Analisis Nilai Tambah Olahan Singkong di Desa Srihardono Kecamatan Pundong Kabupaten Bantul
SIGIT PRIANJONO, Prof. Dr. Ir. Dwidjono HD, MS.
2013 | Skripsi | SOS.EK. PERTANIAN (AGROBISNIS)Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui besarnya nilai tambah yang didapat agroindustri tepung tapioka, mie, kerupuk, dan nata de cassava di Desa Srihardono, (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tambah pengolahan tepung tapioka dan faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tambah pengolahan mie, (3) mengetahui kendala dalam kegiatan pengolahan singkong. Sampel responden yang dipilih sebanyak 55 pengrajin dari total 102 pengrajin yang ada dengan rincian; 32 pengrajin tepung tapioka, 12 pengrajin mie, 8 pengrajin kerupuk, dan 3 pengrajin nata de cassava. Untuk menghitung nilai tambah digunakan metode Hayami dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengolahan singkong digunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) nilai tambah tepung tapioka sebesar Rp 370/kg singkong, nilai tambah mie sebesar Rp 8.633/kg tepung tapioka, nilai tambah kerupuk sebesar Rp 1.482/kg tepung tapioka, nilai tambah nata de cassava sebesar Rp 602/liter limbah, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tambah pengolahan singkong menjadi tepung tapioka adalah harga singkong, harga tepung tapioka, dan upah giling; faktorfaktor yang mempengaruhi nilai tambah pengolahan tepung tapioka menjadi mie adalah harga tepung tapioka dan harga bawang, (3) kendala yang dialami pengrajin adalah permodalan, cuaca, dan penanganan limbah.
This research aims to: (1) analyse the value added of agroindustry of tapioca flour, noodles, crackers, and nata de cassava in Srihardono Village, (2) analyse the factors that affect the value-added processing of tapioca flour and the factors that affect the value-added processing of noodles, (3) determine constraints in processed cassava. There were 55 producers were chosen as sample respondents out of 102 producers in this research such as: 32 producers of tapioca flour, 12 producers of noodles, 8 producers of crackers, and 3 producers of nata de cassava. Model of Hayami was applied in calculation of value added of cassava and multiple linear regression model was applied to determine factors influencing processing of cassava. The results showed that: (1) value added of tapioca flour is Rp 370/kg cassava; value added of noodle is Rp 8.633/kg tapioca flour; value added of crackers is Rp 1.482/kg tapioca flour; value added of nata de cassava industry are Rp 602/liter of waste; (2) factors that affect the value-added in processing of cassava into tapioca flour are price of cassava, price of tapioca flour, and wages; while factors that affect the value-added in processing of tapioca flour into noodles are price of tapioca flour and garlic; (3) constraints of producers are capital, weather, and waste handling.
Kata Kunci : nilai tambah, agroindustri, olahan singkong