Laporkan Masalah

HUBUNGAN FAKTOR INDIVIDU DAN LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN MALARIADI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEKURA KABUPATEN SAMBAS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

SELVIANA, Prof. Dr. dr. Soeyoko, DTM & HSU

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Penyakit malaria merupakan penyakit yang endemis di Wilayah kerja Puskesmas Sekura Kabupaten Sambas. Terjadi peningkatan Annual Parasite Incidence (API) pada tahun 2009 sebesar 4,31 per mil, 4,42 per mil pada tahun 2010, tahun 2011 menjadi 5,93 per mil. Sehingga pada tahun 2011 Wilayah Kerja Puskesmas Sekura telah dikategorikan sebagai wilayah endemis malaria dengan kategori High Incidence Area. Tujuan Penelitian : Menentukan hubungan faktor individu dan lingkungan dengan kejadian malaria, memetakan cluster kasus malaria secara ruang dan waktu dan buffering habitat perkembangbiakan jentik Anopheles sp dengan kasus malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sekura Kabupaten Sambas. Metode Penelitian : Penelitian observasional dengan desain kasus kontrol menggunakan sistem informasi geografis (SIG). Sampel dihitung menggunakan rumus sampel untuk pengujian hipotesis terhadap odds-ratio, diperoleh sampel 58 kasus dan 58 kontrol. Analisis dilakukan secara bivariat, multivariate, dan analisis spasial Hasil : Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan antara penggunaan kelambu (p = 0,000; kerapatan dinding (p = 0,000 ;OR = 4,2), penggunaan kawat kasa (p = 0,000 ; OR = 10,6), dan keberadaan habitat perkembangbiakan jentik ( p = 0,000 ; OR = 12,600 ) dengan kejadian malaria. Tidak ada hubungan antara penggunaan anti nyamuk (p = 0,709 ; OR = 1,2), penggunaan penutup tubuh ( p = 0,708 ; OR =1,2), dan keberadaan kandang ternak sapi atau kambing (p = 0,079 ; OR = 2,5) dengan kejadian malaria. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa keberadaan habitat perkembangbiakan jentik merupakan faktor yang memberikan kontribusi positif paling tinggi terhadap kejadian malaria. Pada analisis spasial terbentuk 4 cluster kejadian malaria. Pada analisis buffer zone antara habitat perkembangbiakan jentik Anopheles sp diketahui 68,97 % kasus malaria terjadi di dalam area buffer zone. Kesimpulan dan Saran : Ada hubungan penggunaan kelambu, kebiasaan keluar rumah pada malam hari, kerapatan dinding, penggunaan kawat kasa, dan keberadaan habitat perkembangbiakan jentik dengan kejadian malaria. Ditemukan 4 cluster kejadian malaria. 68,97 % kasus malaria terjadi di dalam area buffer zone (1000 meter). Diharapkan masyarakat mewaspadai tempat-habitat perkembangbiakan jentik Anopheles sp, menggunakan kelambu pada malam hari. Pemerintah agar meningkatkan cakupan distribusi kelambu berinsektisida, memberikan perhatian pada prioritas program pencegahan serta penanggulangan malaria

Background: Malaria has been endemical in the area of Public Health Center Sekura, Sambas. The increasing of Annual Parasite Incidence (API) in 2009 was around 4.31 per mile, and then increased to 4,42 per mile in 2010, before finally increased to 5,93 per mile in 2011. Therefore, in 2011 the work area of Public Health Center Sekura was classified as endemic area of malaria with the High Incidence Area status. Objective: To determine the relationship among individual and environmental factors with the malaria occurrences. To map the spatial distribution of malaria cases and the habitat for Anopheles Sp to breed its larva spatially in the work area of Public Health Center Sekura, Sambas West Borneo. Research Method: Observational research using case control design through Geographic Information System (GIS). Sample was counted using hypothesis odds-ratio test formula. There were 58 respondents as sample group and 58 respondents as control group. Analysis was done through bivariate analysis, multivariate analysis, and spatial. Result: Bivariate analysis in the work area of Public Health Center Sekura showed: relationship of the use of mosquito net (p = 0,000; OR = 4,6), outdoor activity (p = 0,004; OR = 3,8), wall tightness (p = 0,000; OR = 4,2), the use of filament wire on ventilation (p = 0,000; OR = 10,7), mosquito larva breeding places ( p = 0,000; OR = 12,6 ) and malaria occurrences. No relationship between the use of mosquito insecticide (p = 0,709; OR = 1,2), using body cover and malaria occurrences ( p = 0,708; OR =1,2), livestock nest and malaria occurrences (p = 0,079; OR = 2,5). Multivariate analysis that the presence of mosquito larvae breeding places is a factor that contributes positively to the high incidence of malaria. In the spatial analysis of the incidence of malaria were 4 (four) clusters. In the analysis of the buffer zone between positive mosquito larvae breeding habitats of Anopheles sp with the known malaria cases 68.97% of malaria cases occur in the buffer zone area. Conclusions and recommendations: There are relationships among the use of mosquito net, doing outdoor activity at night, wall tightness, the use of filament wire, and breeding habitat for the larva with malaria occurrences. There were 4 clusters of malaria. 68.97% of malaria cases occur in the buffer zone area (1000 meter). Expected to be aware of the place-breeding habitats of Anopheles sp larvae, using mosquito nets at night. Government to improve the distribution of insecticide-treated bednet coverage, giving priority attention to the prevention and suppression of malaria program.

Kata Kunci : Malaria, Faktor Individu, Lingkungan, Analisis Spasial.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.