Laporkan Masalah

TOWARD RESILIENT COMMUNITY IN LANDSLIDE PRONE AREA CASE OF TIENG VILLAGE, KEJAJAR DISTRICT, WONOSOBO REGENCY

Budi Sulistyo, M. Sani Roychansyah, S.T.,M.Eng.,D.Eng.

2013 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah

Desa Tieng merupakan desa di Kabupaten Wonosobo yang mendapatkan perhatian pemerintah atas kerugian dan korban jiwa yang disebabkan oleh longsor. Topografi bergunung dan curah hujan yang tinggi membuat wilayah ini rawan terhadap longsor. Masyarakat diharapkan mampu mengatasi kondisi yang mengancam tersebut. Kapasitas masyarakat belajar dari bencana di masa lalu diperlukan untuk meningkatkan perlindungan di masa depan. Oleh karena itu, identifikasi kemajuan ketangguhan dalam komunitas ini menjadi penting. Penentuan tingkat ketangguhan dilakukan dengan mengidentifikasi tiga komponen ketahan yang juga merupakan tujuan dari penelitian ini Distribusi potensi bahaya longsor dievaluasi dengan pemodelan GIS. Parameter yang digunakan adalah kemiringan lereng, geologi, kedalaman tanah, penggunaan lahan dan curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 66% dari 318.4 hectare luas keseluruhan Desa Tieng diklasifikasikan ke dalam wilayah dengan tingkat bahaya longsor yang tinggi, sedangkan sisanya berada pada tingkatan sedang. Jumlah penduduk yang berada dalam bahaya adalah 1.081 jiwa atau 25% dari seluruh populasi. Resiko ditentukan dengan menilai faktor resiko yaitu bahaya, kerentanan dan kapasitas respon. Tingkat resiko diklasifikasikan kedalam tingkat rendah dan tinggi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 11,3% area pemukiman diklasifikasikan berada dalam tingkat resiko yang tinggi. Dusun Sidorejo diidentifikasi sebagai wilayah pemukiman paling beresiko dimana 60% wilayahnya berada dalam level resiko tinggi. Persepsi tentang pengetahuan longsor pada kedua tingkat risiko tinggi dan rendah dipengaruhi oleh profil responden. Beberapa responden masih percaya bahwa longsor merupakan takdir. Tapi kebanyakan dari mereka setuju bahwa risiko bencana dapat dikurangi. Mereka menggunakan keterampilan mereka sendiri, bahan dan teknologi yang tepat untuk melakukan langkah-langkah mitigasi struktural dan non-struktural. Hal ini dilakukan secara kolektif di mana semua orang saling membantu dan bekerja sama (\\"gotong royong’). Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa masyarakat Desa Tieng sudah memiliki kesadaran atas isu-isu pengurangan resiko bencata dan kemauan untuk mengatasinya. Mereka memiliki kapasitas yang cukup untuk menangani bahaya mengancam dan kemampuan untuk mengurangi risiko. Namun demikian, keterbatasan membuat usaha mereka cenderung sepotong-sepotong dan untuk jangka pendek

Tieng Village is a village in Wonosobo Regency which has received government’s concern over casualties and losses caused by landslides. It mountainous topography and high rainfall make this area vulnerable to landslides. People have to overcome this threatening condition. Therefore, it is important to identify the progress of resilience in this community. The capacity to learn from past disaster is necessary to improve future protection. The level of resilient community is determined by identifying three components of resilience which also becomes research objectives. Landslide potential hazard distribution is evaluated with GIS modeling. Parameters used are slope, landform, geology, soil depth, land use and rainfall. The result shows that 66% of 318.4 hectares of Tieng Village area is classified in high hazard while the rest is moderate. The number of people who are in danger is 1,081 people, or 25% of the total population. Moreover risk level is determined by assessing risk factors: hazard, vulnerability and response capacity. Risk level is classified as high and low. The result shows that 11.3% of settled areas are at the high risk level. Sidorejo hamlet is identified as the highest risk settlement, in which 60% of its area is in this level. Perception about landslide knowledge on both high and low risk level is affected by respondent’s profile. Some respondents still believe that landslide is a fate. But most of them agree that disaster risk can be reduced. People use their own skills, materials and appropriate technologies to do both structural and nonstructural mitigation measures. Those are done collectively in which all people are helping and working together (“gotong royong”). The conclusion is community in Tieng Village already had awareness of the issues and willingness to address them. They had sufficient capacity to deal with hazard threaten and capability to reduce the risk. Nevertheless, limitations make their efforts tend to be piecemeal and short-term.

Kata Kunci : bahaya longsor, pengurangan resiko bencana, ketangguhan masyarakat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.