Laporkan Masalah

Menelusuri Kreatifitas dalam Koba Panglimu Awang; aspek pergelaran, peristiwa, suara, dan mistisisme

Junaidi Syam, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.,

2013 | Tesis | S2 Antropologi

Variabel penelitian ini adalah; (1)pergelaran koba terdiri atas; aspek narasi, mediasi suara, dan iringan bebunyian (musik), (2)peristiwa koba; suasana yang dibangun bersama antara performer dengan audiens, dan (3)mistisisme; tentang magi yang digunakan tukang cerita untuk menguasai peristiwa pergelaran, suara, dan audiens. Ketiganya berurusan dengan kreatifitas untuk membangun daya tarik (interest) dan pesona (enchantment), berupa upaya-upaya, teknik-teknik dan metode-metode yang akan dianalisis menggunakan teori formula-fomulaik Lord dan metode interkontekstual (intertextuality) untuk menjelaskan realita dan fenomena tentang kreatifitas agar lebih mudah diidentifikasi. Aspek penting dalam kreatifitas pergelaran koba adalah keterlibatan mistisisme, konsep-konsep ilmu suara, dan magi sebagai mediasi untuk membagun rasa percaya diri untuk tujuan pergelaran maupun untuk menghadapi ancamanancaman. Aspek keunikan koba dibangun menggunakan filler-filler variatif pada tataran narasi, suara lantunan, relasinya dengan audiens dan tukang jopuik koba. Kreatifitas koba dibangun bersama antara tukang cerita dengan audiens dan masyarakatnya, berbasiskan norma-norma komunal, oleh sebab itu peran apresiatif maupun kontradiktif sangat mempengaruhi kreatifitas tukang cerita. Penjagaan batas-batas normatif dalam masyarakat menjadi aspek penting yang tidak layak diabaikan oleh tukang koba. Faktor keterputusan bahasa antar generasi, dan perkembangan zaman dengan kuatnya arus pengaruh media, teknologi, sosial politik mutakhir hari ini, mau tidak mau dan pasti akan merubah mindset masyarakat secara meluas, dan berdampak pada kualitas maupun kuantitas audiens. Regresi minat audiens terhadap koba berdampak cukup besar pada semangat dan kreatifitas berkoba. Setidak-tidaknya Pak Taslim telah mengupayakan strategi perimbangan dengan cara membangun grup koba untuk merengkuh kuantitas jumlah bilangan audiensnya. Meskipun akhirnya upaya tersebut gagal di tengah jalan. Peran magi dan mistifikasi teknis mempunyai dampak signifikan terhadap kualitas pergelaran, maupun penciptaan kreatif. Soal konsep-konsep unik dan khas yang dibangun oleh masyarakat intlektual semasa memainkan peranan yang cukup besar mendukung hidupnya wilayah tradisi lisan tersebut. Akhirnya diperolehlah satu kesimpulan bahwa koba adalah sastra lisan kreatif yang dibangun berdasarkan relasi antara tukang cerita, audiens, dan masyarakatnya. Kreatifitas koba diasuh dan dibina dalam jangka waktu yang cukup panjang dengan penuh kesabaran. Seorang tukang koba akan berusaha memenangkan kontestasi dan memperoleh pengakuan hak penciptaan kreatif dengan cara bersandar pada mimpi, nasab, magi, unifikasi, dan penguasaan konsep-konsep mistik. Sedangkan rasa percaya diri harus bulat utuh agar seorang tukang koba mampu menjadi seorang tukang koba ahli yang terbebas dari rasa kurang yakin, kurang nyaman, syak wasangka, dan menghilangkan gentar takut, agar sepenuhnya bisa melantunkan koba dengan kemampuan maksimal, ekspresif, kreatif dan beradab, demi untuk menciptakan daya tarik dan berbagi kenikmatan bersama.

The variables of this study are: (1) performance koba; aspects of narrative, mediation voice, and accompaniment with music, (2) event; atmosphere that was built jointly by the performer with the audience, and (3) myths; concerning the magi used for master storyteller performances, in sound, and to the audience. All three deal with the creativity to build attraction (interest) and charm (enchantment), in the form of efforts, techniques and methods that will be analyzed using the theoretical formula-fomulaic Lord and interkontekstual (intertextuality) methods, to explain the reality and the phenomenon of creativity to. Important aspect of creativity is involved by myths in koba performances, mistifikasi teknis, and magic as mediation to build their confidence for the purpose of performance as well as to deal with the threats. Unique aspects in koba built using fillers varied at the level of narration, chanting voice, and relationship with the audience and tukang jopuik koba. Creativity koba built jointly between the storyteller and the audience communities, based on communal norms, and therefore the role of appreciative and contradictory, influence for storyteller creativity. Guarding the boundaries of normative in society become an important aspect that is not feasible ignored by tukang koba. Disconnect language between generations, and the strong currents of the age with the influence of media, technology, political and social current today, certainly changing the mindset of society in widespread, and the impact on the quality and quantity of audience. Regression to the audience’s interests of koba, had significant impact on the vibrancy and creativity of cahnting. At least Pak Taslim has sought the balance by way of building koba group to embrace the quantity of audience numbers. Although these efforts ultimately failed in the middle. The role of technical magic and mystification have a significant impact on the quality of performances, as well as creative creation. About the concepts of unique and distinctive built by the intelligent during plays a significant role supporting the oral tradition. Finally a conclusion is obtained that is creative oral literature that builds upon the relationship between the story-teller, audience, and community. Koba creativity nurtured and fostered in a fairly long period of time with patience. A handyman koba will attempt to win recognition of rights contestation and obtain creative creation by relying on dreams, lineage, magic, unification, and control of mystical concepts. While self-confidence must be intact for a handyman round koba, able to become an expert who is free from feeling less confident, less discomfort, suspicion, and eliminate trembling fear, in order fully to chanting koba to its maximum capability, expressive, honorable, in order to create attraction and sharing pleasure together.

Kata Kunci : tradisi lisan, kreatifitas, teknik sura, relasi dengan audiens, mistisisme, konsep lokal, Sungai Rokan.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.