Strategi pengelolaan irigasi pasca pembangunan fisik :: Penelitian kasus pada daerah irigasi Komering Sumatera Selatan
MAWARDI, Dr.Ir. Djoko Legono
2001 | Tesis | S2 Teknik SipilProyek pengembangan Irigasi Komering merencanakan berbagai keperluan penyediaan air, seperti pengendalian banj ir, air irigasi dan lain-lain. Penyediaan air irigasi diperlukan untuk mengairi areal sawah seluas 76.888 ha di wilayah Propinsi Sumatera Selatan dan 50.200 ha di Propinsi Lampung. Selain itu proyek ini dimaksudkan juga untuk pengendalian banjir, pemeliharaan sungai Komering hilir, pengembangan usaha perikanan, pariwisata dan penyediaan sumber tenaga lisrtik berupa PLTA dengan kapasitas 207,5 MW serta menunjang program transmigrasi. Berdasarkan data ketersediaaan air pada debit andalan 80 % belum dapat memenuhi areal sawah yang akan diairi, yaitu untuk target pelayanan air bagi areal irigasi seluas 69.488 ha. Kondisi jaringan irigasi yang ada sekarang secara hngsional telah menjangkau areal pelayanan seluas 45.904 ha. Untuk itu diperlukan upaya peningkatan unjuk kerja pengelolaan sistem irigasi yang ada. Dalam studi ini diterapkan analisis simulasi dan optimasi menggunakan metode Program Linier. Tujuan optimasi adalah memaksimumkan has lahan yang dapat diairi selama periode satu tahun. Fungsi kendala berupa debit minimum yang harus disuplai untuk kebutuhan air non-irigasi, pola dan jadwal tanam. Hasil simulasi dan optimasi merupakan masukan untuk menyusun kebijakan strategi pengelolaan irigasi, yang dianalisis dengan metode Analityc Hierarchy Process (AHP). Luas areal optimal yang dapat ditanami dengan sistem multiple cropping untuk pola tanam padi-palawija selama musim tanam dalam periode satu tahun adalah seluas 122.941 ha, dengan intensitas tanam 268 %. Hasil evaluasi dari strategi Pembaharuan Kebijaksanaan Pengelolaan Irigasi (PKPI) memberikan nilai bobot tingkat kepentingan penyerahan kewenangan pengelolaan irigasi kepada petani sebesar 0,296, pemberdayaan P3A 0,237, tugas dan tanggung jawab pengelola irigasi 0,19 1 , iuran pelayanan air irigasi 0,153 dan keberlanjutan irigasi sebesar 0,123. Dari masing-masing kebijakan secara keseluruhan memberikan prioritas untuk pemberdayaan P3A memiliki nilai bobot sebesar 0,528 dan peran pemerintah sebesar 0,472. Pola dan jadwal tanam dan kebijakan irigasi optimal akan meningatkan produktivitas usaha tani, dengan nilai air tahunan sebagai kontribusi petani untuk kegiatan Operasi dan Pemeliharaan (OP) irigasi sekitar Rp. 722.988.000,-
The Komering Irrigation Development Project covers for various water diversion program such as flood control, irrigation water and others. The water diversion supplies irrigation water demand of about 76.888 ha fields on the Province of South Sumatera and 50.200 ha on the Province of Lampung. Beside to control the flood, the project is also proposed to maintain the Komering river downstream reach, to develop fishery and tourism business, to supply electricity with the capacity of about the 207,5 MW HEPP and to support the transmigration program. Based on the data of water availability, the 80% dependable discharge does not covered the final target of 69,488 ha irrigated area. The current irrigation network only covers 45,904 ha, agriculture field area. Therefore, it is required to improve the performance of current irrigation management-system. The research applies simulation and optimization analysis using Linear Programming method. The optimization is aimed to maximize the available field for cultivation in one-year period. The constraint hnctions are the minimum discharge supplied for non-irrigation water demand, cropping pattern and the schedule. The optimization and simulation results, analyzed by Analytic Hierarchy Process, are used as the inputs of the process to set up the policy for determining the irrigation management strategy. The optimum field area for multiple cropping cultivation with paddypalawija pattern in every one-year period of the planting season is 122.941 ha, with cropping intensity of 268 %. The evaluation results of the Irrigation Management Policy Reform show that of handing over giving irrigation management authority to the farmers has a significant level value of 0.296, development of Water Users Associations PA) is of 0.237, redefinition of the roles and responsibilities of irrigation management organizations is of 0,191, irrigation service fee and financing of irrigation system management is of 0.153 and sustainability of irrigation systems level of 0.123. The main policy empowerment is of farmer organizations or WUA program gives priority level of 0.528 and the government role is of 0.472. Optimal irrigation management policy by arrangement of cropping pattern and its schedule would improve farmer production. At this optimal arrangement the farmer need to contributed operation and maintenance service cost at about Rp.722.988.000.- per year for the whole area.
Kata Kunci : Hidrologi,Pengelolaan Irigasi