Laporkan Masalah

JAKA TARUB DAN TANABATA : KAJIAN STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS

Robi Wibowo, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil.

2013 | Tesis | S2 Antropologi

Mitos Jaka Tarub dan Tanabata mengandung ketidaksadaran (unconsciousness) orang Jawa dan orang Jepang . Aspek ketidaksadaran dari mitos ini sangat mempengaruhi pikiran dan perilaku orang Jawa dan orang Jepang pada umumnya serta merupakan penentu utama dari kepribadian mereka. Aspek unconsciousness inilah yang diinterpretasi dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan kajian Antropologi, yaitu paradigma strukturalisme Levi–Strauss, untuk menganalisis kedua mitos tersebut. Menurut Levi-Strauss, langkah pertama yang digunakan dalam menganalisis mitos adalah mengidentifikasi dan menggambarkan struktur permukaan (surface structure) dari kedua mitos. Struktur permukaan ini dianalisis secara sinkronis dan diakronis untuk menemukan miteme-mitemenya (mythemes). Langkah kedua, yaitu menganalisis dan mengidentifikasi struktur dalam (deep structure) dari miteme-miteme ini. Struktur-struktur dalam ini akan diperas ke dalam suatu pola oposisi biner yang sekaligus akan memunculkan makna dari kedua mitos itu. Hasil analisis menyimpulkan bahwa baik mitos Jaka Tarub maupun mitos Tanabata keduanya menggambarkan suatu pandangan terhadap status sosial dan pernikahan. Melalui mitosnya, orang Jawa dan orang Jepang menyampaikan pandangannya tentang pernikahan yang ideal/yang diinginkan (marriage preferences) dan yang tidak ideal/yang tidak diinginkan, yang terkait dengan status sosial.

The myths of Jaka Tarub and Tanabata contain unconsciousness of Javanese and Japanese people. The unconscious aspects of these myths greatly influence Javanese and Japanese mind, behavior, and society at large which are the primary determinants of their personality. To understand the Javanese and Japanese unconscious mind and behavior, a proper analysis and interpretation of Jaka Tarub and Tanabata are critical and essential which was the principle aim of this research. This study uses anthropological method with Levi-Strauss structural paradigm to analyse these two myths. According to Levi-Strauss myth analysis technique, the first task was to identify and delineate from both myths their surface structures. These surface structures were analyzed in regard to synchronic and diachronic characters in order to find the mythemes. The second strategy involved analyzing and identifying the deep structures of these mythemes, and thus contrasted and established their binary oppositions. The results conclude that social status and marriage structures were delineated from Jaka Tarub and Tanabata. Both Javanese and Japanese people have marriage preferences and prohibitions that are related to the social status.

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.