Implementasi Program Pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Sorosutan dan Kelurahan Semaki Kota Yogyakarta
RIZKA AZIZAH ANASTUTI, Dr.Ambar Widaningrum, M.A
2013 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih menjadi perhatian pemerintah karena tingkat penderitanya selalu mengalami fluktuatif atau ketidaktetapan bahkan seringkali menimbulkan KLB. Penyakit ini banyak ditemukan di daerah tropis seperti di Indonesia dan tidak terkecuali juga menjangkit kota-kota di Indonesia seperti Kota Yogyakarta, DIY. Untuk mengendalikan penyakit DBD agar angka penderitanya dapat ditekan atau diturunkan, maka pemerintah memberikan sebuah solusi yaitu dengan dikeluarkannya Program Pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, daerah yang sering mengalami tingginya angka penderita DBD adalah Kelurahan Sorosutan sedangkan di wilayah kecamatan yang sama yaitu Kelurahan Semaki penderitanya cenderung selalu rendah, sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi program pengendalian di kedua wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi lapangan dan studi dokumentasi. Sedangkan untuk key-informan dalam penelitian ini Bidang P2PL Dinkes Kota Yogyakarta programmer Demam Berdarah Dengue (DBD) Puskesmas Umbulharjo I dan II, Surveilans Kelurahan Puskesmas Umbulharjo I dan II serta masyarakat yang terjangkit penyakit DBD. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan hasil implementasi di kedua wilayah tersebut. Pertama Intensitas komunikasi antara implementor dengan masyarakat dan tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyakit DBD. Kedua adanya jumlah sumber daya manusia yang tidak sepadan dan yang ketiga adalah kondisi lingkungan dari masing-masing wilayah Kelurahan yang tidak sama. Dari hasil penelitian maka dapat memberikan gambaran bagaimana implementasu program pengendalian DBD dari masing-masing wilayah penelitian
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a contagious disease that is still a concern of government because the sufferer always experience fluctuating levels or even instability often lead to outbreaks. This disease is found in tropical regions such as Indonesia and no exception is also infecting the cities in Indonesia such as Yogyakarta, DIY. In order to control the number of patients with dengue disease can be reduced or lowered, then the government provide a solution to the issuance of the Program Control Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Based on data from the City Health Office Yogyakarta, areas often experience high rates of dengue fever is Sorosutan village while in the same districts, namely semaki village sufferers tend to be always low, so this study was conducted to determine how the implementation of control programs in these areas. This study uses descriptive qualitative approach. Data collection techniques in this study using interviews, field observation and documentation. As for the keyinformants in this research field P2PL City Health Office Yogyakarta programmer Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) Umbulharjo Health Center I and II, Surveillance Umbulharjo Village Health Center I and II as well as the people who contracted dengue fever. Based on the results of the study indicate that there are several factors that contribute to differences in the implementation of the results of the two regions . The intensity of the first communication between the implementor with the community and the level of public knowledge about dengue disease . Both the number of human resources that are not commensurate and the third is the environmental conditions of each region are not the same village . From the research , it can give you an idea of how implementasu dengue control program of each research area
Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue (DBD), program, kelurahan