Laporkan Masalah

TREN MENGKONSUMSI PAKAIAN BEKAS DI KALANGAN MAHASISWI DI YOGYAKARTA

MONITA NUR FITRIANI TAMBULANA, Drs. Andreas Soeroso, MS

2013 | Skripsi | Sosiologi

Pakaian bekas awalnya identik dengan konsumsi kelas bawah. Harganya yang murah dan kondisinya yang bekas membatasi orang untuk mengkonsumsinya. Namun ternyata tidak selalu hanya kelas bawah yang mengkonsumsi pakaian bekas, kelas atas juga mengkonsumsi pakaian dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Mahasiswi sebagai subjek dalam penelitian ini memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih untuk mengkonsusmi pakaian bekas. Pakaian bekas sering kali dipandang sebelah mata bila disandingkan dengan pakaian baru. Padangan ini berdampak pula pada citra buruk si pemakai sehingga tidak banyak orang yang tertarik untuk mengkonsumsi pakaian bekas salah satunya juga karena takut tertular penyakit dari pemilik sebelumnya. Namun fenomena yang unik yaitu pakaian bekas ternyata mendapatkan penggermarnya yaitu mahasiswi. Pakaian bekas semakin populer dengan kehadiran bazar garage sale dan butik second. Apa faktor yang melatarbelakangi mahasiswi dalam mengkonsumsi pakaian bekas serta bagaimana mahaisiswi memaknai konsumsi pakaian bekas bagi dirinya menjadi pertanyaan yang akan di jawab dalam penelitian ini. Metode kualitatif digunakan dalam penelitian ini dengan pendekatan analisis deskriptif. Penelitian ini menggunakan kerangka teori masyarakat konsumsi dari Baudrillard. Masyarakat di era modern ini digerakkan oleh basis konsumsinya. Konsumsi menjadi lebih penting daripada produksi. Konsumsi bukan hanya didorong atas kebutuhan semata namun barang- barang menjelma sebagai objek konsumsi yang di dalamnya menyimpan kode yang menuntun masyarakat untuk membeli atau tidak membelinya. Kerangka teori yang kedua adalah teori tentang fashion oleh Simmel. Simmel menjelaskan bahwa fashion ada karena proses meniru yang berlangsung terus menerus. Mahaisiswi memaknai konsumsinya atas pakaian bekas sebagai bentuk gaya hidup atas tren fashion tertentu. Pakaian bekas dipilih karena faktor kualitas serta kuantitas. Faktor kualitas meliputi, pakaian bekas yang tidak pasaran, bahannya yang berkualitas, modelnya yang sesui dengan tren, sedangkan dari segi kuantitas yang dipertimbangkan adalah banyaknya pakaian yang diperoleh dengan harga yang murah. Teman bermain dan media massa menjadi media yang berperan dalam mengenalkan pada mereka atas konsumsi pakaian bekas. Pola konsumsi pakaian bekas terbentuk karena adanya proses meniru figure dalam tren fashion . Pakaian bekas menjelma sebagai objek konsumsi yang dicari oleh mahasiswi sebagai cara pemenuhan atas kebutuhan sandang atau sebagai cara menciptakan gaya hidup melalui tren tertentu. Konsumsi atas pakaian bekas tidak terbatas untuk mereka yang tidak mampu, nyatanya mahasiswi dari kelurga yang tergolong mampu juga mengkonsumsi pakaian bekas dengan alasan mereka. Pakaian bekas dengan keunikannya, mereknya, serta harganya yang murah menarik perhatian mahasiswi. Mengkonsumsi pakaian bekas bukan masalah bagi mahasiswi meskipun beberapa orang masih menganggapnya sebagai hal yang tidak wajar. Respon posistif dari Teman- teman menjadi faktor pendorong bagi mahasiswi untuk kembali mengkonsumsi pakaian bekas. Penelitian ini menguak kenyataan bahwa meskipun pakaian bekas dipandang negatif namun tetap digemari oleh segelintir anak muda.

-

Kata Kunci : Pakaian Bekas, Mahasiswi, Teman Bermain, Media Massa, Gaya hidup, tren Fashion


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.