Laporkan Masalah

PERILAKU MEKANIKA PAPAN LAMINASI BAMBU PETUNG DENGAN METODE KEMPA PANAS SEBAGAI PENGGANTI PAPAN KAYU LAPIS 10 MM

Taufiq Agung Kurniawan, ST., Ashar Saputra, ST., MT., Ph.D.

2013 | Tesis | S2 Mag.Teknologi Bahan Bangn

Meningkatnya kebutuhan perumahan di Indonesia berarti meningkatnya kebutuhan akan bahan baku, salah satunya adalah kayu. Kebutuhan kayu yang berlebihan akan mengakibatkan penebangan kayu hutan dalam jumlah banyak dan membahayakan kelestarian hutan, sehingga perlu dicari bahan bangunan lain sebagai pengganti kayu hutan. Penelitian ini menggunakan bambu petung, dibuat menjadi papan laminasi dengan dimensi 300x300x10 mm. Benda uji dibuat enam tipe berdasarkan waktu dan suhu pengempaan. Papan laminasi bilah bambu disusun 2 lapis saling bersilangan dan pada pengujian masing-masing dibuat tiga ulangan. Tipe 1 dengan variasi suhu 100ËšC dan waktu 428 detik, Tipe 2 dengan variasi suhu 100ËšC dan waktu 503 detik, Tipe 3 dengan variasi suhu 105ËšC dan waktu 428 detik, Tipe 4 dengan variasi suhu 105ËšC dan waktu 503 detik, Tipe 5 dengan variasi suhu 110ËšC dan waktu 428 detik dan Tipe 6 dengan variasi suhu 110ËšC dan waktu 503 detik. Hasil pengujian lentur arah X (MoR A) rata-rata tertinggi sebesar 46,42 MPa adalah pada Tipe 5. Hasil pengujian lentur arah Y (MoR B) rata-rata tertinggi sebesar 79,53 MPa adalah pada Tipe 3. Hasil pengujian lentur arah X (MoE A) rata-rata tertinggi sebesar 4.305,63 MPa adalah pada multiplek. Hasil pengujian lentur arah Y (MoE B) rata-rata tertinggi sebesar 4139,47 MPa adalah pada Tipe 6. Hasil pengujian kuat tarik tegak lurus permukaan rata-rata tertinggi sebesar 0,71 MPa adalah pada Tipe 3. Hasil pengujian kuat geser rata-rata tertinggi sebesar 1,81 MPa adalah pada Tipe 5. Dari hasil perbandingan laminasi petung dan multiplek dapat disimpulkan bahwa laminasi bambu petung tipe 3 dan tipe 5 lebih unggul dari Papan multiplek dan papan laminasi lainnya sehingga kedua tipe papan laminasi tersebut dapat digunakan sebagai pengganti papan multiplek tebal 10 mm yang ada di pasaran.

The increasing demand for housing in Indonesia cause increasing needs of raw material, one of which is wood. Excessive demand for wood will lead to large quantities forest logging and endanger forests sustainability; thereby it needs a substitute of forest wood as building materials. This research used Petung bamboo for laminated board with size 300x300x10 mm. There are 6 types of testing objects according to time and temperature of pressing. Laminated bamboo boards then arranged in 2 plies intercrossing and each was tested three times. Type 1 was treated with 100˚C temperature for 428 second, Type 2 was treated with 100˚C temperature for 503 second, Type 3 was treated with 105˚C temperature for 428 second, Type 4 was treated with 105˚C temperature for 503 second, Type 5 was treated with 110˚C temperature for 428 second, and Type 6 was treated with 110˚C temperature for 503 second. Research result shows that The highest average value for flexural testing result of MoR A is 46.42 MPa, which is the type 5 with board treatment 110˚C 428’. The highest average value for flexural testing result of MoR B is 79.53 MPa, which is the type 3 with board treatment 105˚C 428’. The highest average value for flexural testing result of MoE A is 4,305.63 Mpa, which is multiplex. The highest average value for flexural testing result of MoE B is 4,139.47 Mpa, which is type 6 with treatment 110˚C 503’. The highest average value for flexural testing result of tensile strength perpendicular-to-surface is 0.71 MPa, which is type 3 with treatment 105˚C 428’. The highest average value for shear strength is 1.81 MPa, which is type 5 with treatment 110˚C 428’. Ratio result for petung laminated board and multiplex concludes that petung laminated board type 3 and 5 is better and can be used as replacement of 10 mm multiplex board.

Kata Kunci : Papan laminasi, Kempa Panas, bambu petung


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.