Pembangunan desa dalam orde baru :: Nostalgia desa indah
SAWDA, Kumi, Dr. P.M. Laksono
2001 | Tesis | S2 AntropologiSatu abad yang lalu, metafora "ikat pinggang bertatah zambrut" menekankan keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia. Akhir-akhir ini keindahan tersebut ditampilkan lagi dalam sebuah program TV "Anak Seribu Pulau"-- menyodorkan renungan kepada anak-anak yang mewarisi pemandangan yang indah dan kebudayaan tradisional. Akan tetapi, setiapepisodedalamprogramtersebutdiwarnaisepia, yang berkonotasi sentimen dan nostalgia, seperti mereka menggambarkan sesuatu yang sudah hilang. Dari ini muncul pertanyaan: mengapa produser dengan sengaja mengaitkan kehidupan tradisional dan anak-anak yang semestinya akan menginjakkan kaki ke dunia modern dan lebih besar? Selama Orde Lama, Indonesia menikmati perkembangan ekonomi di kawasan kota, padahal kemiskinan dan keterbelakanganmasyarakatdesamenjadimasalahserius. Baik pemerintah maupun LSM mengimplementasi program pemberantasan kemiskinan, namun program-program tersebut tidak berhasil dalam pemberdayaan masyarakat desa. Studi kasus untuk tesis ini dilaksanakan pada sebuahkelompokusaha bersama (KUB) wanita yang menjalankan industri batik di Klaten, Jawa Tengah, dengan menggunakan metode kualitatif dan interpretatif. Dari hasil penelitian tampak bahwa anggota KUB tidak berhasil mencapai kemandirian melalui programdemikian, tetapimalahterisolasidaninvolusidalam masyarakat desa menjadi semakin kokoh. Kebijakan Orde Baru menggunakan kembali gagasan yang konvensional, misalnya ide kekeluargaan, identitas komunitas yang tertutup, serta industri tradisional untuk menciptakan tradisi baru. Hal ini merefleksikan nostalgia akan sesuatu yang hilang sejak munculnya industrialisasi. Bagi Orde Baru, "desa indah" tetap tersimpan secara abadi.
A century ago, the metaphor "a girdle of emeralds" spoke to Indonesia's natural beauty and cultural wealth. Recently that beauty was represented in the TV program "Anak Seribu Pu1au"-ananthem for childrenwhowould inherit Indonesia's beautiful scenery and traditional cultures. However every episode in the program was filmed in sepia tones, evoking sentimentality and nostalgia as if they were depicting something that had been lost. This raises a question: why do the producers intentionally connect traditional life and children who will supposedly step into awider, modernworld? During the New Order regime Indonesia enjoyed economic development in urban areas, yet poverty and backwardness became a serious problem especially in rural areas. Both the government and NGO simplemented poverty all eviation programs, but these did not result in the empowerment of villagers. Acase study for this thesis was under taken in a women'sbatik home industry group in a village in Klaten, Central Java, using qualitative and interpretative method. The result shows that the group members could not attain self-reliance through the program, but rather saw further isolation and involution of the village. The New Order policy reused conventional themes such as the idea of family, closed community identity, and traditional industry to create a new tradition. This too reflects official nostalgia about what has been lost since industrialization. For the New Order, the "beautiful desa" remain preserved forever
Kata Kunci : Budaya Masyarakat Desa,Pembangunan Desa