MUSEUM BATIK DI YOGYAKARTA SEBAGAI PUSAT EDUKASI BATIK DENGAN KONSEP ONE STOP EDUTAINMENT
JUWITA KURNIA I, Dr. Ing. Ir. E. Pradipto.
2013 | Skripsi | ARSITEKTURYogyakarta dengan segala predikat yang disandangnya mulai menunjukkan geliat untuk mempertahankan apa yang telah berhasil diraihnya. Julukan sebagai kota pelajar, kota wisata, dan kota budaya menjadikan tolok ukur untuk meningkatkan fasilitas pendidikan, pariwisata dan kebudayaan yang telah ada. Batik sebagai salah satu ikon yang dianggap mampu menggambarkan pendidikan, pariwisata dan kebudayaan juga mulai dilirik. Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan batik mulai digalakkan untuk menunjukkan eksistensinya. Fasilitas-fasilitas yang berhubungan dengan batik juga mulai terekspos. Sebut saja Kampung Batik Yogyakarta yang berada di kawasan Ngasem. Di daerah ini berbagai fasilitas yang berhubungan dengan batik disuguhkan, mulai dari toko pakaian jadi, toko alat dan bahan, hingga souvenir berbau batik juga ada.Namun dari itu semua, belum ada satu tempat yang bisa dijadikan sebagai tempat edukasi dan wisata mengenai batik yang mampu menjadi pusat di Kampung Batik itu sendiri. Maka dari itu, dalam pengembangan desain dan rancangan Museum Batik di Yogyakarta ini menggunakan konsep One Stop Edutainment. Pendekatan dengan konsep tersebut diharapkan mampu menjadikan museum ini sebagai satu tempat yang menyediakan seluruh fasilitas yang berhubungan dengan batik atau menjembatani fasilitas-fasilitas yang sudah ada, sehingga museum ini mampu menjadi pusat edukasi dan wisata batik.
-
Kata Kunci : -