DARI MASJID KE PANGGUNG POLITIK; Studi Kasus Peran Pemuka Agama dan Politisi dalam Konflik Kekerasan Agama antara Komunitas Sunni dan Syiah di Sampang Jawa Timur
Muhammad Afdillah, Zainal Abidin Bagir, Ph.D
2013 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaPenelitian ini dimaksudkan untuk mentelaah konflik kekerasan antara komunitas Sunni dan Syiah di Sampang Jawa Timur. Sejak 2006, peristiwa konflik kekerasan ini terus bereskalasi dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya; dari hanya demonstrasi anti-perayaan maulid Nabi pada awal tahun 2006 dan 2011 hingga ke peristiwa penyerangan, pembakaran rumah, dan pengusiran warga Syiah pada akhir tahun 2011 dan pertengahan tahun 2012. Meski demikian, belum ada penjelasan yang memadai dari para peneliti, intelektual, dan pemangku kebijakan. Penelitian ini selanjutnya dimaksudkan untuk mengisi celah kosong yang telah dilakukan oleh mereka yang tertarik pada persoalan ini. Dengan menggunakan metode process-tracing, peneliti menguji lima hipotesa yang diambil dari beberapa hasil penelitian dan opini di media massa, yaitu: (1) konflik keluarga; (2) perebutan pengaruh keagamaan di masyarakat; (3) ekonomi; (4) politik; dan (5) penistaan agama. Metode ini kemudian digabungkan dengan konsep eskalasi konflik dari Colclough (2012), tiga pendekatan kekerasan agama dari Hasenclever dan Rittberger (2000), dan mekanisme kausalitas suatu kekerasan dari Galtung (2007) dan Brand-Jacobsen (2002). Setelah melakukan penelitian mendalam, dapat disimpulkan bahwa (1) bahwa lima hipotesa yang ada meski saling melengkapi satu sama lain hanya dapat menjelaskan kekerasan fisik saja; oleh karenanya (2) kelimanya tidak bisa melihat kekerasan yang lebih besar, yakni kekerasan struktural dan kultural terhadap komunitas Syiah di Sampang.
This article attempts to account for the religious violence against Shia community in Sampang East Java. Since 2006, the violence has escalated from one event to another; from the demonstration of anti-Shia maulid celebration in early 2006 and 2011 to the fire of Shia leaders’ houses in the end of 2011, and of Shia members’ houses in the midst of 2012, and finally to the expulsion of Shia community of this region outside the island. Nevertheless, none of scholars, intellectuals, researchers, policy makers or those who are related to this issue can answer “what causes the violent conflict†comprehensively. Having utilized process-tracing method, I examine five hypotheses which can be found in previous researches and mass media, they are: (1) family conflict; (2) the fight for religious influence in the society; (3) economic issue; (4) political issue; and (5) a contempt of religious belief. I combine this method with conflict escalation concept of Colclough (2012), three perspectives of religious violence by Hasenclever and Rittberger (2000), and causal mechanism of conflict by Galtung (2007) and Brand-Jacobsen (2002). This research found that (1) that the five hypotheses, although they all complement each other, could only explain the physical violence; and, therefore, (2) they could not see the greater violence beyond the physic, which are structural and cultural violence against Shia community in Sampang.
Kata Kunci : process-tracing, mekanisme kausalitas konflik, konflik kekerasan agama, Sunni-Syiah di Sampang