Laporkan Masalah

EVALUASI PENGELOLAAN OBAT MALARIA DI DINAS KESEHATAN KABUPATEN ENDE PROPINSI NUSA TENGGARA TIMUR

NOVITA MARIA MERE, dr. Sulanto Saleh Danu, SP.FK.

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Kabupaten Ende merupakan kabupaten endemis malaria dengan indikator API pada tahun 2011 sebesar 28,89‰. Pengobatan cepat dan tepat merupakan salah satu upaya untuk menekan angka kesakitan akibat malaria.Sehingga diperlukan ketersediaan obat malaria, yang dikelola dengan baik. Dari observasi awal di Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, terdapat primakuin kosong, klorokuin berlebih, dan kina injeksi kadaluarsa yang mengindikasikan belum optimalnya pengelolaan obat malaria yang dilakukan. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pendukung manajemen pengelolaan obat malaria, tahap-tahap pengelolaan obat malaria dan ketersediaan obat malaria. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian jenis deskriptif analitik menggunakan desain studi kasus. Pengumpulan data menggunakan daftar tilik, observasi data sekunder dan wawancara mendalam. Sampling pada puskesmas yang diteliti menggunakan teknik stratified sampling. Data dianalisis dan disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian : Dukungan manajemen pengelolaan obat malaria di Dinas Kesehatan Kabupaten Ende antara lain : Pengelolaan obat malaria belum dilaksanakan satu pintu melalui UPTD GFK, tapi masih melibatkan seksi Farmasi sebagai perencana; distribusi tenaga kefarmasian dan dokter umum belum merata dan belum terlatih, sistem informasi manual, anggaran pengadaan obat malaria berasal dari APBN untuk penyediaan ACT dan APBD II untuk penyediaan non ACT; tidak adanya pedoman maupun SOP pengelolaan obat malaria. Pengelolaan obat malaria: Perencanaan tidak menggunakan data kasus malaria hanya data pemakaian obat, Pengadaan sesuai ketentuan Perpres 54 tahun 2010, Penyimpanan dibedakan berdasarkan sumber anggaran meskipun untuk item obat yang sama, ada distribusi khusus jika stok malaria menipis, Peresepan obat malaria belum sesuai pedoman. Ketersediaan obat malaria antara lain:prosentase obat berlebih tahun 2011 sebesar 56% dan tahun 2012 sebesar 60%, terdapat item obat yang tidak masuk dalam DOEN, Prosentase item obat malaria penerimaan pusat lebih besar dari prosentase item obat malaria pengadaan daerah, waktu kekosongan obat malaria selama 216 hari, Prosentase obat malaria ED sebesar 0-44%, Penyimpangan distribusi obat bervariasi antara 12,5-22%, dan Prosentase Penggunaan ACT bervariasi antara 59%-90% Kesimpulan : Dukungan manajemen pengelolaan obat malaria, proses pengadaan obat malaria dan ketersediaan obat malaria belum optimal karena masih terdapatnya obat malaria kosong, berlebih dan kadaluarsa di Dinas Kesehatan kabupaten Ende.

Background. Ende is an endemic district of malaria with API (Annual Paracite Incidence) on 2011 is 28,89‰. Treatment of malaria effectively and timely needed to increase the morbidity of malaria. So it is important to ensure the availability of malaria drugs, supported by management support and managed properly. Problems found in Pharmaceutical Installation of Ende district are stocks out, over stocks and expired of malaria drugs, indicated the management of malaria drugs has not been impelemented properly. The aims of this research to evaluate the management support, process involved on malaria drugs management, and the availability of malaria drugs. Methods. Evaluation using analytic description method with case study design. Data collected by observation forms, cheklist and in depth interviews. Sampling technique used stratified sampling. Data analized and shown by tables and in naration Results. Management Support evaluated: management of malaria drugs has not followed to one gate policy of drug management through UPTD GFK as a unit of drug management, maldistribution and untrained pharmacists and physicians, system information of malaria drugs manually and not timely, drug budget largely from APBN to supply ACT neeeds and APBD II to supply non ACT needs, there is no guideline for the management of malaria drugs. Process of management malaria drugs evaluated: malaria drugs planning didn’t use data of malaria cases but only the consumption of malaria drugs, procurement followed to PP 54 tahun 2010, storage of malaria drugs apartly by source of different funding, a special distribution when malaria cases increased but depends on access, and inapproriate prescribing malaria drugs to standard guideline of antilamaria. The availability of malaria drugs evaluated: over stocks of malaria drugs are 56% on 2011 and 60% on 2012, there were 3 items of malaria drugs not include in National list of esensial drugs, malaria drugs received by central government more available than local government, stock out of malaria drugs since 216 days, malaria drugs expired variated by 0-44%, the deviation of distribution are 12,5 and 22%, prescribing of ACT as antimalarial recommended on standard guideline of malaria variated by 59%-90% Conclusion. The management support, the process of malaria drugs management and the availability of malaria drugs have not been impelemented properly.

Kata Kunci : Malaria, Pendukung Manajemen Pengelolaan Obat, Tahap-tahap pengelolaan obat malaria, Ketersediaan obat malaria di Dinas Kesehatan Kabupaten Ende


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.