Laporkan Masalah

Pengaruh Biofungisida terhadap Perakaran Stek Pucuk Jati di Persemaian UBH-KPWN Wonocatur, Bantul

RITA WIDYA ASTUTI, Ir. Handojo Hadi Nurjanto, M.Agr.Sc.,

2013 | Skripsi | BUDIDAYA HUTAN

Salah satu keberhasilan stek pucuk JUN (Jati Unggul Nusantara) dapat ditandai dengan pembentukan dan pertumbuhan akar. Pembentukan dan pertumbuhan akar bisa dihambat dengan adanya patogen akar. Pada pembuatan stek pucuk JUN digunakan biofungisida untuk mencegah dan mengendalikan patogen akar. Biofungisida yang berbeda kandungan jenis jamur, dosis, dan carrier biofungisida bisa mempengaruhi keberhasilan stek pucuk JUN sehingga diperlukan informasi jenis jamur dan dosis biofungisida serta pengaruhnya terhadap perakaran stek pucuk JUN. Rancangan penelitian ini menggunakan RCBD (Randomized Completely Block Design). Terdapat 9 perlakuan yaitu: Kontrol (K), Biofungisida A dosis 1 gram (A1D1), Biofungisida A dosis 2 gram (A1D2), Biofungisida A steril dosis 1 gram (A0D1), Biofungisida A steril dosis 2 gram (A0D2), Biofungisida B dosis 1 gram (B1D1), Biofungisida B dosis 2 gram (B1D2), Biofungisida B steril dosis 1 gram (B0D1), Biofungisida B steril dosis 2 gram (B0D2). Setiap perlakuan terdapat 50 unit stek pucuk yang dibagi dalam 2 blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biofungisida A mengandung 5,83x104 CFU/gram jamur dengan 4 jenis jamur (Penicillium sp. (A), Trichoderma sp., Penicillium sp. (B), dan Aspergillus sp.), sedangkan Biofungisida B mengandung 4,7x104 CFU/gram jamur yang terdiri dari 4 jenis jamur yaitu: Trichoderma sp. (A), Trichoderma sp. (B), Aspergillus sp., dan Khamir. Penggunaan Biofungisida A menurunkan persen stek pucuk dan ada kecenderungan menyebabkan penurunan perkembangan akar. Penggunaan Biofungisida B ada kecenderungan menyebabkan kenaikan persen hidup stek pucuk dan perkembangan akar, baik dalam dosis 1 gram maupun 2 gram. Namun, dalam biofungisida yang steril dengan Tyndallisasi ada kecenderungan mengakibatkan keberhasilan dan perkembangan akarnya lebih baik dibandingkan jika ada jamur.

The success of JUN (Jati Unggul Nusantara ) shoot cutting can be indicated by formation and growth of roots. Formation and growth of roots can be inhibited by the presence of root pathogens. In the JUN shoot cutting production, a biofungicide is used to prevent and control root pathogens. Biofungicide with different content of fungus, dosage, and carrier formulation can affect success of the JUN shoot cutting. Information about fungal content in the biofungicides and its dosage on rooting of shoot cutting are required. This research was conducted using RCBD (Randomized Completely Block Design). There were 9 treatments, namely: control (C), Biofungicide A 1 gram (A1D1), Biofungicide A 2 grams (A1D2), sterile Biofungicide A 1 gram (A0D1), sterile Biofungicide A 2 grams of (A0D2), Biofungicide B 1 gram (B1D1), Biofungicide B 2 grams (B1D2), sterile Biofungicide B 1 gram (B0D1), and sterile Biofungicide B 2 grams (B0D2). Each treatment was applied to 50 units shoot cuttings that were arranged in 2 blocks. The results showed that Biofungicide A contained 5.83x104 CFU/gram of fungi, consisted of 4 types of fungi namely Penicillium sp. (A), Trichoderma sp., Penicillium sp. (B), and Aspergillus sp. Biofungicide B contained 4.7 x104 CFU / gram of fungi, consists of 4 types of fungi namely Trichoderma sp. (A), Trichoderma sp. (B), Aspergillus sp., and yeast. Biofungicide A decreased survival percentage of shoot cutting and there was a tendency of causing reduction of rooting development. Application of Biofungicide B tended to increase shoot percentage and root development on both 1 gram and 2 grams of dosages. Whereas in the sterilized biofungicide (Tyndallisation method), thus containing killed fungus, tended to have better root development.

Kata Kunci : Stek Pucuk, Biofungisida, Dosis


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.