PENGARUH JAMUR MIKORIZA ARBUSKULAR TERHADAP PERKEMBANGAN PENYAKIT BERCAK DAUN DAN PERTUMBUHAN TEBU PADA KONDISI KERING
ADIK PIPIT APRILIANTO, Prof. Dr. Ir. Bambang Hadisutrisno, D.A.A.
2013 | Skripsi | ILMU HAMA & PENYAKIT TUMBUHANJamur mikoriza arbuskular (JMA) merupakan endomikoriza yang dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap stres biotik dan abiotik, baik secara sistemik maupun lokal. Produktivitas tebu menurun akibat terjadinya kekeringan dan gangguan penyakit bercak daun, serta keterbatasan lahan. Diharapkan pemberian JMA dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif dan menghambat perkembangan penyakit bercak daun. Penelitian pengaruh JMA terhadap perkembangan penyakit bercak daun dan pertumbuhan tebu pada kondisi kering dilakukan mulai bulan Februari sampai Agustus 2013, dengan rancangan acak lengkap dua faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama adalah isolat JMA yang terdiri atas isolat Klaten, Kulon Progo, Sleman, Batang, Bantul, dan tanpa JMA. Faktor kedua adalah selang waktu penyiraman yang terdiri atas selang waktu penyiraman 7 hari dan 2 hari. Parameter yang diukur meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, jumlah anakan, kehijauan daun, laju fotosintesis, berat kering tanaman, jumlah spora, persentase infeksi mikoriza, intensitas penyakit, dan laju infeksi penyakit utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian isolat JMA dapat meningkatkan secara nyata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, jumlah anakan, kehijauan daun, laju fotosintesis, dan berat kering tanaman. Isolat JMA mampu meningkatkan parameter pertumbuhan vegetatif pada selang waktu penyiraman 7 hari dan tidak berbeda nyata dengan selang waktu penyiraman 2 hari. Pemberian JMA dapat menghambat perkembangan laju infeksi penyakit karat yang disebabkan oleh Puccinia kuehnii pada selang 7 hari dan 2 hari. Pemberian JMA berkorelasi positif dengan peningkatan parameter pertumbuhan vegetatif, tetapi berkorelasi negatif dengan laju infeksi penyakit karat.
Arbuskular Mycorrhizal Fungi (AMF) reffer to endomycorrhiza that can systematically or locally enhance of plants toward biotic and abiotic stress. The productivity of sugarcane plant will decrease due to drought, disturbance of leaf spot disease and limited farmland. It is expected that the presence of AMF able to increase the vegetative growth and hinder this disease. The study on effect of AMF on the growth of rust disease and the growth of sugarcane plant in dry condition was strarted from February to Agustus 2013, Arranged by a completely randomized design (CRD) with two factors and 3 replications. The first factor is isolate of AMF consisting of Klaten, Kulon Progo, Sleman, Batang, Bantul and without AMF. The second factor is the watering interval: 7 days and 2 days. The parameter measured includes the plant height, trunk diameter, number of leaves, number of tillers, greenness of leaf, the rate of photosynthesis, plant dry weight, number of spores, the percentage of mycorrhizal infection, disease intensity, and the disease infection rate. The results showed that the isolate of AMF can significantly enhace the plant height, trunk diameter, number of leaves, number of buds, greenness of leaf, the rate of photosynthesis, and dry weight of plant. The isolate of arbuscular mycorrhizal fungi is able to increased the parameter of vegetative growth in 7 days watering interval and not significantly different with 2 days watering interval. On the other hand, arbuscular mycorrhizal fungi can hinder the orange rust infection rate caused by Puccinia kuehnii at 7 days and 2 days watering interval. Using AMF is positively correlated to the increase of vegetative growth parameter’s and negatively correlated to the infection rate of orange rust disease.
Kata Kunci : Jamur Mikoriza Arbuskular, Selang waktu penyiraman, Tebu, Karat, Puccinia kuehnii