Laporkan Masalah

EVALUASI KERASIONALAN PENGOBATAN DIARE (NON SPESIFIK) DI PUSKESMAS KABUPATEN SLEMAN TAHUN 2011

Erna Widayanti, dr. Sulanto Saleh Danu, Sp.FK.

2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah data dari Dinas Kesehatan kabupaten Sleman, yaitu jumlah kasus diare pada tahun 2011 sebanyak 18.459 kasus (Dinkes Sleman, 2012). Sebagian besar kasus diare yang terjadi adalah diare (non spesifik) yang biasanya berlangsung selama 3-5 hari, pada umumnya akan sembuh sendiri (self limiting) sehingga tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik. Berdasarkan data Ditjen P2PL pusat Jakarta, penggunaan antibiotik tidak rasional pada diare tahun 2011 masih cukup tinggi yaitu 63,4%. Penggunaan antibiotik yang tinggi melebihi standar dapat berdampak negatif yang bahaya yaitu terjadinya resistensi antibiotik. Hal ini mengakibatkan pengobatan menjadi tidak efektif, peningkatan morbiditas maupun mortalitas pasien dan meningkatnya biaya perawatan kesehatan. Dengan demikian, perlu dilakukan penelitian tentang evaluasi kerasionalan pengobatan diare (non spesifik) di Puskesmas kabupaten Sleman tahun 2011. Tujuan: Untuk mengetahui kerasionalan dari pengobatan diare (non spesifik) di Puskesmas kabupaten Sleman tahun 2011. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan rancangan studi kasus. Bahan penelitian adalah buku register atau resep pasien dengan diagnosis diare (non spesifik) di Puskesmas kabupaten Sleman selama Januari-Desember 2011. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Hasil: Pengobatan diare (non spesifik) di Puskesmas kabupaten Sleman tahun 2011 diperoleh hasil rata-rata penggunaan antibiotik 17.2%; oralit 84.5%; zinc 84%. Jika dibandingkan dengan standar yang diberikan Dinas Kesehatan untuk Puskesmas, hasil tersebut masih belum sesuai. Penggunaan antibiotik yang melebihi standar yang diberikan Dinas Kesehatan Sleman kepada Puskesmas, sedangkan penggunaan oralit dan tablet zinc yang belum memenuhi 100% seperti yang diharapkan. Dari hasil yang didapatkan terlihat bahwa belum adanya kesesuaian pengobatan di Puskesmas, sehingga perlu diadakan sosialisasi kepada seluruh Dokter klinis yang ada di Puskesmas kabupaten Sleman dan pedoman pengobatan yang seragam dari Dinas Kesehatan Sleman untuk semua Puskesmas. Kesimpulan: Pengobatan diare (non spesifik) di Puskesmas kabupaten Sleman belum dapat dikatakan rasional, hal ini terlihat pada hasil yang didapat masih tingginya nilai persentase peresepan antibiotik dan belum tercapainya kesesuaian peresepan dengan pedoman pengobatan, rata-rata item obat yang digunakan per lembar resep diluar standar (polifarmasi), pedoman pengobatan yang belum seragam, dan masih adanya penggunaan obat antidiare.

Background: Diarrhea is one of public main health diseases in Indonesia. One of it is the data derived from Sleman District Health Centers. The data shows that total of diarrheas case in 2011 was 18.459 cases (Sleman District Health Centers, 2012). Most diarrhea cases occurred are diarrhea (non-specific) usually took place for 3-5 days, so that it does not require antibiotic treatment since it, in general, will be self-healing. Thus, based on data of General Directorate of Disease Controlling and Environment Healthiness Center (P2PL) in Jakarta, the antibiotic usage was irrational for the 2011 diarrhea, which was high enough (63,4%). Moreover, the usage of over dosage antibiotic can provide dangerously negative effect the occurrence of antibiotic resistance. It can cause ineffective treatment, the increasing of patient’s morbidity or mortality and health cost as well. Consequently, it is necessary to conduct research concerning rational evaluation of the treatment diarrhea (non-spesific) in Sleman District Health Centers in 2011. Purpose: To acknowledge rationality of diarrhea treatment (non-specific) in Sleman District Health Centers in 2011. Method: The present work used descriptive method by case study design. The research’s material is register book or prescribing with diarrhea diagnosis (non-specific) in Sleman District Health Centers on January-December 2011. The data collecting technique, then was retrospectively conducted. Result: In the diarrhea treatment (non-specific) in Sleman District Health Centers in 2011, the rate of antibiotic usage was 17.2%; Oralit was 84.5%; Zinc was 84%. If compared with standard given by health service to Public Health Service, the result had not optimal. The usage of antibiotic was over dosage that was beyond the standard stated by Sleman District Health Centers to Public Health Center, while the usage of oralit and zinc had not met 100% as expected. From the finding achieved, it showed that there was no corresponding usage in Public Health Centers, thus, it was necessary to socialize to all doctors in Sleman District Health Centers and uniformity of treatment guideline from Sleman District Health Centers aimed for all Public Health Centers. Conclusion: The diarrhea treatment (non-specific) occurred in Sleman District Health Centers cannot be said rational. It can be seen from the finding achieved that the percentage value of antibiotic receipt is higher enough and the receipt and treatment guideline have not corresponded yet.

Kata Kunci : Penggunaan obat rasional, Diare, Puskesmas, Sleman


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.