Pertanian Beras Organik di Kecamatan Susukan, Banjarnegara
RAHADIYAN ADIANTO, Drs. Hadriyanus Suharyanto M.Si.
2013 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Dewasa ini, kebutuhan pangan bukan sekedar kuantitas yang dikonsumsi akan tetapi kepada kualitas dari bahan pangan itu sendiri. Pertanian organik menjadi tuntutan mutlak dalam menghasilkan bahan pangan yang lebih berkualitas daripada pertanian anorganik. Meminimalisir bahkan tidak menggunakan bahan kimia sintetis didalam pertanian ternyata mampu menghasilkan hasil panen yang sehat dikonsumsi dan juga dampak positif lain yang berkelanjutan. Sayangnya tidak semua petani, padi khususnya, mau beralih ke pertanian organik. Hal ini yang dijumpai pada petani padi di kecamatan Susukan dan didalam penelitian ini akan diungkap sebab mengapa petani tidak mau bertani padi secara organik. Dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif eksplanatif karena didasarkan pada rumusan pertanyaan “mengapaâ€. Alasan atau sebab individu yang tidak mau mengerjakan sesuatu hal dapat disebabkan karena banyak faktor dan begitu pula terhadap petani padi kecamatan Susukan. Pengambilan responden petani padi diambil secara acak. Balai Penyuluh Pertanian kecamatan Susukan juga ikut diwawancarai untuk melihat bentuk penyuluhan pertanian organik yang disalurkan. Ditambahkan pula petani padi organik yang secara individu dan mandiri mengembangkan pertanian organiknya. Hasil observasi melaporkan bahwa kondisi kesuburan sawah pertanian padi sudah sangat memprihatinkan dikarenakan penggunaan bahan kimia pada pertanian anorganik yang berlebihan. Selain itu, masih minim sekali jumlah petani yang mengembangkan pertanian organik. Hasil wawancara pada petani padi menyebutkan bahwa alasan mereka enggan bertani organik adalah minimnya IPTEK yang dimiliki. Sementara penyuluhan yang dilakukan BPP kecamatan Susukan juga dirasa kurang efektif dalam mengedukas petani itu sendiri. Saran yang tepat untuk melaksanakan pertanian organik, padi khususnya di kecamatan Susukan adalah mengenalkan secara dasar pertanian organik itu sendiri. Petani padi di kecamatan Susukan kini mengenal pertanian organik adala penggunaan pupuk maupun pestisida organik yang produksi pabrikan sementara esensi pertanian organik yang sebenarnya adalah pemanfaatan sumberdaya alam dan kearifan lokal yang tersedia dan terjangkau oleh petani itu sendiri sehingga petani mampu mengolah dan menyediakan bahan pendukung pertaniannya. Hal tersebut yang ditunjukkan salah satu petani yang sudah berorganik dalm jangka waktu panjang. Pak Bambang Supriadi, petani asli kecamatan Susukan telah mampu mengenali dan mengolah segala sumberdaya alam maupun kearifan lokal yang tersedia disekitarnya untuk digunakan didalam pertanian organiknya. Beliau sudah tidak tergantung kepada siapapun dalam menjalankan usaha pertaniannya dikarenakan banyak sumber yang dapat dimanfaatkan. Sekiranya petani lain dan pemerintah mau dan mampu menerapkan apa yang dilakukan pak Bambang Supriadi ini agar pertanian organik bisa berjalan secara efektif dan efisien.
Today, the need is not just the quantity of food consumed but the quality of the food itself. Organic farming to be an absolute requirement to produce a higher quality food than inorganic farming. Minimize and even not using synthetic chemicals in agriculture is able to produce a healthy crop is consumed and also other sustainable positive impact. Unfortunately not all farmers, rice in particular, want to switch to organic farming. This is found in the rice farmers in the district Susukan and will be revealed in this study the reasons why farmers do not want rice farming organically. In this study using qualitative methods as it is based on the formulation of explanatory question \\\\"why\\\\". Reasons or because individuals who do not want to do something that can be caused by many factors and so are the rice farmers Susukan district. Rice farmers respondent drawn at random. Agricultural Extension Centres Susukan district also interviewed to see the form of organic agricultural extension are routed. It adds organic rice farmers who individually and independently develop organic agriculture. Results reported observation that fertility paddy rice farming conditions are very poor due to the use of agricultural chemicals in excessive inorganic. In addition, there is still minimal number of farmers to develop organic farming. Results of interviews on rice farmers mentioned that the reason they are reluctant to organic farming is the lack of science and technology owned. While counseling is done BPP Susukan district also is less effective in mengedukas farmers themselves. Appropriate advice to implement organic farming, particularly in sub- Susukan rice is introducing the basics of organic farming itself. Rice farmers in the district are now familiar with organic farming Susukan Adala use of fertilizers and organic pesticides manufacturing production while the real essence of organic farming is the use of natural resources and local knowledge is available and affordable by the farmers themselves so that farmers are able to cultivate and provide material support agriculture. It is shown that one of the farmers go organic preformance is long term. Pak Bambang Supriya, native farmers Susukan district has been able to recognize and process all the natural resources and local knowledge that is available for use in the surrounding organic farming. He is not dependent on anyone in running his farm because a lot of sources that can be utilized. Had other farmers and the government is willing and able to apply what Mr. Bambang Supriyadi is that organic farming can be run effectively and efficiently.
Kata Kunci : kearifan lokal, otonomi petani, keberlanjutan