PENGELOLAAN RUJUKAN KASUS MATERNAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAYAPURA PROPINSI PAPUA
Hilda Nitje Kondoi, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA.
2013 | Tesis | S2 Kesehatan Masyarakat/MMPKLatar belakang: Unit emergensi dari Rumah Sakit Umum Jayapura merupakan pintu masuk bagi pasien yang langsung ke rumah sakit dan pusat rujukan di Papua. Karena rumahsakit ini terletak di daerah yang jauh dari pusat negara, rumah sakit ini tergantung pada konteks pembangunan setempat. Rumah sakit ini terletak di daerah dengan penduduk yang jarang dan tersebar di daerah yang luas.Karena jumlah tenaga yang terbatas, dokter di rumah sakit memiliki banyak tugas di luar rumah sakit. Sebagai lembaga pemerintah lain di Indonesia, rumah sakit ini memiliki kultur birokrasi dengan pengawasan yang sangat lemah. Tujuan: Penelitian ini bermaksud untuk mempelajari unit gawat darurat dalam merespon kedaruratan maternal. Kajian ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi dalam upaya perbaikan pelayanan maternal. Metode: Penelitian ini adalah sebuah studi kasus dengan data kualitatif. Responden terdiri dari kepala rumah sakit, kepala unit keperawatan, kepala unit kedaruratan, kepala ruangan rawat inap, perawat IGD, dokter obgyn, kepala ruangan, bidan ruangan Kebidanan, petugas dari PMI, dan keluarga pasien. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, pengamatan langsung, dan kajian terhadap dokumen pencatatan dan pelaporan. Hasil: Kasus maternal yang dirujuk atau yang datang ke IGD biasanya masuk langsung ke bagian kebidanan. Karena beban yang tinggi di unit kebidanan, di IGD jarang tersedia bidan.Pekerja di unit darurat memiliki motivasi kerja rendah. Mereka tidak pernah mendapat refreshing courses terkait dengan pekerjaan mereka. Kerja team di unit IGD berjalan buruk karena telepon yang rusak dan tidak ada operator khusus mengelola komunikasi dengan pihak luar.Unit ini bekerja sendiri.Team work berjalan sangat lemah. Tidak ada kerja sama resmi dengan lembaga mitra rumahsakit. Pertemuan-pertemuan koordinasi jarang dilakukan. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan kasus tentang pengelolaan layanan emergensi maternal di sebuah rumahsakit pemerintah dengan pengawasan yang lemah. Unit emergensi berjalan dengan dominansi kepemimpinan dari dokter yang memiliki multiple jobs. Penelitian ini menegaskan adanya persoalan manajerial yang berdampak serius dalam keselamatan pasien di rumah sakit.Manajer yang tidak full time melemahkan (1) koordinasi antar rumahsakit, (2) menurunkan motivasi kerja tenaga kesehatan, dan (3) melemahkan perencanaan dan implementasi dari sistem logistik dan alat-alat. Saran: Manajer rumahsakit perlu melakukan pemisahan dalam tugas-tugas manajemen klinis dan manajemen dari unit emergensi. Bidan senior perlu dilibatkan secara lebih resmi dan lebih besar dalam manajemen dari unit emergensi. Dengan demikian, bidan senior yang berpengalaman memperoleh status yang lebih jelas dalam mengatur kerja dengan dokter-dokter yang terlibat dalam layanan emergensi maternal. Rumahsakit perlu memperkuat kapasitas komunikasi telepon agar mendukung kelancaran koordinasi antar rumahsakit.
Background: Emergency unit of the General Hospital of Jayapura is the entrance for patients directly to the hospital and referral center in Papua. Because the hospital is located in an area away from the center of the state, the hospital depends on the context of local development. The hospital is located in an area with sparse population and spread over large areas. Due to the limited number of personnel, doctors at the hospital have a lot of tasks outside the hospital. As other government agencies in Indonesia, this hospital has a bureaucratic culture with a very weak supervision. Objective: This study intends to study the emergency room in response to maternal emergencies. This study is expected to provide recommendations in order to improve maternal care. Method: This research is a case study with qualitative data. Respondents consisted of the head of the hospital, nursing unit head, head of emergency unit, head of inpatient rooms, emergency room nurses, OBGYN doctors, head room, midwife Midwifery room, officials from the Red Cross, and the patient's family. Data were obtained through in-depth interviews, direct observation, and a review of documents recording and reporting. Results: Maternal cases referred or who come directly to the ER are sent straight to the maternity section. Midwife are rarely available in the emergency department because of the high burden in midwifery unit. Workers in the emergency unit has a low work motivation. They never got a refreshing courses related to their work. Team working in ER unit went bad because of the broken phone and no special operator to manage the communication with external parties. This unit works alone. Team work goes very weak. There is no official cooperation with partner institutions hospital. Coordination meetings are rarely performed. Conclusion: This study shows the case of maternal emergency services management at a government hospital with weak supervision. Emergency unit running with leadership dominance of physicians who have multiple jobs. This study confirms the existence of the managerial problems that seriously impact on patient safety in hospitals. Managers who are not full time weaken (1) coordination between hospitals, (2) reduce the motivation of health personnel work, and (3) undermine the planning and implementation of logistics systems and equipment. Suggestions: Hospital managers need to separate the tasks of clinical management and the management of the emergency unit. Senior midwives need to be involved in a more formal and larger in the management of the emergency unit. Thus, an experienced senior midwives gain a clearer status in regulating the employment of physicians involved in maternal emergency services. Hospitals need to strengthen the capacity of telephone communications in order to support the smooth coordination between hospitals.
Kata Kunci : Pengelolaan, maternal, rujukan