Laporkan Masalah

ANALISIS PERUBAHAN KADAR AIR CHIP SINGKONG DAN PERUBAHAN SIFAT UDARA PENGERING SELAMA PENGERINGAN DENGAN TRAY DRYER

SETIAWAN OKY H, Devi Yuni Susanti, STP, M.sc,

2013 | Skripsi | TEKNIK PERTANIAN

Singkong termasuk tanaman tropis, tetapi dapat pula beradaptasi dan tumbuh dengan baik di daerah subtropis. Tanaman ini tidak menuntut iklim yang spesifik untuk pertumbuhannya. Singkong banyak ditemukan di indonesia, hal ini sesuai dengan kondisi tanah dan iklim di Indonesia yang mempunyai kriteria untuk tanaman singkong. Penelitian ini mengkaji perubahan kadar air chip singkong selama proses pengeringan dengan variasi suhu pengeringan di dalam alat pengering dan variasi massa bahan pada setiap perlakuan. Pengeringan cabinet dryer diatur pada suhu 50oC, 60oC, dan 70oC dengan disetiap suhu mempunyai perlakuan massa bahan yang berbeda yaitu 4 kg, 8 kg, dan 12 kg. Persiapan bahan dilakukan terlebih dahulu dengan bahan dikupas dan dibersihkan, selanjutnya dirajang berbentuk chip singkong. Penelitian ini dilakukan dengan 3 variasi suhu pengering yaitu suhu 50oC, 60oC, dan 70oC. setiap suhu dilakukan 3 perlakuan massa yaitu 4 kg, 8 kg, dan 12 kg. Bahan dikeringkan hingga kadar air tertentu. Sebelum dikeringkan diambil sampel untuk pengukuran kadar air awal dengan metode thermogravimetri. Selanjutnya setiap perlakuan diambil sampel untuk mengukur kadar airnya. Dilakukan pengamatan data Suhu pengering, Kelembaban udara pengering , dan kecepatan udara pengering (udara masuk dan udara keluar). Pengambilan data dilakukan dengan interval waktu setiap 15 menit. Data penurunan kadar air digunakan untuk mengetahui konstanta pengeringan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dalam pengeringan chip singkong dengan menggunakan cabinet dryer menunjukan sebagian besar adalah laju menurun dari semua perlakuan. Laju pengeringan chip singkong pada cabinet dryer dipengaruhi oleh massa dan suhu pengering. Laju pengeringan dengan massa 4 kg pada suhu 50oC, 60oC, dan 70oC adalah 0,0164 menit-1, 0,0226 menit- 1 dan 0,0258 menit-1. Sedangkan massa 8 kg pada suhu 50oC, 60oC, dan 70oC adalah 0,0141 menit-1, 0,0223 menit-1 dan 0,0171 menit-1. Selanjutnya untuk massa 12 kg pada suhu 50oC, 60oC, dan 70oC adalah 0,0137 menit-1, 0,0143 menit-1 dan 0,0149 menit-1. Efisiensi pengeringan mempunyai nilai 1,69-5,89%, sedangkan efisiensi pemanasan pada alat pengering ini adalah berkisar 12,8004- 59,6146%. Energi aktivasi (Ea) yang dibutuhkan untuk pengeringan pada perlakuan dengan massa 4 kg, 8 kg, dan 12 kg berturut-turut adalah 20,947 KJ/mol, 9,215 KJ/mol, dan 3,866 KJ/mol. Frekuensi tumbukan (Ao) yang terjadi pada perlakuan dengan massa 4 kg adalah 41,1943 dan pada perlakuan dengan massa 8 kg adalah 0,4896. Sedangkan pada perlakuan dengan massa 12 kg mempunyai nilai Ao 0,0578.

Cassava is classified as one of tropical plant, but it can adapt and grow well in subtropic area. This plant doesn’t demand spesific condition for its planting. Cassava can be found in many areas in Indonesia, because Indonesia has suitable climate for this plant. The research studies about the change on water content for cassava’s chips when drying process was occured while altering drying temperature in tray dryer and variating sample mass on every treatment. Tray dryer was set in 50oC, 60oC, dan 70oC temperature and on every temperature change different sample mass was used, we took 4 kg, 8 kg, and 12 kg mass. First, we prepared the sample. Cassava was peeled and cleaned with fresh water, then chopped chip like. The research was done under 50oC, 60oC, dan 70oC temperature and on every temperature change we put different sample mass, that was 4 kg, 8 kg, and 12 kg. Sample was dried until it reached specified water content. Before drying, sample was taken to measure starting water content with thermogravimetri method. Next, in every treatment, more water content measurement was taken in every sample. We also took measurement of dryer temperature, humidity ratio, and drying air velocity (including input and output air). Data was taken in every 15 minutes. Decrease on water content was used to determine the drying constant number. The research resulted, that on drying process of cassava chip using tray dryer, mostly falling rate was found in every treatment. Drying rate of cassava chip on tray dryer was affected by mass and drying temperature. Drying rate on 4 kg mass on 50oC, 60oC, dan 70oC temperature were 0,0164 minutes-1, 0,0226 minutes-1 dan 0,0258 minutes-1 consecutively. 8 kg mass reached 0,0141 minutes- 1, 0,0223 minutes -1 dan 0,0171 minutes-1 on 50oC, 60oC, dan 70oC temperature. Last, 12 kg mass was measured at 0,0137 minutes-1, 0,0143 minutes-1 dan 0,0149 minutes-1 on 50oC, 60oC, dan 70oC temperature. Drying efficiency reached 1,69- 5,89%, and heating efficiency of tray dryer hit 12,8004% to 59,6146%. Activation energy (Ea) that needed for drying process on 4 kg, 8 kg, and 12 kg mass were 20,947 KJ/mol, 9,215 KJ/mol, dan 3,866 KJ/mol consecutively. Collision frequency (Ao) that happened on 4 kg mass was 41,1943 and 0,4896 on 8 kg mass, on 12 kg mass it reached 0,0578.

Kata Kunci : pengeringan, efisiensi, energi aktivasi, frekuensi tumbukan, tray dryer, chip singkong


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.