Perkembangan dan Kondisi Pelayanan di Kecamatan Puhpelem Kabupaten Wonogiri Sebagai Kecamatan Baru
TRI KURYASTUTI, Prof.Dr.A.J Suhardjo, MA
2013 | Skripsi | GEOGRAFIPemekaran wilayah sebagai salah satu upaya pengembangan daerah merupakan hasil dari identifikasi, inventarisasi, analisis dan implementasi yang nyata dari perencanaan wilayah. Pertimbangan dalam upaya pemekaran wilayah adalah seberapa besar pertumbuhan wilayah, perkembangan wilayah yang berlanjut, pemerataan wilayah, penataan ruang, dan tingkat pelayanan fasilitas sosial ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengetahui perkembangan dan kondisi pelayanan Kecamatan Puhpelem sebelum dan sesudah pemekaran; 2) menjelaskan interaksi antar wilayah dalam menunjang pengembangan pelayanan sosial-ekonomi di Kecamatan Puhpelem ; 3) mengetahui signifikansi hubungan daya layan fasilitas sosial-ekonomi dengan tingkat perkembangan wilayah di Kecamatan Puhpelem ; 4) merencanakan arahan pengembangan Kecamatan Puhpelem disesuaikan dengan fungsinya sebagai pusat pelayanan sosial-ekonomi bagi hinterland dan wilayah sekitar. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari tiap instansi pemerintahan. Data yang digunakan adalah data tahun 1994 (sebelum menjadi Kecamatan Baru) dan data tahun 2007 (sesudah menjadi Kecamatan Baru). Pengambilan data untuk lapangan dilaksanakan pada Bulan Maret hingga Bulan Juni 2007 di Kecamatan Puhpelem. Data sekunder kemudian diolah dengan menggunakan SPSS. Penelitian ini menghasilkan 1) Pelayanan sosial ekonomi di Kecamatan Puhpelem mengalami perkembangan setelah adanya pemekaran kecamatan dengan kondisi pelayanan sosial ekonomi yang baik. 2) Semakin dekat jarak antar pusat pelayanan maka interaksi antar kedua pusat pelayanan tersebut akan semakin intensif. 3) Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara daya layan pelayanan sosial-ekonomi dengan tingkat perkembangan wilayah di Kecamatan Puhpelem. 4) Arahan pengembangan pusat pelayanan di Kecamatan Puhpelem berdasarkan analisis SWOT dibagi menjadi 4 tipe, yaitu Tipe A (Desa Puhpelem), Tipe B (Kelurahan Giriharjo), Tipe F (Desa Sukorejo, Tipe I (Desa Golo,Nguneng,Tengger) Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa 1) Adanya peningkatan potensi demografis yang dimiliki Kecamatan Puhpelem setelah pemekaran wilayah; 2) Adanya peningkatan jumlah dan jenis pelayanan setelah pemekaran wilayah ; 3) Desa IKK (Ibu Kota Kecamatan) merupakan desa yang memiliki keragaman pelayanan tertinggi; 4) Pelayanan pendidikan menengah dan menengah keatas masih belum tercukupi; 5) Secara umum Kecamatan Puhpelem sebagai kecamatan baru telah dapat menyediakan fasilitas pelayanan; 6) Pengembangan pusat pelayanan lebih dititik beratkan pada kebutuhan dan jumlah penduduk tiap desa.
Decentralization as one ways to develop region is a result from identification, inventorization, analysis, and real implementation of regional planning. Regional growth, on going regional development and the service’s state of socio economic facilities are being considered in decentralization. Purposes of this research are : 1) determine the development and conditions of service of Puhpelem sub-district; 2) to explain the interregional interaction to promote socio economic service development in Puhpelem Sub-district ; 3) to find out the correlation between service ability and the state of regional development in Puhpelem Sub-district ; 4) planning the development guidance in Puhpelem sub-district which is adapted with number of resident and the standard of service ability. This is a quantitative research which using secondary data gained from many sources which has related information for this research. The data gained from 1994 (before becoming a Puhpelem Subdistrict) and the data of 2007 (again become the Puhpelem Subdistrict).The data are taken from March until June 2007 in Puhpelem Sub-district. Data are processed by using Statistical software (SPSS). This research resulted are: 1 ) Socio-economic services in Puhpelem Subdistrict growth after the decentralization. 2 ) The closer distance between the center of place and the others centre of place, the interaction between the two service centers will be more intensive services. 3 ) There is no significant relationship between the socio - economic service with the level of development in the PuhpelemSub district . 4 ) Based on SWOT analysi,s the development center divided into 4 types: Type A (Puhpelem Village) , Type B (Giriharjo Village) , Type F (Sukorejo Village) and, Type I (Golo Village , Nguneng Village, TenggerVillage) Potential of demographic in Puhpelem Sub-district are increase after the era of decentralization. Variety and number of services also increased after this era. The capital of sub-district is a place where the highest services variety takes place. Education services such as junior and senior high school were not enough. Generally, Puhpelem Sub-district as a new sub-district can provide service facility for it self. Service center development should focuses at what resident needed and how many of resident in each village (population threshold).
Kata Kunci : Pemekaran wilayah, penduduk, pelayanan.