Laporkan Masalah

Ketika Perempuan Menjadi Jurnalis (Studi Etnografi Feminis terhadap Profesionalisme Jurnalis Perempuan)

LINNA PERMATASARI, wisnu Martha Adiputra, S.I..P, M.Si

2013 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Sebagai pelaku profesi, jurnalis perempuan memiliki keunikan tersendiri. Kehidupan jurnalis merupakan dunia maskulin yang didominasi oleh laki-laki. Meski belum ada angka pasti mengenai perbandingan jumlah jurnalis laki-laki dan perempuan, banyak pihak mempercayai diskriminasi ini. Bahwa jurnalis perempuan bekerja dalam male-industry. Ashadi Siregar menyebut jurnalis perempuan sebagai: ‘orang luar’ di tengah ‘orang dalam’. Dominasi laki-laki dalam struktur pemangku kebijakan seringkali menghasilkan keputusan yang lelakisentris. Tak hanya dalam profesinya, jurnalis perempuan diopresi dalam kehidupan sosial. Jurnalis perempuan hidup dalam budaya patriaki yang kental, sehingga mereka harus melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik. Tanggung jawab domestik tetap dibebankan kepada perempuan meski ia sudah melakukan pekerjaan yang menghabiskan waktu dan tenaga. Negosiasi peran domestik dibutuhkan, hal ini untuk mengatur pembagian waktu antara pekerjaan dan rumah tangga. Dalam kondisi ini, jurnalis perempuan masih mengalami yang disebut superwoman syndrome. Sindrom ini memosisikan perempuan pada pihak di tengah-tengah antara pekerjaan dan rumah tangga. Berangkat dari teori Standpoint, penelitian ini dikolaborasikan dengan metode etnografi feminis. Tujuannya penelitian ini mengangkat pandangan dan suara perempuan ke dalam tulisan ilmiah. Metode etnografi feminis dipilih karena kenyataannya definisi perempuan dalam tulisan ilmiah selama ini dibuat dengan sudut pandang laki-laki. Metode etnografi feminis berusaha untuk memahami pengalaman perempuan dari sudut pandang perempuan sendiri, sehingga dicapai keseimbangan sudut pandang ilmiah. Penelitian melihat bagaimana proses jurnalis perempuan melakukan profesionalisme kerjanya di tengah tuntutan sosial khas patriarki yang dihadapinya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model kerja sexline ternyata tidak lagi dianut oleh institusi media. Dibuktikan dengan salah satu informan yang mengerjakan rubrik Olah Raga serta informan lain yang sering mengerjakan laporanlaporan investigasi untuk Majalah TEMPO. Dari segi profesionalisme secara keseluruhan, jurnalis perempuan sudah mampu bersaing dengan laki-laki, namun terdapat beberapa batasan yang kembali menarik jurnalis perempuan ke ranah domestik, seperti: kehamilan dan perintah orang tua. Tarik menarik antara profesi dan peran domestik masih terjadi pada jurnalis perempuan. Bagi informan yang telah menikah, harus menyandang peran multi peran/ triple burden of women. Posisi ini yang kemudian meletakkan perempuan dalam superwoman syndrome yang tak berkesudahan. Posisi dilematis tersebut meletakkan jurnalis perempuan sebagai pemeran utama dalam dinamika rumah tangga, sehingga pertimbangan keluarga tetap menjadi yang utama dalam bekerja.

As proffesional actor, women journalist are unique. They are dominated by men in masculine world. Although no exact point can represent the comparison number of men and women journalist, many people believe this discrimination. women journalist works in the male industry. Ashadi Siregar said women journalist as ‘outsiders’ in the meddle ‘insiders’. Men dominance in the structure of the policy makers often produce man-chauvinist decisions Not only in her profession, women journalist undominated in social life. Women journalists live in a patriarchal culture, so they should do the domestic tasks. Domestic responsibilities still borne by women, although he has been doing her proffesional work. Negotiating the role of domestic is useful, it is to managing her proffesional work’s time and home work’s time. Under these conditions, women journalist gets her own superwoman syndrome. This syndrome is positioning women in the middle of work and home responbilities. Departing from the Standpoint Theory, this study collaborated with feminist ethnography. The aim of this study raised the views and voices of women in the scientific literature. Feminist ethnographic method chosen, in fact, women's reality in the scientific literature were made by men’s point of view. Feminist ethnography useful to understanding the experiences of women from their perspective, so we achieved a balance of scientific viewpoints. This research to see how women journalist doing her proffesionality in the middle of patriarchal pressure. These results indicate that the sexline model is no longer workingin media institutions. Evidenced by one of the informants who works in the Sports rubric and other informants who often work on investigative reports for TEMPO Magazine. But overall, professionalism of women journalists have been able to compare with men, but there are some condition that have to pull her back into the domestic sphere, such as: pregnancy and parental decisions. Tug of war between the profession and the domestik role of women journalists still going on. For informants who have married, shall bear the role of multi-role / triple burden of women. This position is placing women in a superwoman syndrome. it means, home work responbility still become a main factor in doing her proffesional work

Kata Kunci : jurnalis perempuan, jurnalistik, profesionalisme, etnografi feminis, superwoman sybdrome, standpoint theory


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.