PEMANFAATAN DATA PENGINDERAAN JAUH DAN SIG UNTUK KAJIAN KONVERSI LAHAN PERTANIAN MENJADI NONPERTANIAN DI SEBAGIAN KABUPATEN BANTUL
BARID SETIAWAN, Drs. Zuharnen, MS.
2013 | Skripsi | GEOGRAFIPerubahan penggunaan lahan khususnya konversi lahan pertanian menjadi nonpertanian berjalan dengan cepat, Hal ini menyebabkan lahan pertanian produktif semakin menyempit sedangkan lahan terbangun semakin luas. Berkurangnya lahan pertanian secara tidak langsung dapat mempengaruhi hasil pertanian yang tidak maksimal, selain itu adanya daerah terbangun yang tumbuh dengan pesat melebihi dari ketentuan yang ada dalam rancangan tata ruang, untuk itu perlu adanya pemantauan terhadap konversi lahan. Upaya pemantauan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya konversi lahan pertanian menjadi non pertanian tahun 2001-2007 dapat dilakukan secara terestrial, namun cara ini memerlukan biaya, waktu dan biaya yang relatif banyak. Agar lebih efektif dan efisien maka salah satu solusinya dengan menggunakan teknik penginderaan jauh. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan data penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengetahui konversi lahan pertanian menjadi nonpertanian di sebagian Kabupaten Bantul, mengetahui pola konversi lahan berdasarkan hasil interpretasi data penginderaan jauh multitemporal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah integrasi antara penginderaan jauh, SIG, data sekunder dan cek lapangan. Metode penginderaan jauh dengan teknik interpretasi foto udara dan citra Ikonos, overlay, analisis multitemporal dan analisis kualitatif untuk mengetahui dan mendiskripsikan hubungan dari variabel pengaruh, dalam penelitian ini digunakan foto udara pankromatik hitam putih skala 1: 20.000 tahun pemotretan 2001 dan citra Ikonos tahun perekaman 2007. Klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi yang disusun oleh Sutanto (1981) dengan modifikasi. Hasil dari penelitian diperoleh informasi bahwa hasil uji ketelitian dari pemanfaatan data penginderaan jauh memiliki nilai ketelitian interpretasi sebesar 83,20 %. Konversi lahan yang terjadi selama tahun 2001 – 2013 di sebagian Kabupaten Bantul menyebabkan perubahan lahan peranian menjadi pemukiman seluas 792,76 Ha Melalui analisis kualitatif dapat diketahui dan didiskripsikan bahwa faktor yang mempengaruhi konversi lahan antara lain : peningkatan jumlah penduduk, ketersediaan aksesibilitas berupa jaringan jalan, pekerja dalam sektor agraris dan adanya peristiwa alam berupa bencana alam gempa bumi. Sementara itu daerah-daerah yang banyak mengalami konversi lahan pertanian menjadi non pertanian adalah Kecamatan Bantul, bentuk pola persebaran konversi lahan berupa pola menyebar.
Changes in land use particularly agriculture land into non-agricultural conversion proceed quickly, it causes narrowing of productive agricultural land while the land up getting widespread. Reduction in agricultural land can indirectly affect agricultural output is not the maximum , but it woke up the area that is growing rapidly exceed the existing provisions in the draft layout, so that need for monitoring of land conversion. Effort to monitor and analyze the factors that affect the conversion of agricultural land into non-agricultural in 2001-2007 can be either terrestrial , but this method requires the cost, time and cost relatively much. To be more effective and efficient then one solution is to use remote sensing techniques. The purpose of this study is to utilize remote sensing data and Geographic Information Systems ( GIS ) to determine the conversion of agricultural land into non-agricultural part of Bantul, mapping of land conversion based on the interpretation of multitemporal remote sensing data. The method used in this study is the integration of remote sensing , GIS , secondary data, and field checks . Method of remote sensing and aerial photo interpretation techniques Ikonos imagery , overlay , multitemporal analysis and qualitative analysis to determine and describe the relationship of variable influence, in this study used a black and white panchromatic aerial photo scale of 1 : 20.000 years of shooting 2001 and 2007 recording of Ikonos imagery. Classification used is the classification by Sutanto (1981 ) with modifications. The results of the study obtained information that the accuracy of test results from the utilization of remote sensing data interpretation accuracy value of 83,20 % . Land conversion that occurred during the years 2001-2013 in most districts of Bantul cause agricultural changes into residential land area of 792,76 ha. Through qualitative analysis can be known and described that the factors that influence land conversion include: an increase in population, the availability of accessibility of a road network, workers in the agricultural sector, and the presence of natural events such as earthquake . Meanwhile many areas experiencing conversion of agricultural land into non-agricultural is Bantul district, Bantul, distribution patterns form si a diffuse pattern of land conversion.
Kata Kunci : -