NILAI SOSIAL – BUDAYA dan SPIRIT KEWIRAUSAHAAN (Studi di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta)
KEN RETNO BUDIPRATIWI, Prof. Dr. Susetiawan,
2013 | Skripsi | ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Wirausaha menjadi profesi primadona pada saat ini, mulai industri rumah tangga, perdagangan, usaha jasa dan sebagainya. Cukup berbekal ketrampilan tertentu yang biasanya diperoleh dari keluarga atau lingkungannya, seseorang dapat menjadi pelaku wirausaha yang sukses. Demikian halnya warga Desa Wukirsari, menjadikan wirausaha di bidang kerajinan tradisional sebagai profesi mereka. Semakin menarik ketika diketahui bahwa pada bulan Mei tahun 2006, kehidupan warga desa sempat lumpuh akibat bencana gempa bumi. Akan tetapi, pada tahun 2013 kehidupan kembali berjalan normal, bahkan tidak terlihat bahwa geliat kehidupan mereka sempat terhenti. Kegiatan wirausaha justru semakin berkembang sehingga jika menyebut Desa Wukirsari, hal pertama yang terlintas adalah kerajinan khasnya seperti batik, kulit dan lain sebagainya. Untuk memperoleh informasi lebih dalam, dilakukan penelitian dengan “pisau bedah†metoda campuran atau yang biasa disebut mix method. Concurrent triangulation strategy dipilih sebagai pendekatan karena proses pengambilan data kualitatif dan kuantitatif dilakukan dalam waktu bersamaan. Data yang diperlukan untuk analisis, diperoleh melalui wawancara, penyebaran kuesioner, dokumentasi serta observasi. Informan yang diwawancarai sejumla 16 orang, terdiri dari pengrajin dari keempat jenis kerajinan dan piha keluarahan. Responden sejumlah 80 orang yang terdiri dari pengrajin batik, bambu, kulit serta genteng. Informan ditentukan dengan purposive sampling, sedangkan responden ditentukan dengan teknik stratified random sampling. Data yang diperoleh, dianalisis menggunakan 2 (dua) konsep, yakni n- Ach karya David McClelland serta konsep Etika Protestan yang dicetuskan oleh Max Weber. Konsep n-Ach mengemukakan bahwa seseorang melakukan suatu pekerjaan karena secara psikologis ia membutuhkan prestasi dalam dirinya. Sedangkan Etika Protestan menyatakan bahwa seseorang bekerja karena pemahaman agama serta iman percayanya kepada Tuhan. Ternyata kedua konsep tersebut tidak dapat digunakan secara terpisah untuk memahami apa yang terjadi di Desa Wukirsari. Secara psikologis, warga bekerja dan merasa puas jika hasil pekerjaannya dinilai baik, yang kemudian mendapat sentuhan pemahaman agama yang membentuk etos kerja mereka. Selain puas karena pekerjaannya dianggap baik serta berusaha tetap menjalankan kewajiban agamanya, mereka dituntut untuk bersikap jujur, ikhlas bekerja dan saling tolong-menolong. Ajaran agama, kearifan lokal serta jaringan sosial menjadi satu-kesatuan semangat bagi warga untuk menjadi wirausahawan. Ajaran agama memberi warna pada jaringan sosial terutama dalam hal interaksi antar warga, sedangkan jaringan sosial berpengaruh pada bertumbuh-kembangnya ketrampilan. Di sisi lain, kearifan lokal pun turut mewarnai pemahaman agama. Hanya saja, tidak diketahui nilai mana yang paling dominan, yang mendorong mereka untuk memilih menjadi pelaku wirausaha di bidang kerajinan.
Enterpreneur has been a promising occupation nowadays, starts from home made industries, trading, tertiary industries, etc. Having certain skillful which usually learnt by family and livelihood, somebody can be a success enterpreneur. Indifferent with Wukirsari villagers, they chosen enterpreneur in traditional craft division as their occupation. It’s been more interesting when we know that in May 2006th, villagers live has been destroyed for while because the earthquake. But, in 2013th, their live back to normal, as nothing happened. Enterpreneur activities shown us their progress so when we calls Wukirsari Village, the first thing we will think is their unique craft, such as batik, leather, etc. To know about the enterpreneur motivation deeper, this research used mix methods. Concurrent triangulation strategy chosen as research approach because data collection has been done in current time. Datas which needed in analysis collected by depth interview, questioner, documentation, and observation. Infomarnts for depth interview in batch of 16 people, who came from each kind of craft, batik, leather, bamboo, and traditional roof. The informants has been chosen using purposive sampling. Respondents chosen using stratified random sampling. From datas collected, has been analyze using 2 theories, n-Ach by David McClelland and Protestant ethic by Max Weber. N-ach said that someone do something because psychologically he his self needs an achievement. Protestant ethic said that someone work as religion interpretation and their trust to God. In fact, the two theories can not be diseparate to explain the facts. Psychologically, villagers works and felt satisfy when their work give them a good result, then religion influenced that formed an work ethic. Beside satisfy with their work’s result and do their religion responsibilty, they have to work honestly, help each other, etc. Religion, local wisdom, and social network has been a spirit unity to villagers to be an enterpreneur. Religion influenced to social network, especially in social interaction, while social network influenced in skillful progress. In the other side, local wisdom influenced religion understanding. But I do not know which one most dominated and motivated them to be an enterpreneur in traditional craft division.
Kata Kunci : wirausaha kerajinan, n-Ach, etika Protestan, agama dan etos kerja, kearifan lokal, jaringan sosial