Laporkan Masalah

ISLAM BANJAR: Kontestasi Kekuasaan dalam Perayaan Baayun Mulud di Banua Halat Kalimantan Selatan

Ahmad Syauqi, S.Hum., Dr.Anna Marie Wattie.,M.A.

2013 | Tesis | S2 Antropologi

Perayaan Baayun Mulud yang dilaksanakan oleh masyarakat Banjar Banua Halat sangat sarat dengan nilai-nilai luhur/sakral. Pada awalnya, perayaan ini bagi masyarakat Banua Halat merupakan sebuah media yang digunakan untuk berkomunikasi kepada leluhur mereka. Ketika arus informasi mulai dibuka, perayaan Baayun Mulud tidak bisa terhindar dari imbas kebebasan tersebut. Perayaan yang dahulunya sangat esklusif dan terbatas hanya untuk kalangan keturunan kampung Banua Halat saja tetapi selanjutnya mengalami peluasan apalagi ketika campur tangan pemerintah dalam kepanitiaan dan menjadikan perayaan Baayun Mulud sebagai bagian dari program wisata Pemerintah. Penelitian ini fokus kepada sebuah perayaan keagamaan yaitu Baayun Mulud yang pada perkembangannya mengalami perubahan baik dalam hal peserta maupun tujuan pelaksanaan perayaan. Hal ini sejalan dengan apa yang disebut oleh Bourdieu dengan teori praktik, di mana sebuah perayaan tidak lagi memiliki makna tunggal tetapi dimaknai oleh siapa dan untuk apa peserta/pelancong itu menghadiri perayaan tersebut. Kekuatan aktor/modal adalah faktor paling utama untuk menentukan bagaimana sebuah perayaan ini dimaknai dan kemudian menjadi makna bersama dalam realitas masyarakat. Penelitian ini di lakukan pada tiga kali perayaan yaitu perayaan pada tahun 2007, 2008 dan 2009. Pada tahun pertama perayaan hanya dilakukan observasi untuk memahami terlebih dahulu apa yang disebut Baayun Mulud, selanjutkan ketika perayaan tahun kedua mulailah mengumpulkan data menggunakan teknik observasi partisipasi dengan wawancara mendalam yang diawali dengan perbincangan ringan di warung-warung dan tempat-tempat umum. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa perayaan ini (Baayun Mulud) sudah mengalami perubahan. Hal ini terjadi karena perayaan ini menjadi sebuah media kontestasi berbagai kelompok sehingga peserta yang ikut dalam perayaan ini tidak lagi terbatas kelompok masyarakat pemilik perayaan yaitu masyarakat Banua Halat tetapi juga diikuti oleh kelompok masyarakat yang lain seperti pemerintah, politisi, para pengusaha dan partai-partai politik. Kecenderungan ini dipengaruhi oleh pergeseran otoritas perayaan dari masyarakat pemilik perayaan bergeser ke penguasa perayaan yang dilegitimasi kekuatan-kekuatan politik. Ketika ini terjadi tampaknya pembelaan terhadap tradisi haruslah menjadi suatu mekanisme politik kebudayaan yang selanjutnya perlu dipikirkan oleh para pihak.

The ceremony of Baayun Mulud held by Banjar Banua Halat society is full of noble/sacred values. In the beginning, it was used by Banua Halat society as a medium to communicate with their ancestors. When they have been exposed to open information, it is unavoidable that this information does have an effect on the Baayun Mulud ceremony. The ceremony used to be very exclusive and limited to those descendants belonging to Banua Halat village, but it later can be accessed by wider circles, especially when the government has been involved in the committee and declared Baayun Mulud ceremony as a part of government’s tourism programs. This research focuses on a religious ceremony called Baayun Mulud that has undergone some changes in the course of time in terms of participants as well as the objectives of ceremony. This is in accordance with what Bourdieu proposed with a practice theory, where a ceremony does not only have a single meaning but it may be interpreted by anyone who attends the ceremony with different objectives or reasons. The force of actor/capital is the main factor to determine how this ceremony will be interpreted and how it is transformed into shared values among people within a society. This research was conducted on three ceremonies held in 2007, 2008, and 2009. In the first ceremony, the researcher only conducted some observations to define what Baayun Mulud is. The second occasion was used to collect data using participatory observation by doing indepth interviews in stores and public places. It is found in the research that this ceremony (Baayun Mulud) has undergone some changes. It happens since the ceremony becomes a competition medium among different groups that participants taking part in this ceremony are not only limited to those the ceremony belongs to, namely Banua Halat society, but also those from other groups or community such as government, politicians, entrepreneurs, and political parties. This phenomenon was affected by the shift of ceremony authority from the ceremony’s original possessing society to those authorities legitimated by political powers. When it happens, it seems that the defense of tradition should be a mechanism of cultural politics that all parties need to think about.

Kata Kunci : Perayaan, Baayun Mulud, Kontestasi


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.