Laporkan Masalah

POTENSI ANTIOKSIDAN DAN ANTIHIPERLIPIDEMIA BUBUK KAKAO (Theobroma cacao L) FERMENTASI DAN NON FERMENTASI PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769)

RINDA BINUGRAHENI, Dr.biol.hom. Nastiti Wijayanti, M.Si.

2013 | Tesis | S2 Biologi

Indonesia merupakan negara penghasil kakao terbesar ketiga di dunia. Penelitian yang telah dilakukan menunjukan bahwa kakao (Theobroma cacao L) mengandung senyawa polifenol antara lain katekin, epikatekin, proantosianidin, dan antosianin yang berpotensi sebagai senyawa antioksidan dan antihiperlipidemia. Kandungan polifenol bubuk kakao sangat tergantung pada kualitas biji kakao dan proses pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi antioksidan dan antihiperlipidemia bubuk kakao (Theobroma cacao L) fermentasi dan non fermentasi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan delapan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari kelompok kontrol, kontrol positif, 3 kelompok uji bubuk kakao fermentasi dan 3 kelompok uji bubuk kakao non fermentasi masing-masing dengan dosis 1, 2, dan 4 gram/kg BB. Tikus diberi diet tinggi lemak selama 8 minggu, dan larutan bubuk kakao diberikan 4 minggu terakhir masa penelitian. Pengamatan pengukuran berat badan dilakukan setiap minggu selama masa penelitian dan uji profil lipid darah dilakukan pada minggu ke-0, 4 dan 8. Sedangkan kadar Malondialdehid (MDA) diukur pada minggu ke-4 dan 8. Hasil penelitian menunjukan kandungan total fenol bubuk kakao fermentasi lebih besar dari pada bubuk kakao non fermentasi. Pemberian bubuk kakao non fermentasi dan fermentasi secara oral mampu menurunkan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, serta meningkatkan kadar HDL walaupun tidak secara signifikan. Sementara itu bubuk kakao fermentasi juga dapat menurunkan kadar MDA, sedangkan bubuk kakao non fermentasi belum dapat menurunkan kadar MDA. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bubuk kakao fermentasi lebih berpotensi sebagai antioksidan dan antihiperlipidemia dibandingkan dengan bubuk kakao non fermentasi.

Indonesia is the 3rd largest cacao-producing country in the world. Based on the researchs, cocoa contain polyphenols (catechin, epicathecin, proantosianidin, and antisoanin), that potentially became antioxidant antihyperlipidemic. Polyphenols in cocoa powder depending on the quality and processing of cocoa beans. The aim of this study was to study antioxidant and antihyperlipidemic potential of fermented and unfermented cocoa powder in rats. Research design using RCD (Randomized Complete Design) factorial with eight treatment and three replication. Experimental rats divided into 8 group (control group, high lipid diet group, 3 unfermented cocoa-group, 3 fermented cocoa-group dose 1, 2, and 4 g /kg body weight). Rats were fed with high lipid diet for 8 weeks and cocoa powder was given orally for 4 weeks from 4 weeks later in experimental days. The level of body weight was measure at every week during experimental days and lipid profile was measure at 0, 4 and 8 weeks. Whereas malondialdehyde (MDA) level was measure at 4 and 8 weeks. The results showed the total phenolic content of fermented cocoa powder is greater than the unfermented cocoa powder. Fermented and unfermented cocoa powder decreased serum total cholesterol, LDL, triglicerides, and increased HDL levels. On the other hand, fermented of cocoa powder also can decreased serum MDA, but unfermented of cocoa powder can’t decreased that. This result indicate that fermented cocoa powder is more potent as an antioxidant and antihyperlipidemic compared with unfermented cocoa powder.

Kata Kunci : bubuk kakao fermentasi, bubuk kakao non fermentasi, antioksidan, antihiperlipidemia, Malondialdehid (MDA)


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.