Analisis pengaturan pola pemanfaatan sumberdaya air secara optimum dengan meninjau rencana adanya Waduk Banyuripan :: Kasus di Kabupaten Bantul
BAYUADJI, Gatut, Dr.Ir. Nizam, MSc
2001 | Tesis | S2 Teknik SipilPertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan meningkatnya kegiatan pembangunan membawa konsekuensi terhadap semakin besamya jumlah kebutuhan air. Kondisi seperti itu akan bertambah kritis apabila jumlah ketersediaan airnya sangat terbatas. Pada saat ini problematika semacam itu hampir semua daerah di Indonesia telah mengalaminya dan tidak terkecuali yang terjadi di Kabupaten Bantul. Rencana di bangunnya Waduk Banyuripan di perbatasan antara Kabupaten Bantul dan Gunung Kidul merupakan salah satu realisasi pemerintah dalam usaha pengembangan sumberdaya air untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya suatu pemikiran tentang perencanaan sistem pola pemanfaatan sumberdaya air yang tersedia baik dari air tanah maupun air permukaan yang merupakan hasil alokasi release dari Waduk Banyuripan untuk Kabupaten Bantul secara optimal yang didasarkan pada jumlah kebutuhannya. Analisis pada penelitian ini dilakukan dengan pendekatan optimasi program tinier yang pemodelannya didasarkan pada cara pengelolaan sumberdaya air pada tingkat regional. Perangkat lunak yang digunakan adalah lindo versi 6.1. Fungsi tujuannya adalah memaksimumkan penjualan air dengan ketersediaan dan kebutuhan air sebagai fungsi kendala. Variabel keputusan ditetapkan berjumlah 26 variabel untuk tiap bulannya, yaitu terdiri dari kebutuhan air untuk irigasi, non irigasi dan lugs kolam untuk perikanan. Perhitungan untuk masukan model optimasinya yang berupa ketersediaan air permukaan yang merupakan alokasi release Waduk Banyuripan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak penelusuran (routing). Data aliran yang dipakai adalah aliran rendah andalan 80%, 90%, dan 95% yang dihitung dengan model Mock, sedangkan untuk ketersediaan air tanah didekati dengan pendekatan satuan akifer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keuntungan optimum yang didapatkan berdasarkan pada expected benefit adalah dengan menggunakan ketersediaan air tanah dan air permukaan dengan tingkat keandalan 90% dan alternatif jadual mulai tanam pertanian ke-6 (dua minggu pertama bulan Desember). Semua kebutuhan air yang dianalisis hampir dapat dipenuhi dengan hanya memanfaatkan air permukaan. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan domestik, perkantoran, fasilitas kesehatan, fasilitas peribadatan, fasilitas umum, pariwisata, pertanian, dan peternakan. Khusus untuk kebutuhan industri, pendidikan, kebutuhan lain-lain, dan perikanan pola pemenuhannya sudah harus menggunakan kombinasi antara air permukaan dan air tanah dengan rincian pola secara berurutan adalah (96% : 4%) untuk industri, (99% : 1%) untuk pendidikan, (91% : 9%) untuk kebutuhan lain-lain dan (31% : 69%) untuk perikanan. Jumlah air yang digunakan adalah 173.432.818 m3/th terdiri dari 20.351.360 m3/th (12%) air tanah dan 153.081.458 m3/th (88%) air permukaan. Besar keuntungan total yang dihasilkan adalah 39,027 milyar dengan rincian Rp. 0,814 milyar dari pengusahaan lahan irigasi (pertanian) seluas 1365,51 hektar/tahun, Rp. 0,543 milyar dari pengusahaan perikanan seluas 766,14 hektar/tahun, Rp. 0,067 milyar dari peternakan, Rp. 4,361 milyar dari pengusahaan air untuk pemenuhan kebutuhan lain-lain, dan Rp. 33,242 milyar dari pengusahaan air untuk pemenuhan kebutuhan DMI (kebutuhan domestik, perkantoran, fasilitas kesehatan, industri, fasilitas peribadatan, fasilitas umum, pariwisata, pendidikan dan kebutuhan untuk pengganti kehilangan air).
The increasing growth of population and development activities carries the consequence of higher water demand. It leads to a more critical condition due to limited water availability. Currently, similar problem is found in many part of Indonesia, including in Bantul District. The construction plan of Banyuripan Reservoir, which is situated at the border point between Bantul and Gunung Kidul District, is one of Government efforts to cope with the problem of water resources exploitation. Thus, a concept is required to plan a good and optimal exploitation pattern system on water resources, for the either groundwater or runoff resulted from Banyuripan Reservoir released in Bantul District, based on the demand. Optimization approach and linear programming are employed for the analysis based on water resources management modeling on regional level. The objective function is to maximize water selling (the revenue) with supply and demand as the constraint functions. Decision variables defined are 26 for every month, consist of water demand for irrigation, non-irrigation, and fishponds extent. The calculation for optimization model input, which is the runoff supply as the release allocation of Banyuripan Dam, is conducted by routing software. Data of flows employed are the low flow with 80%, 90%, and 95% reliability calculated by Mock model. On the other hand, ground water supply is approached by aquifer unit. The result of this research shows that optimum profit obtained based on expected benefit is by using groundwater and runoff availability with 90% reliability level and on the 6th cultivation starling pattern alternative (the first two weeks in December). Almost all of the water demand can be supplied only by runoff exploitation covering the water demand for domestic, official, health facility, religious facility, public facilty, tourism, agriculture and farming. Especially water demand for industry, education, fishery and miscellaneous needs, the supplying pattern must use the combination of runoff and groundwater with exploitation patterns of (96% : 4%) for industrial demand, (99% : 1%) for educational demand, (31% : 69%) for fishponds demand, and (91% : 9%) for miscellaneous demand. Water used in the exploitation is 173,432,818 m3/year and consists of 20,351,360 m3/year (12%) for groundwater and 153,081,458 m3/year (88%) for runoff. The total profit that can be obtained is 39.027 billion rupiahs. This amount covers the 0.814 billion from irrigation land efforts of 1,356.51 hectare/year; 0.543 billion rupiahs from fishery efforts of 766.14 hectare/year; 0.067 billion rupiahs from livestock efforts; 4.361 billion rupiahs from miscellaneous supplying efforts, and 33.242 billion rupiahs from DMI supplying efforts (the water demands for domestic, official, health facility, industrial, religious facility, public facility, tourism and water decrease replacement).
Kata Kunci : Sumberdaya Air, Pemanfaatan Waduk