Laporkan Masalah

EVALUASI KEPESERTAAN MANDIRI JAMINAN KESEHATAN SEMESTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (Kajian di Kabupaten Sleman)

LUCI RAHMADANI PUTRI, Dr. drg. Julita Hendrartini, M.Kes.

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Masih rendahnya capaian kepesertaan program Jaminan Kesehatan Semesta Mandiri DIY (Jamkesta) merupakan kendala dalam menuju percepatan total coverage di DIY. Dari target 13.000 jiwa pada tahun 2012, hanya terealisasi sebanyak 1.651 jiwa.Dipilihnya kabupaten Sleman dalam penelitian ini dikarenakan dengan jumlah penduduk yang paling banyak se DIY(1.079.010 jiwa), namun masih banyak penduduknya yang belum mempunyai jaminan kesehatan (445.272 jiwa). Jumlah penduduk Kabupaten Sleman yang menjadi peserta Jamkesta mandiri hanya 335 jiwa atau 0,07 dari masyarakat yang belum mempunyai jaminan kesehatan. Angka capaian ini paling sedikit jika dibandingkan dengan kab/kota yanag ada di DIY. Tujuan :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman terhadap prosedur menjadi peserta dan mekanisme akses pelayanan kesehatan, persepsi terhadap paket manfaat/benefit dan persepsi terhadap besaran Premiberpengaruh terhadap minat menjadi peserta Jamkesta Mandiri DIY. Metode : Menggunakan rancangan cross-sectional.Jumlah sampel sebanyak 75 orang dengan kriteria inklusi adalah responden yang belum mempunyai jaminan kesehatan sama sekali.Teknik pengambilan sampel simple random sampling. Alat pengambilan data dengan kuesioner dan pedoman wawancara mendalam. Hasil Penelitian: Responden yang paham terhadap prosedur menjadi peserta dan mekanisme akses pelayanan kesehatan dan berminat menjadi peserta sebesar 119.1 kali dibanding responden yang tidak paham. Responden yang persepsinya baik terhadap benefit dan berminat menjadi peserta sebesar 40 kali dibanding yang kurang baik persepsinya, dan yang persepsinya baik terhadap iuran/premi dan berminat menjadi peserta sebesar 14,29 kali dibanding yang kurang baik persepsinya. Akan tetapi pada kenyataannya pencapaian kepesertaan jamkesta mandiri masih rendah. Kesimpulan : Kurangnya pemahamansebagian masyarakat tentang prosedur menjadi peserta dan mekanisme akses pelayanan kesehatan Jamkesta Mandiri DIY, adanya kekhawatiran sebagian responden tentang kepastian benefit paket yang diterima bila sakit dan pelayanan PPK I dipuskesmas bagi masyarakat ekonomi menengah keatas perlu ditinjau lagi, serta Kurang efektifnya metoda pembayaran premi bagi jumlah tanggungan keluarga yang banyak.

Background: Low coverage of participation in Independent Universal Health Insurance (Jamkesta) Program at Yogyakarta Special Territory is a constraint to the acceleration of total coverage at Yogyakarta Special Territory. Out of 13,000 people targeted in 2012, the realization only reached 1,651people.The choice for District of Sleman in the study is due to the largest quantity of population in Yogyakarta Special Territory (1,079,010 people), but coverage of health insurance is low (445,272 people). Population of Sleman District participating in independent Jamkesta comprise 335 people or 0.07 of those that do not have health insurance. The coverage is the lowest compared to other districts/municipality within Yogyakarta Special Territory. Objective: The study aimed to find out whether understanding to the procedure and mechanism, perception to the benefit of the package and to the amount of premi affected interest in becoming participant of independent Jamkesta at Yogyakarta Special Territory. Method: The study used cross sectional design. Samples consisted of 75 people selected through simple random sampling technique with inclusion criteria those who had no health insurance.Data were obtained through questionnaire and in depth interview guide. Result: Respondents who understood the procedure/mechanism had possibility as much as 119.1 time greater for becoming the participant than those who did not understand. Respondentshaving good perception to the benefit had possibility 40 times greater for becoming the participant compared to those with poor perception; and those with good perception to the amount of premi were 14.29 times greater for becoming the participant than those with poor perception. Conclusion:Good understanding to the procedure and mechanism, good perception to the benefit, and good perception to the amount of premi affected the intrest in becoming participants of independent Jamkesta (Jamkesta Mandiri) at Yogyakarta Special Territory.

Kata Kunci : Minat Kepesertaan, Persepsi besaran premi, Persepsi manfaat/benefit, Pemahaman terhadap prosedur dan mekanisme


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.