkan menjadi “place†dengan memiliki fungsi yang sesuai yakni sebagai tempat rekreasi pantai, dan memiliki karakter yang kuat yakni karakter waterfront (tepi air).Unsur-unsur pembentuk place (tempat)adalah activity(aktivitas), form(tempat perwadahan), dan image (citra tempat), sehingga variabel yang digunakan adalah activity; aktivitas yang terjadi pada kawasan yang mengarah pada aspek fungsi sebagai tempat rekreasi pantai, sertaform dan image yang merupakan faktor-faktor pembentuk dan penguat karakter waterfront. Metode analisis yangdigunakan dalam adalah metoderasionalistik kualitatif dengan mengidentifikasi poin-poin variabel dan indikator pada kawasan penelitian sesuai dengan kondisi pengamatan di lapangan, kemudian mengolah data yang dihasilkan dan menganalisisnya berdasarkan teori-teoriterkait. Dari hasil analisis, diperoleh kondisi place-waterfront, faktor-faktor penguat place, dan konsep penataan sebagai arahan pengembangan baru serta usulan rekomendasi desain penataannya.
The condition of Malalayang 2nd beach region visitors are increase because of development of Manado city as a trade center and tour destination, especially after the Manado city become a place of world ocean conference and coral triangle initiative summit event be held. So that, the local government in the regional layout plan (RTRW/ Rencana Tata Ruang Wilayah) of Manado city 2006-2016 has a development plan at Malalayang 2nd beach become a city beach recreational tourism region. Some development of Malalayang 2nd beach region has implemented, such as expansion structuring of commercial market that unstructured by build the wall on the waterfront. But, the development has not solved the problems on the region as a whole and the way of developing just focus on the commercial function not on public space function. So that the government need new way ans new development on the region that appropriate with the government’s plan to develop it into acity beach recreational tourism region. The approach that taken is by using place making theory, where a place making is a process of changing a space to the place. Space that had not has appropriate function and strong character. In this research case, Manado Malalayang beach considered as a space that will be developed into a place which has an appropriate function, the appropriate function is beach recreation areas. And also have a strong character that is waterfront character, the form elements of place are activity, form and image. So that the variables that used are activity that occur in the region which direct on the function aspect as a beach recreation areas, and also form and image that is supporting factors and waterfront character reinforcement. Analysis methods that used is qualitative rationalistic methods by identify variable points and indicator on the research areas suitable with observationscondition. After that data process and analyzed based on related theories. The analysis results are place-waterfront condition, place character reinforcement, and arrange concept as a new development directive and also recommendation suggestion about design arrangement.
Kata Kunci : Rekreasi pantai, placemaking, waterfront