RESPON PERTUMBUHAN TANAMAN SENGON MUDA TERHADAP PUPUK DAN LEGIN, SERTA PERKEMBANGAN PENYAKIT KARAT TUMOR TERHADAP FUNGISIDA DI AREAL EPIDEMI
ANGGER ADI PERDANA, Dr. Ir. Sri Rahayu, M.P,
2013 | Skripsi | BUDIDAYA HUTANPada saat ini, sengon mendapat perhatian besar karena adanya serangan penyakit karat tumor yang disebabkan oleh jamur karat, Uromycladium tepperianum. Jamur ini merupakan parasit obligat yang dapat hidup, berkembang dan menyelesaikan seluruh siklus hidupnya pada satu inang yang hidup. Jamur ini umumnya menyerang tanaman sengon muda dengan begitu cepat, terlebih jika tanaman berada di areal epidemi. Penelitian dilaksanakan di hutan rakyat yang mengalami epidemi penyakit karat tumor di Dusun Balong, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Penelitian dirancang dengan menggunakan rancangan Split-Plot, terdiri dari 2 plot utama yaitu tanpa penyemprotan fungisida dan dengan penyemprotan fungisida. Plot utama kemudian dibagi ke dalam 6 sub plot yaitu pemberian kompos, SP36, legin, kompos+legin, SP36+legin serta kontrol. Unit sampel untuk masing-masing sub plot di setiap ulangan berupa 4 tanaman sengon. Tata letak rancangan digunakan rancangan acak lengkap berblok (RALB) dengan 4 blok sebagai ulangan, sehingga secara keseluruhan terdapat 192 unit sampel. Berturut Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemupukan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman sengon setelah 8 minggu ditanam di areal epidemi penyakit karat tumor. -turut, besarnya rerata pertambahan tinggi per minggu perlakuan pemupukan kompos berkisar antara 0,3-4cm, SP36 0,4-3,8cm, legin 0,3-4cm, kompos+legin 0,125-3cm dan SP36+legin 0,2-4,2cm. Luas serangan dan intensitas penyakit karat tumor memiliki kecenderungan meningkat pada semua perlakuan hingga minggu ke-8. Rerata luas serangan perlakuan tanpa fungisida berkisar antara 48,95%-64,6% dan dengan fungisida 51,6%-63,02%. Rerata intensitas penyakit pada bagian daun dan pucuk perlakuan tanpa fungisida berkisar antara 26,8%-55,5% dan 1%-6,25%, sedangkan pada perlakuan dengan fungisida 27,6%-53,1% dan 1%-3,2%. Rerata intensitas penyakit total pada perlakuan tanpa dan dengan fungisida masingmasing berkisar antara 8,25%-17,82% dan 8,5%-16,56%.
At this time, sengon gets a great attention related to the fungi causing gall rust disease, Uromycladium tepperianum. The rust fungus is an obligate parasites, that is able to grow and complete its entire live cycle on the living host. This fungus quickly attacks when sengon plants are still seedling, especially if the plants are in the epidemic areas. This study had been conducted in the epidemic area of gall rust disease in Balong, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Treatments were arranged in Split-Plot design, consisting of two main plots i.e. without fungicides and with fungicide. The main plots were then divided into six sub-plots, i.e. application compost, SP36, legin, compost+legin, SP36+legin and control. Sample unit for each subplot in each replication was 4 plants of sengon. Layout was arranged in randomized complete block design (RCBD) with four blocks as replications, so overall there are 192 sample units. The results showed that fertilization did not significantly affect plant height growth after 8 weeks in the epidemics area of gall rust disease. Successively, weekly height growth in compost treatment was 0.3-4cm, SP36 0.4-3.8cm, legin 0.3-4cm, compost+legin 0.125-3cm and SP36+Legin 0.2-4.2cm. Disease incidence and severity tended to increase in all treatments until week eight. The disease incidence without fungicide treatment ranged between 48.95%-64.6% and with fungicide 51.6%-63.02%. The disease severity in the leaf and shoots without fungicide treatment ranged from 26.8%-55.5% and 1%-6.25%. The disease severity in the leaf and shoots with fungicide treatment ranged between 27.6%- 53.1% and 1%-3.2%. The disease severity in whole sengon without fungicide treatment ranged from 8.25% -17.82%, and with fungicide 8.5% -16.56%.
Kata Kunci : sengon, Uromycladium tepperianum, kompos, SP36, legin, fungisida