KAJIAN KARAKTER VISUAL UNTUK MEMPERKUAT PENGGAL JALAN ALUN-ALUN SELATAN – PANGGUNG KRAPYAK SEBAGAI BAGIAN DARI SUMBU IMAJINER YOGYAKARTA
Nathasja Tiffany Aprimadhany, M. Sani Roychansyah, ST.,M.Eng.,D.Eng.
2013 | Tesis | S2 Desain Kawasan BinaanKota Yogyakarta memiliki keunikan dalam hal pola tata ruang yaitu terdapat poros sumbu imajiner yang membentang dari arah Utara – Selatan (Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Keraton Yogyakarta – Panggung Krapyak – Laut Selatan) membentuk jalur linear dan menghubungkan simbol-simbol fisik yang mempunyai makna nilai filosofis.Keunikan pola tata ruangyang memiliki nilai historis-kultural, filosofis, dan arsitektural tersebut merupakan identitas karakter dan berpotensi.sehingga perlu dipertahankan agar tidak mengalami degradasi seiring dengan berkembangnya pembangunan kota. Pada masa kini, terjadi pemusatan kegiatan pada penggal Tugu-Keraton, menjadikan masyarakat lebih mengenali penggal jalan tersebut sebagai sumbu filosofis Yogyakarta. Permasalahan pada penggal jalan Alun-alun Selatan – Panggung Krapyak kota Yogyakarta adalah kurang dipahaminya penggal jalan tersebut sebagai satu kesatuan yang menerus dari sumbu imajiner Yogyakarta (Tugu – Kraton Yogyakarta – Panggung Krapyak). Dibutuhkan arahan dalam penataan yang dapat mempertegas aksis sumbu imajiner tersebut sebagai jalur yang memiliki nilai filosofis dan historis terhadap kota Yogyakarta. Penelitian ini dititik beratkan pada pengamatan pembentuk karakter visual kawasan yaitu melalui elemen street space (floorscape, street furniture, landmark) dan street wall (buildings, landscaping, façade design).Metode pengamatan yang dilakukan adalah dengan mengamati elemen fisik pembentuk karakter melalui pengamatan secara statis (secara membujur “views†dan melintang “spaceâ€koridor) dan pengamatan secara dinamis. Analisis secara statis dan dinamis kemudian dibaca bersama sehingga menghasilkan temuan yang akan dielaborasi dengan konsep filosofi “sangkan paraning dumadi†dan contextual continuity (mempertahankan arsitektur tradisional Jawa) sehingga menghasilkan rekomendasi desain guideline yang dapat memperkuat penggal ini sebagai satu kesatuan sumbu imajiner Yogyakarta.
Yogyakarta has its uniqueness in terms of spatial city pattern. There is an imaginary axis extending from the North to South (Gunung Merapi – Tugu Pal Putih – Keraton Yogyakarta – Panggung Krapyak – Laut Selatan) that forming a linier path and connecting the physical symbols which have meaning of philosophical value. The uniqueness of the spatial patterns that have historical value-cultural, philosophical, and architectural Is the identity of the character and potentially so that needs to be maintained in order not to suffer degradation due to the growth of urban development. In the present, occurring centralizing activities on tugu-keraton people are more recognized this corridor as the axis of philosophical Yogyakarta. The problem in the south corridor (Alun-alun Selatan - Panggung Krapyak) is less recognized as a part of imaginary axis of Yogyakarta.So that it is required an arrangement that can be reinforced the imaginary axis as a path that have philosophicaland historical value to Yogyakarta. This research would be emphasized on the observations of the framer of a visual elementsthat divide into street space (floorscape, street furniture, landmark) and street wall (buildings, landscaping, façade design).The observation method executed by observing elementsof physical character in static way (through “views†in a frontal/longitudinal view and “space†by pass through the corridor transversely) and in dynamic way.The static and dynamic analysisthen readalong so as to produce a discovery that would elaborated with philosophy concept of “sangkan paraning dumadi†and “contextual continuity†(maintain the tradisional of Javanese architecture), then the result are recommendation of design guideline which enhanced the corridor as a single entity ofthe imaginary axis of Yogyakarta.
Kata Kunci : sumbu imajiner, karakter visual, street space, street wall