POLA INTERAKSI PELAKU SEKS PRA NIKAH (Studi Terhadap Pasangan Pemuda Dengan Kehamilan Tak Diinginkan Di Gunung Kidul)
TEDDY FIRMANSYAH, Drs.Purwanto, SU, M.Phil,
2013 | Skripsi | SosiologiPenelitian ini membahas masalah perilaku seks pra nikah dikalangan pemuda yang akhir-akhir ini semakin mengkhawatirkan. Angka pernikahan dini di Gunung Kidul adalah yang tertinggi se-DIY, pada tahun 2009 berjumlah 60 hingga 2012 mencapai 170 kasus, 90%-nya dikarenakan kondisi perempuan yang telah hamil. Masalah ini menjadi lebih menarik untuk diteliti karena masyarakat Gunung Kidul dikenal sebagai masyarakat yang tradisional dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kebudayaannya. Seks bebas seringkali dikaitkan dengan pengaruh dari pola asuh keluarga yang permisif dan pergaulan bebas. Pola asuh dan pola interaksi di luar keluarga berpengaruh dalam pemaknaan pelaku terhadap seks bebas dan membawa mereka pada tindakan tersebut. Sehingga yang menjadi pertanyaan besar dalam penelitian ini adalah bagaimana pola interaksi dan makna yang terbangun oleh pelaku seks bebas di Gunung Kidul? Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, studi kasus digunakan mengingat ini adalah fenomena yang ekstrem dan unik, sehingga mampu untuk mendapat hasil penelitian yang lebih detail dan mendalam. Teori interaksionisme simbolik digunakan agar dapat menganalisis fenomena ini lebih dalam sampai tingkat pemaknaan. Menggunakan proposisi teoritis dari teori interaksionisme simbolik membantu dalam penentuan fokus penelitian, pengumpulan data serta menjelaskan fenomena secara holistik. Informan dalam penelitian ini adalah pasangan pemuda dengan pernikahan yang dilatarbelakangi kehamilan tak diinginkan. Lokasi penelitian adalah Kabupaten Gunung Kidul DIY. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa secara teoritis pola asuh koersif dan permisif dalam keluarga berpengruh terhadap perilaku seks pra nikah. Tetapi keluarga hanya sebagai faktor internal yang ternyata tidak lebih kuat dari faktor eksternal (peer group dan masyarakat) dalam menentukan perilaku seks pra nikah. Keluarga mampu membentuk makna bahwa seks bebas pra nikah itu dilarang namun tak menentukan tindakan pelaku. Polas asuh koerssif justru membuat pelaku menentang orangtua dan menciptakan makna bahwa seks bisa dilakukan sebagai cara untuk memperoleh restu orang tua. Perilaku seks pra nikah lebih dipengaruhi oleh pergaulan dalam peer groupnya yang permisif, proses identifikasi membuat pelaku mengikuti pandangan, perilaku dan kebiasaan serta makna yang terbentuk didalam peer group. Prosesi “Nyeksekne†sebagai salah satu tahapan pernikahan di Gunung Kidul telah menciptakan pemaknaan bahwa seks pra nikah boleh dilakukan apabila telah melalui prosesi tersebut meski belum sah secara hukum dan agama.
-
Kata Kunci : seks pra nikah, pola asuh, interaksi sosial dan pemaknaan