Laporkan Masalah

PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PEMETAAN TINGKAT KERAWANAN DEMAM BERDARAH DENGUE DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA DI KECAMATAN MERTOYUDAN KABUPATEN MAGELANG

MUNSAROH, Prof. Dr. Hartono, DEA,DESS

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang : Daerah yang banyak kasus (endemis) merupakan tempat yang potensial terjadi penularan DBD, dengan kepadatan populasi vektor nyamuk yang tinggi dan didukung oleh faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh merupakan daerah rawan DBD. Kecamatan Mertoyudan merupakan wilayah Kabupaten Magelang yang selalu endemis DBD sepanjang tahun, dengan Incidence Rate (IR) yang tinggi yaitu jauh di atas target nasional sebesar <20/100.000 penduduk. Tindakan penanggulangan telah dilakukan namun tampaknya upaya tersebut belum efektif, kasus DBD tetap muncul setiap tahunnya dan semakin meningkat jumlahnya. Pemetaan tingkat kerawanan DBD berdasarkan faktor-faktor lingkungan dan strategi pengendaliannya diperlukan untuk mengefektifkan upaya penanggulangan DBD. Tujuan : Tujuan penelitian untuk menyusun peta tingkat kerawanan DBD dengan pemodelan spasial faktor-faktor lingkungan dan strategi pengendaliannya pada skala 1 : 50.000 di Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah menggunakan sistem informasi geografis (SIG). Faktor-faktor lingkungan yang digunakan meliputi : (a) kejadian DBD ; (b) kepadatan penduduk ; (c) keberadaan tempat-tempat umum (TTU); (d) kepadatan pemukiman ; (e) kepadatan vektor dan (f) sosial budaya. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain cross sectional, yang bermaksud untuk memperoleh gambaran distribusi tingkat kerawanan DBD dan strategi pengendaliannya dengan pendekatan spasial di Kecamatan Mertoyudan. Analisis dilakukan untuk mengetahui hubungan spasial antara tingkat kerawanan DBD dengan kejadian DBD. Hasil : Distribusi kerawanan DBD di Kecamatan Mertoyudan meliputi 4 desa (30,8 % ) dengan tingkat kerawanan tinggi, 6 desa (46,1 %) dengan tingkat kerawanan sedang dan 3 desa (23,1 %) dengan tingkat kerawanan rendah. Kelompok strategi SP 5 dan SP 7 merupakan kelompok strategi pengendalian DBD yang dominan di Kecamatan Mertoyudan. Distribusi kelompok strategi pada masing-masing tingkat kerawanan yang dominan meliputi kelompok SP 3 pada tingkat kerawanan tinggi, SP 7 pada tingkat kerawanan sedang dan SP 5 pada tingkat kerawanan rendah. Terdapat hubungan linier positif antara tingkat kerawanan DBD dengan kejadian DBD di Kecamatan Mertoyudan dan terdapat autokorelasi spasial positif pada kejadian DBD di Kecamatan mertoyudan (Morans I = 0,0917851) Kesimpulan : Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk penyusunan peta tingkat kerawanan DBD dan strategi pengendalian DBD pada skala menengah yaitu skala 1 : 50.000 di Kecamatan Mertoyudan. Hubungan antara tingkat kerawanan DBD dengan kejadian DBD dapat dianalisis dengan menggunakan SIG.

Background: The area that many cases (endemic) as a potential Dengue Hemorhagic Fever (DHF) transmission occurs, the mosquito vector population density is high and supported by environmental factors that influence a dengueprone areas. Mertoyudan subdistrict of Magelang district which is always a dengue endemic throughout the year, with Incidence Rate (IR) is high, well above the national target of <20/100,000 population. Countermeasures have been made but it seems these efforts have not been effective, dengue cases still occur each year and increasing in number. DHF vulnerability mapping based on environmental factors and strategies needed for effective control of dengue prevention efforts. Objective: The objective of this research to compile DHF vulnerability level map with spatial modeling of environmental factors and its control strategy on a scale of 1 : 50,000 in the Mertoyudan subdistrict Magelang district of Central Java province use geographic information system (GIS). Environmental factors used include: (a) the incidence of dengue; (b) population density, (c) the existence of public places, (d) density residential; (e) vector density and (f) social and cultural. Methods: This study is a descriptive analytical cross-sectional design, which intends to obtain a picture of the distribution of vulnerability to dengue and its control strategies spatial approach in Mertoyudan subdistrict. Analysis is performed to determine the spatial relationship between the level of vulnerability of DHF with dengue incidence. Results: The distribution of dengue vulnerability in the Mertoyudan subdistrict includes 4 villages (30.8 %) with high levels of vulnerability, 6 villages (46.1 %) with moderate levels of vulnerability and 3 villages (23.1 %) with a low level of vulnerability. Strategy group SP 5 and SP 7 is a group of dengue control strategies are dominant in Mertoyudan subdistrict. Distribution strategy group at each level of vulnerability to the dominant group includes SP 3 on a severe impact, moderate impact on the SP 7 and SP 5 at a low level of vulnerability. There is a positive linear relationship between the level of vulnerability to dengue in the incidence of dengue in the Mertoyudan subdistrict and there is positive spatial autocorrelation in the incidence of dengue in the Mertoyudan subdistrict (Morans I = 0.0917851). Conclusions: Geographic Information Systems can be used for the preparation of vulnerability maps DHF and DHF control strategies on a scale of 1 : 50,000 in Mertoyudan subdistrict. Relationship between the level of vulnerability of DHF with dengue incidence can be analyzed using GIS

Kata Kunci : DBD, SIG, Tingkat Kerawanan DBD, Strategi Pengendalian DBD


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.