ANALISIS UJI MULTILOKASI GALUR-GALUR KEDELAI (Glycine max L.) MENGGUNAKAN REGRESI DAN DEKOMPOSISI NILAI TUNGGAL
AYDA KRISNAWATI, Dr. Panjisakti Basunanda, S.P., M.P.
2013 | Tesis | S2 Ilmu Pemuliaan TanamanKetersediaan kultivar kedelai yang berdaya hasil tinggi dan stabil di berbagai lokasi dinilai sangat penting dikembangkan di berbagai sentra produksi kedelai. Pengujian galur-galur kedelai yang dilepas sebagai kultivar unggul di Indonesia menggunakan metode Eberhart & Rusell dan AMMI, sedangkan untuk metode modifikasi Eberhart & Russell dan GGE biplot belum pernah digunakan. Perbandingan hasil beberapa metode yang berbeda basisnya perlu dipelajari agar pengambilan keputusan dapat lebih akurat dengan mengintegrasikan semua informasi. Penelitian ini bertujuan (1) mendapatkan galur kedelai yang stabil menurut metode Eberhart & Russell, modifikasi Eberhart & Russell, model AMMI, dan model GGE Biplot, (2) mendapatkan galur kedelai yang stabil sekaligus berdaya hasil tinggi yang direkomendasikan untuk dilepas sebagai calon kultivar kedelai unggul baru, dan (3) membandingkan informasi-informasi yang perlu diperhatikan secara efektif dari keempat metode analisis GEI. Genotipe kedelai yang ditanam ada 10 genotipe, yang terdiri dari delapan galur dan dua kultivar pembanding. Lokasi yang digunakan adalah di Desa Sesele Kabupaten Gunungsari dan Desa Senteluk Kabupaten Batujajar (Lombok Barat), Desa Gambiran dan Desa Grajakan Kabupaten Banyuwangi (Jawa Timur), Desa Sumberharjo dan Desa Jogotirto Kabupaten Sleman (DIY). Rancangan lapangan yang digunakan pada tiap lokasi penelitian adalah rancangan acak kelompok lengkap dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe dan interaksi antara genotipe dengan lingkungan (GEI) berpengaruh nyata terhadap hasil biji kedelai. Genotipe G100H/SHRW-60-38 dan genotipe G100H/SHRW-34 merupakan galur yang stabil berdasarkan keempat metode yang digunakan. Genotipe G100H/SHRW-34 berdaya hasil rendah meskipun berkategori stabil. Genotipe yang disarankan untuk dilepas sebagai kultivar kedelai unggul baru adalah genotipe G100H/SHRW-60-38 yang berdaya hasil tinggi dan stabil menurut keempat metode analisis stabilitas. Keempat metode dapat digunakan untuk keperluan praktis, namun metode AMMI dan GGE lebih eksploratif, yaitu dapat mengambil informasi yang lebih banyak dari keragaman data yang ada.
Soybean production in Indonesia is facing challenges rfrof diverse growing environments, leading to genotype and environment interaction (GEI). The stability analysis of soybean promising lines that will be released as a new improved cultivars in Indonesia is based on Eberhart & Russell and AMMI method, but for the modification of Eberhart & Russell and GGE biplot has never been done. Comparison from these different methods needs to be studied so that decision making can be more accurate by integrating all information. This research aimed to (1) obtain a stable soybean line according to the method of Eberhart & Russell and its modification, AMMI models, and GGE Biplot, (2) obtain a high-yielding and stable soybean line to be released as a new superior cultivar, and (3) compare the information that need to be considered from the four methods of GEI analysis. Ten soybean genotypes, consisting of eight promising lines and two check cultivars were evaluated at two locations, each in Yogyakarta, Banyuwangi, and West Lombok. The field design for each location was completely randomized design, with four replicates. The results indicate a significant effect of genotype and GEI with respect to yield. Genotypes G100H/SHRW-60-38 and G100H/SHRW-34 were stable according to all methods. Genotypes G100H/SHRW-60-38 was proposed to be released as a new high-yielding and stable according to all methods. The other one was not as its yield is low despite its being stable. Although the methods give sound about stability, AMMI and GGE were more explorative, resulting in more information that can be gained.
Kata Kunci : kedelai, GEI, analisis stabilitas, regresi, dekomposisi nilai tunggal