Laporkan Masalah

ANALISIS FREKUENSI DAN AMPLIFIKASI MIKROTREMOR DALAM MENENTUKAN TINGKAT KERENTANAN GEMPABUMI DI DAERAH CANDI PRAMBANAN DAN SEKITARNYA, KABUPATEN KLATEN, PROPINSI JAWA TENGAH

RIZKY CAHYA PUTRA, Salahuddin Husein S.T., M.Sc.,Ph.D

2013 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI

INTISARI Yogyakarta adalah salah satu propinsi di pulau Jawa yang memiliki unsur kebudayaan yang sangat tinggi khususnya bangunan bersejarah yang menjadi pusat perhatian para wisatawan domestik maupun mancanegara untuk datang ke Yogyakarta. Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar yang ada di Indonesia yang menggambarkan suatu kejayaan masyarakat Jawa pada jaman dahulu. Candi yang tersusun atas material alam hasil letusan Gunung Merapi tersebut seiring berjalannya waktu menjadi menurun akan kekokohannya, tercermin oleh rusaknya kompleks Candi Brahma akibat peristiwa gempabumi yang terjadi tahun 2006 silam mendorong peneliti untuk memetakan tingkat kerentanan wilayah Candi Prambanan dan sekitarnya guna melestarikan bangunan bersejarah agar tetap kokoh tidak termakan usia. Langkah dalam menginvestigasi pengaruh kerusakan akibat gempabumi adalah dengan studi geologi lokal daerah tersebut menggunakan pengukuran mikrotremor melalui metode HVSR. Parameter HVSR yang dihasilkan berupa frekuensi natural dan amplifikasi mampu mengidentifikasi wilayah rawan atau aman terhadap gempabumi melalui luaran berupa peta frekuensi, amplifikasi, ketebalan dan kerentanan seismik. Melalui hasil data analisis, daerah Candi Prambanan dan sekitarnya memiliki tingkat kerawanan yang cukup tinggi dengan frekuensi dominan pada rentang 0,5 Hz – 0,9 Hz, Amplifikasi pada rentang 4,00 – 7,50, ketebalan lapisan sedimen pada rentang 87 m – 140 m, dan indeks kerentanan pada rentang 21,62 – 45,35. Dari data tersebut dapat disimpulkan wilayah candi Prambanan termasuk kedalam wilayah yang rawan kerusakan akibat gempabumi karena parameter utama daerah rawan gempabumi adalah daerah yang memiliki nilai frekuensi rendah dan amplifikasi tinggi dan tercermin pada peta frekuensi dan amplifikasi daerah candi Prambanan bahwa daerah yang memiliki frekuensi natural rendah berada pada zona amplifikasi tinggi dan sebaliknya

Yogyakarta is one of provinces in Java Island which has ultimate cultural values, especially for its historical buildings which has got paid attention much from local and international tourists to pull them coming to Yogyakarta. Prambanan Temple is the largest Hindu temple site in Indonesia which describes the heyday of the ancient Javanese people. Prambanan temple which is consisted of materials derived from Merapi decreases on its strength gradually. History recorded on 2006’tremendous earthquake, when it shoke Yogyakarta area and caused Brahma Temple site to come to destroy very bad. It pushed researchers to create microzonation map for prambanan area to perpetuate that historical building to keep it strong. The step in investigating the cause of damages is by studying as to local geology with using microtremor data measurement through HVSR method. HVSR parameters which can be obtained are natural frequence and amplification being used to identify the more and the less vulnerable area over earthquake by using frequence map, amplification map, thickness map, and seismic vulnerability map as the outputs. Through the result of data analysis, Prambanan area and its suroundings has the quite high of vulnerability with predominant frequence on range 0,5 Hz – 0,9 Hz, amplification on range 4,00 – 7,50, sediment thickness on range 87 m – 140 m, and seismic vulnerability index on range 21,62 – 45,35. From all those data outputs, it can be concluded that Prambanan Temple area includes in vulnerable area because the main paramaters to determine whether one area becomes vulnerable or not are by analyzing that area has very low frequence and very high amplification. Reflected to the frequence and amplification map of Prambanan area which are in low frequence zone and high amplification

Kata Kunci : -


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.